Berbagi pengalaman (1)

Yuhuu, selamat datang bagi para pengunjung blog, baik yang tidak sengaja masuk lewat googling maupun yang sengaja mau meluangkan waktu sejenak di blog ini. Hehehe. Pada artikel sebelumnya, saya lebih sering mengulas artikel mengenai teater, game, hiburan, dll. Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin share dan semoga bermanfaat bagi rekan-rekan.

Mungkin sebagian dari kalian pernah mengalami apa yang terjadi dalam dunia kerja, termasuk saya. Sebelum saya masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan, saya bekerja sebagai operator warnet di salah satu Kota Sukabumi. Kok kerja ? Nah gini temen-temen. Pasca lulus SMA saya berusaha dengan maksimal untuk masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan yang saya minati saat itu, ada total 4 sekolah Perguruan Tinggi Kedinasan yang saya coba, dan berakhir dengan kegagalan satu persatu.

Karena nihilnya hasil yang saya terima, pasca ujian masuk. Saya sempat berpikir, lanjut ke perguruan tinggi swasta, les, atau kerja. Dari tiga pilihan itu, dengan pemikiran yang cukup matang, pada akhirnya saya lebih memilih ke dunia kerja dengan resiko, kemampuan akademik kemungkinan akan turun karena jika bekerja otomatis waktu belajar kosong. Dan terbukti, lebih dari 6 bulan semenjak Agustus 2010 hingga Februari 2011, saya sama sekali tidak membuka buku SMA. (Please, dont try at home, hhe). Ya 6 bulan waktu bekerja itu bagaikan penurunan kualitas kemampuan saya dalam hal akademik.

Kerja sebagai operator warnet selama 6 bulan, tidak mudah sepandang kasat mata. Mungkin rekan-rekan melihat pekerjaan operator warnet, hanya duduk manis di depan pintu dan bertugas sebagai kasir pembayaran para user. Tidak cukup hanya itu. 😀 dari pekerjaan operator warnet, saya dituntut untuk menjaga barang-barang yang berada di warnet, menjaga ketentraman, menjaga sopan santun (tentunya), menjaga ini dan itu. Selain itu, saya sebagai operator warnet, harus sudah siap mental menerima semprotan keluh kesah dari berbagai pelanggan, tentang loading lama, headset gak nyala, web cam ga jalan, print out jelek, bla, bla, dan bla. Sabar. Ya itulah kuncinya menghadapi para pelanggan, ahha.

Pelanggan di warnet saya memang dari berbagai umur, gender, sifat, sikap yang berbeda satu sama lain. Dari itu semua, saya harus bisa menyesuaikan dengan berbagai karakter orang bahkan rasanya sedikit demi sedikit, saya dapat memahami karakter orang sesuai penampilannya. Oke saya potong, mungkin dari rekan-rekan belum pada tau tentang halk ini, saya sedikit kasih bocoran supaya rekan-rekan berhati-hati saat membrowsing di warnet. Si operator warnet dapat mengetahui apa yang dibuka oleh pelanggannya dari Billing Explorer, misal jika saya ingin mengetahui si A  sedang mengakses apa yang berada di komputer paling pojok dengan mudah saya klik “….” di Billing dan eng ing eng….. Saya tau apa yang dia buka, ahha.

Dari hal tersebut, saya mempelari karakter dari setiap muka pengunjung sebelum masuk warnet dan sesudah masuk warnet lalu saya bandingkan dengan situs yang telah si pelanggan buka. Sesuatu sekali. Ya, mungkin ada beberapa oknum, (mohon izin) yang membuka situs aneh-aneh. Tapi ironinya, saya menemukan kumpulan bocah SD dan malah terlihat seperti bocah TK sedang asik membuka situs parah untuk mereka lihat. Sumpah, saat baru pertama kali ada kejadian seperti itu saya kaget. Kok bisa rombongan bocah TK mengakses situs yang tidak seharusnya mereka akses. Dari kejadian itu, saya sebenarnya salah yang sampai saat ini saya menyesal tidak perbuat, yaitu saya tidak menegur mereka. Yang bisa saya perbuat saat itu hanyalah diam-diam mematikan komputer mereka dari PC Operator, ya walaupun sengaja saya matikan komputer mereka, parahnya mereka hidupkan dan mengaksesnya lagi. Ckckck.

Saat itu, saya hanya bisa prihatin. Sebenarnya ada niat buat sidak mereka dan melaporkan pada orang tua mereka, tetapi yah… saya hanya orang yang dikerjakan untuk menjaga ketertiban warnet, bukan menyidak oknum oknum cacat mental.

Dan merekapun terus dan terus berlanjut mengunjungi warnet tempat saya bekerja. Sampai saya keluar dari warnet itu, entah bagaimana kabar mereka. Semoga suatu saat mereka kepergok dan dapat pelajaran dari orang tuanya. Hohoho!!!

Oke ini baru cerita awal, cerita selanjutnya saya akan menceritakan kisah nyata konflik batin TERBESAR sepanjang saya hidup. Tunggu kisahnya, hihihi.

Ini foto yang diambil di mantan tempat kerja.

 

*,* kisah siapa yang paling hebat *,*

Nih ada kisah inspirasi yang kebetulan ketemu saat saya browsing.. Saat saya pasang status berisi kisah ini di facebook, sampai 23 like this. HHe,, Oke monggo dibaca…

WIKIPEDIA : Aku tau semuanya.
FACEBOOK : Aku kenal dengan semua orang.
GOOGLE : Aku punya semuanya.
MOZILA : Tanpa aku kalian tidak bisa di akses.
EXPLORER : Kan gue masih ada.
MOZILA : Apaan sih lo, ganggu acara orang aja!
EXPLORER : Lo sih, ngaku-ngaku cuma ada lo sendiri!
INTERNET : Udah-udah! Jangan banyak bacot lo semua, kalo gak ada gue kalian semua gak bakalan ada!
FACEBOOK : Huuu, yang paling sering dikunjungi kan gue, jadi gue yang terbaik.
YAHOO : Facebook, Inget, tanpa gue lo gak bisa buat Email!
GOOGLE : Yahoo, Gue juga bisa buat Email.
INTERNET : zzz… Udah tau gue yg paling hebat :p
KOMPUTER : Gua Paling dewa di sini.
PLN : Bacot lo semua! Gua matiin nih listriknya!
GENSET : tenang aja kan masih ada saya
PLN : diem lu
PERTAMINA : awas kalian semua, saya stop pasokan BBM baru tau rasa lo
SOLAR CELL : tenang kan selama masih ada saya semuanya aman
Matahari : Ettt Gk gw sinarin diem lo
Air, Batubara, Petir dll : MASIH ADA GUA !!!
Bumi : Lo klo gk ada gw pasti gk bakal ada
jagat raya: lo semua kalo gak ada gwe pasti kalian gak bakalan ada….
Tuhan: tanpa Saya kalian semua tidak pernah ada

Ya dari itu semua, bisa diambil maknanya. Sesombong apapun yang kalian punya, pada akhirnya kalian harus sadar bahwa ada yang lebih tinggi dari kalian, ya Tuhan Yang Maha Esa. :D oke oke oke cuy

Game Tantangan Penantang Terakhir Tiga

Ikut game Penantang Terakhir, saya pernah mengikuti 3 kali game tantangan. Dan tiga-tiganya berhasil saya menangkan mengalahkan saingan-saingan di sepuluh besar. Ini foto pertama.

Lomba mirip cecep untuk cowoknya, untuk ceweknya lomba mirip betty lapea. Lomba ini diadakan di babak 10 besar, dengan foto ini saya mendapatkan tiket aman dan berhasil melaju ke babak 9 besar. Padahal pada saat itu, perolehan hasil vote inbox saya termasuk yang paling rendah.

Dan ini foto kedua saya untuk bertarung memperebutkan tiket aman, disuruh berkreatifitas dengan bahan coklat bunder-bunder…Saya ambil sampel cha cha… dan eng ing eng…..

Foto kedua ini berlangsung pada babak 9 besar. Lagi-lagi saya terselamatkan dengan tiket aman, karena jika saya tidak berhasil memenangkan game tantangan, sudah pastinya saya berada di 3 posisi terendah calon terekstradisi. Dan dengan foto ini, mengantarkan saya ke babak 8 besar.

Dan inilah foto ketiga yang cukup ekstrim, karena saya berdandan ala badut. Alhamdulillah foto ini mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa dari juri dan peserta lain,, hhe .

Foto di babak 8 besar ini adalah game tantangan terakhir di Penantang Terakhir Tiga. Dan diakhiri dengan 3 kemenangan beruntun mendapatkan tiket aman dengan mengikuti game tantangan sehingga dengan mudah mengantarkan saya ke 7 besar.

Sayang di babak 7 besar, tidak ada tantangan, sehingga nilai voting yang saya peroleh tidak bisa menyelamatkan saya masuk ke babak 6 besar. 😦

Sekian, sepetik pengalaman seru di game Penghuni Terakhir versi Facebook. 🙂

Game layaknya Petir atau BBI merajalela di Facebook

Banyak sekali game bermunculan di facebook yang mengadaptasi reality show Penghuni Terakhir atau Big Brother Indonesia. Misal game yang paling tenar adalah Penantang Terakhir di facebook. Dalam game tersebut, terdapat posisi jabatan bos, pemegang kunci dan imun. Berbeda sedikit dengan Penghuni Terakhir, game Penantang Terakhir terdapat Game 3 save dan game tantangan yang merupakan tiket aman.

Fenomena ini jelas membuktikan bahwa game yang dibuat oleh entertainer papan atas, Helmy Yahya telah berhasil membuat sebagian besar yang kebanyakan kaum remaja, membuat game yang sama di kalangan Facebook.

Hadiah yang ditawarkan cukup menarik, sesuai kantong pembuat acara. Misal game Kunci Terakhir yang dimenangkan oleh Muhammad Afris asal Bandung. Lelaki berdarah palembang tersebut mendapatkan sebuah vocher pulsa Rp.50.000 . Selain itu pemenang kedua dan ketiga, yang masing-masing didapatkan oleh Muhammad Arif Ali Wasi asal Sukabumi, dan Rafi Vanshuri asal Bekasi, mendapatkan vocher pulsa masing-masing Rp.25.000 dan Rp.10.000.

Selain pulsa hadiah  lain dari game berbeda yang ditawarkan cukup menarik peminat facebookers Nusantara. walau hadiah yang ditawarkan hanya sebatas kantong para admin atau pembuat game, tetapi permainan tiap permainan tentu membuat para gamers ketagihan. Banyak sekali tantangan yang diberikan untuk menguji ketangguhan kalian bersama para gamers.

Salah satunya Game Penantang Terakhir Tiga. Game Tantangan atau Game yang memperebutkan tiket aman, disuruh untuk meniru badut, superhero, ataupun jenis hantu, Selain tantangan itu pula, kreatifitas peserta diuji dengan membuat kreasi yang terbuat dari bahan coklat. Dan pada akhirnya pemenang Game Penantang Terakhir tiga dimenangkan oleh Muhammad Afris asal Bandung, dan Riesty Widya putri dari Bali sebagai Runner up.

Tentu menyenangkan, selain untuk mengisi waktu luang, mengikuti game ini pula dapat memperbanyak jaringan komunikasi kita di dalam dunia maya.

Coba dan ikuti.

Tiga Film versi My Name Is Ali yang patut anda tonton ! (2012)

Berikut tiga film favorit  yang sangat baik untuk ditonton.

1. I Not Stupid Too

Baik, pilihan pertama jatuh kepada film yang berasal dari Singapura. Film ini cukup membuat mata kita berlinang, bahkan bisa saja membuat para penontonnya menangis haru. Semua itu karena pesan dan hikmah yang tertuang di dalam film tersebut sangat menyentuh para penontonnya. Kok bisa gitu? Ya. Film ini pada awalnya mengisahkan konflik antara orangtua dan anak, dimana orang tua itu ingin menjadikan anaknya yang terbaik, hanya saja cara penyampaian yang orangtua berikan terasa kurang tepat dan kurang pas di hati anak.

Yang pasti film ini sangat dianjurkan untuk ditonton oleh orangtua, anak, dan guru. Karena selain mengisahkan konflik antara orangtua dan anak di dalam film ini terselip pesan kepada guru untuk lebih bijak menghadapi murid.

Berikut cuplikan kata-kata akhir dalam film “I Not Stupid Too”

(Semua orang punya kunci didalamnya. Ketika kita muda, ada banyak keberanian dan pujian. Untuk membantu kita menghadapi rintangan. Kita tidak pernah sadar betapa beruntungnya kita waktu itu. Sesuatu berubah seiring waktu. Pujian dan semangat berubah ketika kita dewasa. Semua orang menutup dirinya sendiri. Memberi keberian dan pujian, melihat kebaikan orang lain. apakah itu sulit? Semua orang perlu semangat. Tapi kenapa terkadang kita takut untuk memberikan pujian?

Di dalam setiap anak ada malaikat dan setan. Cari malaikatnya dan kualitas terbaik akan muncul. Tidak banyak kebenaran dalam mengatakan, “sumber daya yang digunakan secara salah akan menjadi sia-sia” dan “sampah yang digunakan dengan benar akan menjadi sumber daya”

Apresiasi adalah kekuatan luar biasa…kekuatan luar biasa ini mungkin menjadi hasil dari kata-kata yang kau katakan, atau tindakan, atau ekspresi kecil. Kau tidak tahu apa yang sudah kau ubah…”)

2. 3 Idiots

Siapa yang belum pernah menonton film yang satu ini? Film ini cukup populer di India, Indonesia bahkan bisa dibilang mendunia. Film yang diperani tokoh utama Amir Khan ini sukses membuat para penonton bercampur emosi. Pesan yang dibawakan dengan cara humor, tindakan si tokoh, bahkan terselip dalam setiap kalimat, membuat para penonton setianya terbawa ke berbagai perasaan di setiap adegannya.

Film ini kaya akan pesan moral khususnya dalam bidang pendidikan dan film ini dibawakan dengan sangat-sangat-sangat baik. Ada susasana keceriaan disetiap adegan yang dibawakan Rancho (Amir Khan), kisah persahabatan, kisah romantis, dan tentunya adegan mengharukan yang pastinya ada hikmah di balik adegan demi adegan yang disajikan.

Secara keseluruhan film ini luar biasa, terutama pesan dan moral pada kisah persahabatannya. Gak rugi deh, nonton film ini untuk anda yang anti film India. 😀

 “Seberapa besarpun masalah, yakinkan hatimu bahwa semua pasti baik baik saja, dengan begitu hatimu bisa tenang”

“Insinyur itu orang-orang pintar, tapi mereka belum bisa menemukan alat untuk mengukur tekanan mental”

“Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan kita”

“Hidup ini seperti perlombaan, kalau kalian tidak cepat, kalian akan kalah”

“Hati kita itu mudah takut, yang penting bagaimana cara kita meyakinkan hati kita jika semua itu pasti akan baik-baik saja”

“Give me some sunshine. Give me some rain. Give me another chance. I wanna grow up once again”

“Ini universitas. Bukan panci masak bertekanan tinggi yang hanya membuat pikiran orang tertekan.”

“Jangan belajar untuk menjadi kaya saja. Tapi belajarlah menjadi ahli”

“Untuk apa mempublikasikan kelemahan orang didepan umum”

“Tingkatan hanya menciptakan perpecahan”

“Melihat teman kita tidak lulus itu sangat menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan jika dia jadi yang terbaik.”

“Kau yang memulainya, tapi kau juga yang harus mengakhirinya”

“Jangan mengejar kesukseskan. Jadilah insinyur hebat, dan kesuksesan akan menghampirimu. “

“Itulah akibatnya bila menghafal tanpa memahami. Kau akan menghabiskan 4 tahun untuk belajar & 40 tahun utk menyesali”

“Buat yang menjadi hobimu, menjadi pekerjaanmu, dengan begitu kau akan bekerja seperti bermain.”

3. My Name Is Khan

Film ini cukup luar biasa populer dan mendunia. Pembuatan film ini dilakukan di dua negara, yaitu India dan Amerika. Film ini telah menyedot perhatian dunia, bahkan di Jerman, pemesan tiket perdana secara online langsung diserbu oleh masyarakat Jerman dan habis dalam waktu 5 DETIK !!! ih waw.

Film  yang diperankan oleh Shahrukh Khan dan Kajol ini memberikan banyak pesan moral khususnya tentang sebuah perdamaian dan kemanusiaan. Pesan kemanusiaan yang dibalut dengan sebuah perjuangan gigih tersebut menggugah banyak orang untuk menjadikan dunia ini lebih baik, untuk menghapus image buruk yang terstempel pasca peristiwa September kelabu itu dan ingin menyatakan bahwa umat muslim itu sesungguhnya cinta damai dan anti pada kekerasan yang telah berhasil diperankan dengan baik oleh Khan dalam film tersebut.

Selain itu, konflik yang terjadi dalam film ini adalah dengan kehilangannya putra dari Mandira (Kajol) karena putranya teraniaya dan akhirnya terbunuh disebabkan nama ayah angkatnya, Khan dan merupakan Muslim.

Perjuangan panjang Rizwan Khan untuk menemui Presiden Amerika pun sangat banyak akan pesan moralnya. Karena pada intinya dia akan menyampaikan, “My Name Is Khan, I’m not a Terorist”.

Sekian Tiga Film Favorit Versi My Name Is Arif. Semoga menjadi bahan referensi untuk rekan-rekan sekalian yang belum nonton, agar segera menontonnya. 😀

Menggenggam Dunia – (18) Tak Ada Kata Mustahil

Pengumuman tinggal beberapa saat lagi, beberapa pesertapun mulai merasa ketegangan atas hasil yang mereka capai. Semua peserta, para pendamping dan penonton dikumpulkan dalam satu ruangan luas tempat gedung olahraga, sehingga menimbulkan suara sangat bergemuruh saking banyaknya para penonton yang hadir diluar pendamping dan peserta. Aku duduk bersama teman-teman Rahmat, sedangkan Rahmat bersama Pak Romli yang berdampingan dengan para peserta lain.

“Selamat Siang, semuanya.” Ucap salah seorang dari panitia di atas pangung yang terdengar dari speaker. “Baik, kami ucapakan terimakasih atas kehadiran Bapak dan Ibu serta anak-anak yang akan menjadi penerus Bangsa. Di sini kami akan membacakan peserta yang lolos ke babak selanjutnya, setelah mengikuti ujian tertulis yang diikuti oleh dua puluh delapan peserta dari perwakilan daerah. Peserta yang lolos ke babak selanjutnya sebanyak dua belas orang, dimana peserta selanjutnya akan mengikuti babak cerdas cermat meliputi semua mata pelajaran.”

Terdengar gemuruh suara tepuk tangan dari hadirin yang berada dalam ruangan itu.

“Baik, langsung saja kami umumkan satu persatu peserta yang lolos ke babak selanjutnya sesuai peringkat atas ujian tertulis. Peringkat pertama, kami ucapkan selamat kepada Fauzi Nurwenda dari SD Gentra.” Ucap panitia disertai suara tepuk tangan dari para penonton yang hadir. “Kepada Fauzi silahkan naik ke atas panggung. Selanjutnya, wakil dari SD Negeri Pajajaran yaitu Taufik Hidayat.”

Suara gemuruh kembali terdengar dari penonton yang hadir, untuk peringkat pertama dan kedua memang tidak mengejutkanku karena mendengar dari cerita Pak Romli, mereka berdua layak dijagokan untuk mewakili Tingkat Kota ke Tingkat Provinsi.

“Baik, selanjutnya peringkat ke tiga dalam ujian tertulis, jatuh kepada wakil dari SD Gentra yaitu Arif Saputra silahkan untuk naik ke panggung.” Kembali suara gemuruh penonton bertepuk tangan mengikuti langkah Arif menuju panggung.

“Kami ucapkan selamat kepada tiga besar peserta yang berhasil dalam ujian tertulis. Sebagai penghargaan, kepada tiga besar peserta akan mendapatkan sebuah bingkisan dari sponsor pada akhir acara. Kami lanjutkan kembali, untuk peringkat keempat dan kelima jatuh kepada Dewangga Aditya dari SD Negeri Pajajaran dan Kiki Haqiqi dari SD Babakan Sirna. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Suara tepuk tangan kembali membahana untuk mereka yang dipanggil oleh panitia. Sudah lima peringkat yang dipanggil, dan masih ada harapan untuk Rahmat melengkapi dua belas peserta.

“Selanjutnya peringkat enam dan ketujuh, jatuh kepada perwakilan dari SD Baros Kencana yaitu Devi Sohifah dan Aldita Kumara dari SD Dewi Sartika. Kami persilahkan untuk naik ke panggung.”

Tinggal lima peserta lagi yang belum dipanggil, perasaanku diliputi harap-harap cemas dan berharap Rahmat dapat masuk dalam lima peserta yang belum dipanggil.

“Selanjutnya peringkat delapan dan kesembilan jatuh kepada perwakilan dari SD Pakujajar yaitu Adesti Pratiwi dan Hani Fauziah dari SD Brawijaya. Kami persilahkan untuk maju ke panggung.”

Tiga peserta lagi untuk melengkapi dua belas besar, peluang Rahmat semakin kecil karena dari sembilan belas peserta yang belum terpanggil hanya terpilih tiga orang peserta untuk melengkapi dua belas besar. Semoga tiga nama yang akan disebut, salah satunya adalah Rahmat.

“Dan tiga peserta terakhir adalah, Rahmat Dipraja dari SD Harapan, Geri Tria Irawan dari SD Kopeng, dan Romlan Satria dari SD Nusa Bangsa. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Rahmat disebut oleh panitia dan berada di posisi sepuluh besar, tak ayal pengumuman terakhir itu membuat rasa harap-harap cemas berubah menjadi bahagia yang tiada kira. Aku bersama dengan teman-teman Rahmat bersorak gembira mendengar nama Rahmat masuk dalam babak selanjutnya. Aku yakin Pak Romli pasti bangga pula atas prestasi Rahmat yang sempat diragukan oleh rekan-rekan guru, karena hal itu merupakan untuk pertama kalinya untuk wakil dari sekolah tembus babak dua belas besar yang tak pernah dicapai semenjak diadakan lomba murid Teladan Tingkat Kota.

“Sekian pengumuman dari kami, terima kasih.” Ucap panitia mengakhirinya.

 

***

Aku bersama teman-teman Rahmat mengahampiri Pak Romli yang sedang berbincang dengan seorang pendamping peserta.

“Eh, Mas Arkan.” Sambut hangat Pak Romli yang terpancar kebahagian dari raut mukanya.

“Saya ingin bertemu dengan Rahmat, bisa Pak?” harapku.

“Wah, sepertinya sulit Pak. Tadi saya dapat pengumuman dari panitia, bahwa yang berhasil masuk dua belas besar akan langsung diamankan dalam arti jangan sampai pihak luar berusaha berkomunikasi dengan peserta sampai waktu yang telah ditentukan.” Ujar Pak Romli.

“Loh, kenapa Pak?”

“Karena itu mekanisme dalam peraturannya, Mas. Peserta yang lolos tidak bisa diberi kesempatan lagi untuk belajar dan langsung menuju pertandingan di cerdas cermat di babak kedua. Lalu saya dapat kabar juga, nanti babak selanjutnya dari dua belas peserta itu akan dibagi menjadi empat kelompok, jadi setiap kelompok ada tiga orang dan tiap kelompok itu hanya satu yang dapat tembus babak final. Saat ini, undian peserta lagi ditentukan dimana ditiap kelompok itu akan diwakili oleh empat besar dari peringkat ujian tertulis.”

“Sudah ditentukan, Pak?”

“Akan ditentukan sesaat lagi, Mas Arkan silahkan tunggu diruang penonton bersama Saiful dan yang lain untuk menyemangati Rahmat dari bangku penonton.”

Terlihat pihak panitia menghampiri para pendamping memberikan selembar kertas.

“Nah ini dia, masing-masing kelompok yang akan bertanding di babak kedua. Rahmat sekelompok dengan Arif yang berada di peringkat tiga dan Aldita peringkat tujuh.” Ucap Pak Romli dengan mimik yang sedikit pesimis.

“Boleh saya lihat kertasnya, Pak?” ucapku.

“Silahkan.”

Pak Romli memberikan lembaran kertas itu padaku. Selain Rahmat yang menjadi pusat perhatianku, aku mencari nama Fauzi yang telah memenangi peringkat pertama dalam ujian tertulis. Fauzi sekelompok dengan peringkat enam dan sebelas. Tak ada yang meragukan lagi, aku yakin Fauzi akan lolos ke tahap berikutnya. Sedangkan kelompok lain mempertemukan Taufik bersama peringkat sembilan dan dua belas, serta kelompok terakhir mempertemukan Dewangga, Kiki dan Adesti.

Dari hasil undian itu memang cukup sulit untuk tembus ke babak final. Menang ataupun kalah hal itu cukup menjadikan pengalaman yang berhaga untuk Rahmat, walau kesempatan ke final hanya satu berbading tiga tapi aku meyakini tak ada kata mustahil untuk menciptakan sebuah keajaiban.

 

***

 

Lomba Cerdas Cermat diadakan serempak untuk setiap kelompok diruangan yang berbeda. Aku bersama dengan Saiful dan kawan-kawan tak ada hentinya menyemangati Rahmat walau hanya berupa bahasa isyarat, karena penonton tidak diperkenankan untuk mengganggu peserta.

Aku melihat Rahmat terlihat agak sedikit gugup untuk memulai perlombaan ini dibanding dengan Arif yang sudah terbiasa mengikuti lomba. Disisi lain Aldita, seorang gadis cilik berambut panjang itu tampak pasrah dan terlihat selalu menunduk ke bawah, entah karena malu, grogi, ataupun tanda siap untuk mengibarkan bendera putih pada lawan-lawannya.

“Selamat Siang.” Ucap juri membuka perlombaan. “Selamat kepada para peserta yang berhasil lolos ke babak kedua. Di babak kedua ini, akan dilangsungkan Lomba Cerdas Cermat meliputi pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Seni, dan Pendidikan Jasmani. Lomba akan berlangsung dalam dua sesi, sesi pertama para peserta dipersilahkan untuk memilih salah satu amplop yang berada di juri, dan amplop itu berisi lima pertanyaan yang akan ditanyakan langsung kepada peserta yang mengambil amplop tersebut. Satu pertanyaan benar mendapatkan poin seratus dan jika salah menjawab, pertanyaan akan dilempar kepada peserta lain. Untuk peserta pertama silahkan kepada Rahmat untuk mengambil amplop yang telah disediakan.”

Rahmat segera mengambil amplop lalu memberikannya pada juri.

“Baik, amplop masih dalam keadaan disegel.” Ucap juri sembari membuka amplop dengan menggunting ujungnya dan mengeluarkan kertas didalamnya. “Pertanyaan pertama mengenai Matematika. Apakah yang dimaksud dengan bilangan genap?”

“Bilangan yang bisa dibagi dua atau bilangan dengan kelipatan dua.” Jawab Rahmat dengan yakinnya.

“Poin seratus untuk Rahmat. Pertanyaan kedua, mengenai Ilmu Pengetahuan Alam. Sebutkan tiga macam makanan yang termasuk ke dalam protein nabati.”

“Tahu, tempe, dan …” Jawab Rahmat sembari mengira-ngira jawaban selanjutnya.

Juri melihat arloji menunggu Rahmat untuk melengkapi jawabannya. “Lima detik lagi, jika tidak menjawab dilanjutkan pada pertanyaan berikutnya.” Ucap Juri.

“Kacang. Kacang-kacangan.” Ucap Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat.”

Sontak suara tepuk tangan dari teman-teman Rahmat dan Pak Romli yang sebelumnya tegang karena Rahmat terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan.

“Baik, penonton diharap tenang. Pertanyaan selanjutnya, mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial. Siapakah presiden pertama Republik Indonesia?”

“Bapak Insinyur Soekarno.” Jawab Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat, pertanyaan berikutnya mengenai kesenian. Termasuk dari daerah manakah alat musik angklung?”

“Jawa Barat.”

“Poin seratus untuk Rahmat, dan pertanyaan terakhir untuk sesi pertama mengenai pendidikan jasmani. Sepak bola berasal dari negara?”

“Brasil.” Jawab Rahmat dengan yakin.

“Salah, yang benar adalah dari Negara Inggris.”

Terlihat Pak Romli seperti menyayangkan karena Rahmat gagal menjawab pertanyaan kelima. Rekan-rekan Rahmat pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang, tanda gregetan mereka karena melihat Rahmat menjawab salah.

Poin untuk sesi pertama yang dikumpulkan oleh Rahmat adalah dengan poin empat ratus.”