Arsip Kategori: Art

Video Tutorial : Seni Flanel dan Seni Pop-Up

Posting video lagi… 😀
Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi video tutorial yang dibawakan oleh Mega, Mae, Ima, dan Regina. Tidak ada saya di video tersebut, ( :p ) namun video ini merupaka hasil suntingan saya… hhe… Selamat menyaksikan dan semoga menjadi bahan refrensi bagi para pekarya seni….

Cerpen : Tumpuan Pada Sang Sandiman

Oleh : Muhammad Arif Ali Wasi

Suasana genting akibat pertempuran kembali terjadi meliputi seluruh wilayah nusantara. Pertempuran yang terjadi kali ini tidak hanya melibatkan para pejuang militer dengan pasukan penjajah, melainkan seluruh rakyat Pribumi ikut berperang atas nama kemerdekaan. Kedengkian yang dirasakan oleh masyarakat sudah mencapai titik didih untuk membalas perlakuan pasukan penjajah, karena telah meluluhlantakkan pusat pemerintahan dengan serangan nuklir hingga menewaskan lebih dari satu juta jiwa. Pusat pemerintahan tersebut telah hancur berkeping-keping tanpa adanya tanda-tanda kehidupan, sehingga masyarakat Pribumi menyimpulkan bahwa sang raja telah mati ditelan serangan nuklir.

Vacum of power pada pemerintahan membuat masyarakat Pribumi tidak bisa berpikir dengan jernih. Perlawanan yang tidak terorganisir dari masing-masing daerah justru menambah korban jiwa yang semakin meluas karena serangan balik dari pihak penjajah. Kondisi tersebut semakin tidak berimbang, karena masyarakat Pribumi hanya menggunakan peralatan tradisional dibandingkan dengan pihak penjajah yang menggunakan peralatan canggih semacam rudal, granat, hingga senjata api.

Kejadian tersebut membuat dunia internasional menetapkan bahwa negara Pribumi tidak diakui keberadaannya dan digantikan menjadi negara Semesta, yaitu negara sang penjajah. Ketidakadilan dunia internasional yang merugikan bangsa Pribumi, mengharuskan bahwa rakyatnya mau ataupun tidak mau untuk tunduk di bawah kekuasan sang penjajah. Jikalau ada perlawanan dari rakyat, maka tindakan dari militan penjajah tidak segan untuk membunuh rakyat tersebut.

Dari huru-hara yang terjadi akibat pembantaian oleh pihak penjajah, tidak mengurungkan niat untuk melakukan perlawanan dari seorang kriptografer bangsa Pribumi. Sebenarnya ia tinggal di lokasi pusat pemerintahan dan bekerja di sebuah lembaga persandian Pribumi. Namun beruntungnya saat terjadinya pembantaian masal oleh senjata nuklir, ia sedang melakukan perjalanan dinas untuk bertugas dibagian komunikasi sandi dalam negeri yang jauh dari pusat pemerintahan. Seorang kriptografer tersebut bernama Rubi.

Kekuasaan yang diambil alih oleh pemerintahan Semesta, membuat Rubi tidak mempunyai kewenangan penuh untuk mengendalikan komunikasi sandi dalam negeri. Karena sekarang ia dimanfaatkan untuk bekerja sebagai pengendali peralatan sistem sandi dan tidak diperkenan mencampuri tugas komunikasi sandi dalam negeri yang telah dikuasai oleh pemerintahan Semesta.

Tidak hanya sendiri, Rubi ditemani oleh tiga orang rekan satu profesinya yang berasal dari lembaga persandian Pribumi. Mereka bernama Fano, Sintia, dan Ikmal. Tiga orang rekan Rubi tersebut sebelumnya dipercaya oleh lembaga untuk menemani Rubi yang bertugas mengendalikan komunikasi pesan rahasia dalam negeri, namun mereka akhirnya hanya ditugaskan sebagai asisten Rubi untuk menjalankan peralatan sandi. Bagi mereka pekerjaan yang diberikan tersebut, layaknya sebagai seorang buruh yang hanya bertugas menjaga seharian penuh untuk menerima pesan terenkripsi yang diterima dari pemerintahan pusat tanpa harus terlibat dan mengetahui isi pesan yang telah diterimanya.

BRUUK! Terdengar suara pintu ruangan terbuka dengan sangat keras karena bantingan oleh militan Semesta. Ia memasuki ruangan kecil yang penuh dengan peralatan sandi.

“Hei orang dungu, apakah pesan yang dikirimkan oleh pemerintah pusat telah diterima?” tanya dengan kasar seorang pria berpenampilan militer kepada Rubi yang sedang tugas menjaga peralatan sandi.

“Siap belum, Pak. Jikalau pesan sudah sampai, akan segera saya berikan kepada bagian analis sandi.” Jawab Rubi walau ia merasa sangat dongkol dikatakan dungu oleh militan Semesta.

“Jika terjadi kesalahan sekecil apapun atau dengan sengaja anda memodifikasi isi pesan, saya tidak segan-segan membunuh anda. Ingat itu!” ucap militan Semesta sembari berlalu meninggalkan Rubi.

Rubi hanya terdiam, perasaannya diliputi kemarahan namun terdapat sekecil rasa ketakutan yang tak terbendungi pada dirinya. Sifatnya yang terkenal dengan berwatak keras akhirnya terlihat ciut ketika menghadapi ancaman kematian.

KRING. KRING. KRING. Suara deringan telepon terdengar nyaring memecah keheningan. Jika telepon encryption yang dibuat oleh bangsa Semesta tersebut berdering, maka hal tersebut menandakan adanya pesan masuk yang dikirim dari pemerintahan daerah ataupun pemerintahan pusat.

Secara perlahan, lembaran demi lembaran berisi teks yang tak beraturan muncul dari mesin sandi yang bernama ARFAX. Mesin tersebut sejenis faksimile, namun Rubi menyadari bahwa faksimile tersebut bukanlah sejenis faksimile pada umumnya. Mesin ini merupakan teknologi modern yang merupakan andalan bangsa Semesta untuk berkomunikasi antar titik di masing-masing daerah.

Rubi memegang lima kertas yang keluar dari mesin ARFAX. Seperti biasanya, ia berusaha untuk menganalisis teks acak tersebut sebelum ia berikan kepada bagain analisis sandi. Ia berusaha untuk mencari pola pada teks tersebut namun tak ada hasil yang didapatkan.

“Suatu hal yang mustahil, jika aku dapat mengetahui isi pesan ini dengan hanya bermodalkan lembaran kertas saja.” Ucap Rubi kepada dirinya sendiri dengan lirih.

Tok. Tok Tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.

Ketika Rubi membukakan pintu terdapat dua orang rekannya yang bernama Ikmal dan Sintia datang menghampiri Rubi. Walau ia merasa senang mendapat kunjungan dari rekannya, namun perasaan khawatir tersebut muncul karena ia menyadari bahwa pimpinannya yang otoriter tidak memperbolehkan masyarakat Pribumi untuk berkumpul walau hanya sebatas berbincang-bincang. Jikalau pimpinan dan antek-anteknya menemukan hal tersebut, maka tak segan-segan pelatuk pistol dari militan penjajah akan menyerang kelompok tersebut.

“Ada apa kalian kemari?” ucap Rubi sembari berbisik kepada dua rekannya tersebut.

“Rubi, apakah kamu telah mengetahui kondisi terbaru yang terjadi di luar sana?” tanya Ikmal kepada Rubi.

“Apa yang terjadi?”

“Lagi-lagi pihak militan penjajah menyerang masyarakat Pribumi dengan brutal. Kali ini pemerintahan pusat batalion daerah Barat telah dibom melalui serangan udara. Entahlah apa yang menyebabkan mereka menyerang kembali, namun saya mendengar isu bahwa pemimpin batalion Barat mengerahkan rakyatnya untuk menyerang secara gerilya pemerintahan daerah yang telah dikuasi negara Semesta.”

“Berapa korban jiwa dari peristiwa tersebut?”

“Saya masih belum mengetahui korban jiwa dari peristiwa tersebut, namun tentunya akibat bom tersebut menelan banyak korban jiwa yang dialami bangsa Pribumi Barat.” Ucap Ikmal yang membuat Rubi merasa merinding mendengar penjelasannya.

“Darimana kamu mendapatkan kabar ini?” tanya Rubi.

“Sintia, dia berhasil menyusup ke dalam perut organisasi pemerintahan Semesta. Dia sangat pintar.” Puji Ikmal kepada Sintia.

“Sintia, apakah kamu yakin hal tersebut aman?” tanya Rubi.

“Tenang Rubi, aku mempunyai cara sendiri untuk menipu mereka dan aku sangat yakin keberadaanku di organisasi mereka bagaikan akar pohon yang akan selalu tertanam walau batang pohonnya ditebang. Yakinlah, kita akan meraih kemerdekaan kembali.” Ucap Sintia dengan penuh keyakinan.

“Apakah ada informasi lain yang kamu ketahui dari organisasi Semesta?” tanya Rubi.

“Inilah yang membawaku untuk menemuimu, Rubi. Selain untuk mengabarkan kejadian terkini yang terjadi, aku telah mengetahui sistem sandi yang digunakan pada mesin sandi ARFAX, semoga hal ini dapat membantumu.” Ucap Sintia.

Pernyataan Sintia bahwa ia mengetahui sistem sandi ARFAX membuat Rubi sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Sintia telah melangkah sangat jauh untuk menyusup ke badan organisasi negara Semesta.

Tok. Tok. Tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Rubi, waktu kita tidak banyak. Yang mengetuk pintu yaitu rekan kita, Fano. Ia memberikan isyarat bahwa kami harus segera pergi, sebelum militan menemui kita.” Ucap Ikmal dengan khawatir.

“Sintia, mohon jawab pertanyaan saya. Apa sistem sandi dari mesin ARFAX?” tanya Rubi pada Sintia.

“Rubi, dia menggunakan sistem Transformasi pada ARFAX. Sistem itu sangat mudah dibaca walau tidak menggunakan mesin sandi untuk mendekripsi pesan.” Ucap Sintia.

“Transformasi? Mungkinkah bangsa besar seperti Semesta hanya menggunakan sistem transformasi untuk melindungi pesan?”

“Percayalah! Apakah kamu tidak sadar, Rubi? Kenapa kamu hanya membawa lembaran kertas ini kepada mereka?”

TOK. TOK. TOK. Terdengar suara ketukan pintu yang semakin keras.

“Maaf, Rubi. Waktu kita tidak banyak. Good luck, Rub.” ucap Ikmal.

Ikmal dan Sintia pergi meninggalkan Rubi melalui pintu belakang. Selang beberapa detik setelah kepergian dua rekannya, datanglah tiga orang pasukan militan menghampiri Rubi. Mereka membuka pintu dengan kasar, dan segera menarik Rubi dari ruangan.

“Hei, apa salah saya? Lepaskan!” teriak Rubi.

“Pimpinan ingin menemui anda. Siap-siaplah wahai orang dungu! Hahaha.” Ucap militan dengan nada yang tinggi.

Tangan Rubi digenggam dengan paksa oleh militan Semesta, sehingga ia seperti tak berdaya melawan kuatnya tenaga militan. Perasaan khawatir Rubi semakin memuncak, karena sebelumnya ia pernah melihat rakyat Pribumi dilakukan hal yang sama seperti dirinya dan akhirnya dibunuh atas perintah pimpinan.

Rubi memasuki ruangan raja, ia melihat singasananya yang terbuat dari kayu jati dan terlihat kokoh sehingga membuat aura kekuasaannya semakin ditakuti bagi siapapun yang mendekatinya. Ia ditemani oleh beberapa dayang cantik yang membuat setengah lingkaran di belakangnya.

Beberapa orang militer yang membawa Rubi, akhirnya menjatuhkannya di hadapan raja. Rubi merasakan posisi yang sangat hina karena ia diperlakukan tak semena-mena oleh militan, dan rajanya hanya melihat Rubi dengan senyum sinis.

“Hei sandiman dari bangsa Pribumi. Saya tau kau dikenal sebagai pahlawan bangsa Pribumi, ketika kau berhasil menyadap informasi dari pihak kami. Sehingga militer Pribumi berhasil menyerang kami sebelum kami menyerang kalian. Cih!” ucap raja dengan angkuh.

“Jika kau berada di posisi saya, saya yakin anda akan melakukan hal yang sama seperti tindakan saya. Kemerdekaan bangsa Pribumi adalah harga mati untuk kami raih.” jawab Rubi dengan nada menantang.

“Hei kamu! Beraninya kamu berbicara seperti itu dengan raja. Dasar lancang!” ucap salah satu dayang yang berada di belakang raja.

Rubi menyadari bahwa sebagian besar dayang yang berada di belakang raja merupakan bangsa Pribumi yang berkhianat, dan hanya memikirkan kesenangan dan keamanan pribadinya.

“Raja bunuh saja pemuda itu!” ucap dayang yang berada di belakangnya.

Rubi sangat terkejut dengan ucapan salah satu dayang yang berada di belakang raja, lebih herannya lagi ucapannya tersebut diikuti persetujuan oleh dayang yang lainnya. Namun raja hanya membalas dengan mengangkat tangan kanannya yang mengisyaratkan untuk diam. Lalu raja mengisyaratkan kepada pasukannya dengan mengangkat kepalan tangan kanannya, dan masuklah tiga orang militan dengan senjata pistol yang cukup besar di tangannya.

“Grup penembak, tahan dulu pelatukmu. Jika saya beri aba-aba tembak, jangan ragu untuk menembak orang bodoh itu.” Ucap raja menggertakkan nyali Rubi.

Rubi telihat lemas dan pasrah karena nyawanya seakan-akan telah diujung kematian. Ia terkulai lemas sambil menundukkan kepalanya di hadapan raja. Raja melihat suasana tersebut dengan wajah tanpa dosa dan senyuman riang di bibirnya.

“Jika kamu mau menjawab pertanyaan dari saya, maka saya berjanji tidak akan membunuhmu.” Ucap raja.

“Apa pertanyaan tersebut?” tanya Rubi.

“Siapa tokoh penggerak dibalik masyarakat Pribumi pada saat ini? Sehingga masyarakat Pribumi melakukan perlawanan terhadap kami, walau hal tersebut hanyalah sia-sia belaka. Tak ada hasil yang kalian dapatkan, malah merugikan bangsa Pribumi sendiri.” tanya raja.

Rubi hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari raja. Suasana semakin menegang, karena hal tersebut membuat raja semakin kesal. Sang raja berdiri dari singasananya yang kokoh dan menghampiri Rubi.

“Saya tidak akan jawab.” jawab Rubi secara lirih.

“Baiklah, sepertinya anda lebih memilih mati. Pasukan tembak, bersiaplah kalian!” ucap raja.

“SIAP!” jawab serempak oleh tiga orang militan bersenjata. Merekapun membentuk barisan sejauh sepuluh meter tepat di hadapan Rubi.

“Jika pada hitungan ketiga, anda masih belum menjawab. Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini.” Ancam raja.

“Satu.” Raja menahan ucapannya dan menunggu respon dari Rubi, namun Rubi masih tidak merespon.

“DUA!” ucap raja dengan nada yang semakin keras. Tetapi Rubi hanya diam menunduk.

“TIGAA!”

DORRRRR. Suara tembakan meletus membuat tubuh seseorang menjadi tak berdaya. Ia mengerang kesakitan tak berdaya menahan sakit pada tembakan yang tepat di bagian dadanya. Semua orang terkejut, bahkan para dayang berteriak histeris menyaksikan bahwa raja mereka tertembak oleh pistol yang dipegang oleh Sintia. Sintia menembak raja di balik pot tanaman besar, yang terlihat aman jika digunakan untuk bersembunyi.

Setelah Sintia menembak raja, dengan segera ia menembak dengan tepat sasaran ke tiga orang regu tembak kerajaan. Kelompok bersenjata tersebut lumpuh tak berdaya akibat tembakan Sintia.

“TERDAPAT SERANGAN LUAR DARI RAKYAT PRIBUMI! PASUKAN HARAP BERSIAP!” ucap pasukan militan Semesta yang berada di luar kerajaan sehingga terdengar dari dalam kerajaan.

Pasukan pertahanan kerajaan yang berada di dalam mengalami kebingungan, karena ia mendengar kabar serangan dari luar. Namun sang pemimpin mereka telah tewas terbunuh oleh tembakan dari Sintia. Akhirnya dengan keputusan sepihak dari komandan pertahanan, ia memerintahkan sebagian kecil pasukan yang berada di dalam kerajaan menyerang Sintia dan Rubi serta sebagian besar untuk menghadang serangan dari luar.

Kembali terjadi peristiwa tak terduga, karena secara tiba-tiba Ikmal muncul untuk menahan militan Semesta yang akan menyerang Sintia dan Rubi. Dengan peralatan pedang dan tombak yang digunakan, Ikmal mencoba untuk menghadang sebisa mungkin kekuatan militan yang menyerang dirinya sedangkan Sintia membantu Ikmal dengan menembakkan peluru yang tersisa ke militan yang menyerang Ikmal.

“Rubi, segera kirim pesan melalui jaringan radio kepada seluruh daerah agar segera melakukan penyerangan gerilya. Dan jika kamu sanggup, tembus ke bagian komunikasi sandi tempatmu bekerja dahulu untuk mengamankan pesan tersebut agar tidak disadap oleh bangsa Semesta. Cepat!” ucap Ikmal dengan tegas sembari menahan serangan militan Semesta.

Rubi segera menuju ke tempat jaringan radio melalui jalur pintas, sehingga aman dari serangan pasukan pertahanan kerajaan. Ia menyebarkannya sinyal radio ke seluruh pelosok negeri agar masing-masing daerah melakukan serangan gerilya kepada pemerintahan Semesta. Selang beberapa menit, ia mendapatkan berbagai balasan pesan melalui sinyal radio bahwa masyarakat Pribumi di masing-masing daerah telah memulai serangan dadakan baik dari serangan dalam maupun serangan dari luar ke pemerintahan Semesta.

Perlawanan antara pasukan militer Semesta dengan bangsa Pribumi yang sebelumnya didominasi oleh bangsa Semesta membuat perlawanan yang dirancang oleh Rubi dan rekan-rekannya menjadi seimbang, karena taktik yang dilancarkan oleh bangsa Pribumi dengan menyusup ke masing-masing badan pemerintahan tergolong berhasil. Para pejuang Pribumi berhasil menguasai sektor dalam dan menguasai senjata perang, sistem komunikasi Semesta, serta penyerangan langsung kepada masing-masing raja di setiap kerajaan. Penyerangan terhadap raja di masing-masing kerajaan terbukti berhasil, karena mereka merupakan salah satu faktor sebagai ujung tombak komando yang menggerakkan pasukan militer Semesta. Dengan ketiadaan pemimpin di tengah kendali militan Semesta, maka bangsa Pribumi dapat memanfaatkannya dengan menyerang secara langsung militan Semesta yang tak terorganisir.

Namun perjuangan bangsa Pribumi tidaklah mudah, banyak korban jiwa yang diterima oleh bangsa Pribumi akibat senjata canggih dari pengamanan pihak negara Semesta. Tetapi pasukan berani mati dari bangsa Pribumi yang menyusup ke kerajaan, berhasil membuat kelumpuhan total di masing-masing kerajaan Semesta yang tersebar di wilayah nusantara.

Pertempuran berlangsung selama tiga hari yang sebagian besar dimenangkan oleh bangsa Pribumi. Hanya terdapat satu daerah yang masih dikuasai oleh miltan Semesta karena kekalahan yang diderita oleh rakyat Pribumi di daerah tersebut. Namun raja dari pihak Semesta di daerah tersebut telah tewas dalam pertempuran, sehingga tanpa ragu wakil dari rakyat Pribumi mengancam akan melakukan serangan ke daerah tersebut jika pasukan militan tidak meninggalkan daerah kekuasaan dalam waktu dua puluh empat jam.

Perang tidak terjadi antara dua kubu, karena pasukan militan Semesta yang tersisa menyerahkan daerah kekuasaannya ke tangan penduduk Pribumi. Jikalau mereka tetap memaksakan perang untuk mempertahankan wilayah, tentulah akan mengalami kekalahan karena lawan mereka adalah penduduk Pribumi dari seluruh wilayah nusantara. Sehingga pada akhirnya bangsa Pribumi mendapatkan kemerdekaan dari bangsa Semesta yang telah menjajah nusantara selama lima bulan.

Selama perang antara bangsa Pribumi dan negara Semesta telah merenggut korban jiwa yang cukup besar, yakni lebih dari dua juta orang penduduk Pribumi telah tewas di medan perang. Kejadian tersebut menyimpan duka yang mendalam bagi rakyat Pribumi ditambah ketiadaan pemimpin yang mereka segani telah tewas oleh serangan nuklir pada awal perang berlangsung. Walau dalam keadaan berkabung, masyarakat Pribumi harus segera mencari pemimpin baru yang akan menegakkan kembali pemerintahan Pribumi dalam satu komando. Tujuan lainnya adalah untuk mengangkat nama negara Pribumi agar diakui kembali oleh masyarakat dunia, bahwa Pribumi telah merdeka.

Muncul satu nama yang pantas menjadi pemimpin baru bagi bangsa Pribumi. Ia bernama Ikmal yang sebelumnya bekerja di lembaga persandian Pribumi. Saat pertempuran berlangsung, ia merupakan panglima perang di medan pertempuran sehingga dengan gagah berani ia berhasil menumpas pasukan militan Semesta. Walau ia diangkat oleh rakyatnya untuk menjadi seorang pemimpin, namun ia menyadari faktor kemenangan yang diraih bangsa Pribumi bukanlah dari kepemimpinannya di medan perang. Ia mengatakan pada rakyatnya, bahwa kemenangan ini tidak akan diraih jika tidak ada komunikasi antara masing-masing daerah untuk bersama-sama menumpas penjajah. Disinilah peran penting sang sandiman yang bertugas di belakang layar sebagai pembawa caraka, sehingga tumpuan utama kemenangan bangsa terletak di bahu seorang sandiman.

Naskah Drama Musikal : Your Beliefs Become Your Destiny

Karya     : Muhammad Arif Ali Wasi

Pemeran :

  1. Pemuda
  2. Wanita
  3. Ayah
  4. Babu1
  5. Babu2
  6. Pembaca Puisi
  7. Penyanyi putra dan Putri
  8. Di dukung pemeran figuran dan penari latar, serta musisi panggung.

Pembukaan :

(Lagu “Mengejar Matahari”, dengan musik gendang, suling, piano, dll di kolaborasi. Lagu diiringi dengan tarian dan dua penyanyi yang terdiri dari 1 putra dan 1 putri. Selesai, masuk ke puisi dengan diiringi relaxing piano music. Panggung hanya ada sebuah bangku memanjang dan terdapat satu orang yang duduk terpaku dengan secarik kertas dan pulpen yang dipegangnya. Ia terlihat sangat ambisius dengan kertas yang dipegangnya. Sedangkan banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya. Ada sang penjual, pengemis, anak kecil menangis, anak-anak bermain. Panggung dijadikan suasana hidup

Pembacaan puisi menjadi pusat sentral di tengah panggung, menceritakan kehidupan desa yang aman, damai, sejahtera, dan sang puisi menunjukan seorang anak muda yang duduk ambisius dengan secarik kertas. Anak muda itu sedang merancang masa depan, dengan membuat cita-cita yang ia tuliskan di selembar kertas itu. Pembacaan puisi selesai)*

Seorang wanita berpenampilan anggun melewati depan pemuda itu, semua mata laki-laki yang di dalam panggung itu melihat dirinya (ada istrinya yang sentil kuping suaminya yang menatap wanita lewat tersebut) kecuali dengan pemuda yang dari tadi ambisius dengan kertasnya. Wanita itu heran dengan pemuda, kenapa semua pria melihat dirinya tetapi hanya pemuda itu yang tak tertarik. Sang wanita mendekati pemuda tersebut, dengan mengibaskan rok panjangnya ketika berjalan, dll bertujuan untuk mencari perhatian. Efek musik jail. Belum berhasil, akhirnya wanita itu berhenti dan berada di sampingnya dengan mengeluarkan suara batuk pelan, tidak berhasil suara batuk medium, tidak berhasil, dan akhirnya suara batuk keras, berhasil. Pemuda itu melihat wanita yang berada di samping dengan heran, wanita itu salah tingkah dan tebar pesona.)

W           : “Apa yang sedang kamu perbuat wahai pemuda yang belum ku ketahui namanya.” (tersipu malu)

P             : “Bukankah kamu putri seorang pemimpin di desa ini?”

W           : “Iya, kamu kok tau?”

P             : “Siapa yang tidak mengenal dirimu? Kau seorang wanita baik dan pintar dari anak seorang pemimpin di desa ini, Banyak orang yang menyukaimu, teman-temanku juga. Kau bahkan berpendidikan tinggi dibanding kami. Pantaslah jika semua orang mengagumimu?”

Wanita itu tak bisa berkata apa-apa ia terharu bahagia dan sangat senang dipuji oleh pemuda itu.

W           : “Jadi, apakah kamu juga mengagumiku?”

P             : “Jelas.” (Wanita itu tersipu malu). “Jelas tidak. Aku sudah memiliki seorang kekasih idaman hati.”

Dari muka yang tersipu malu, wanita itu kaget setengah mati. Seakan-akan cintanya ditolak mentah-mentah.

P             : (pemuda heran dengan perilaku wanita tersebut) “Kamu kenapa?”

W           : “Oh. Gak pa-pa. Oh ya, saya perhatikan daritadi kamu duduk disini terus? Apa yang kamu perbuat?

P             : “Oh ini.” (ia menunjukan lembaran kertas) “Aku sedang merancang masa depan, aku ukir di lembaran ini dan akan kupajang di tempat yang selalu aku melihatnya. Aku yakin, akan menimbulkan suatu semangat di setiap usahaku untuk meraih itu semua.

Wanita itu melihat lembaran kertas dengan mengambilnya tiba-tiba dari tangan pemuda itu, pemuda itu sedikit tidak ikhlas saat diambil kertasnya.

W           : “Target semester ini, mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Target semester depan masuk sekolah menyelesaikan semester akhir di SMA yang sempat berhenti dan lulus SMA. Target selanjutnya masuk Sekolah Tinggi Sandi Negara. (kertas diambil dari tangan wanita oleh pemuda) Kamu bermimpi?”

P             : “Iya, ada yang salah?”

W           : “Saranku, berpikirlah realitas dan lakukanlah yang terbaik hari ini. Cukup.”

P             : (diiringi piano, lagi Nidji-Laskar Pelangi) “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia. Berlarilah, tanpa lelah sampai engkau meraihnya.”

(Suara drum masuk, lanjut lagu Laskar pelangi diiringi musik dan penari yang membuat suasana panggung hidup. Saat lagu berlanjut dilanjutkan dengan membuat setting baru dan persiapan scane baru. Setting sebuah ruangan pemimpin desa atau ayahnya W. Terdapat pot bunga, meja kantor, kursi pejabat, ruang tamu dengan meja bagus serta kursi sofa.)

Musik berganti dengan intro lagu Bento-Iwan Fals. Di dalam panggung terdapat sang Ayah dengan baju Jas dan dua orang pembantu laki-laki (Babu1) dan perempuan (Babu2) yang sedang merapihkan ruangan ayah dan ruang tamu dalam satu panggung.

Ayah     : “Namaku Bento (ganti nama asli) rumahku mewah. Mobilku banyak, istripun banyak. Orang memanggilku, pemimpin hebat. Tokoh yang terhormat, hormat semuanya. Asik!

Si wanita atau sang anak ayah masuk ruangan ayah dengan merenung. Ayahnya bingung dan menghampiri wanita itu yang terduduk lesu di ruang tamu.

Ayah     : “Kamu kenapa anakku? Kok murung entar dipatok burung, loh.”

Babu1   : (langsung nyahut) “Ih tuan, pikirannya.”

Ayah     : “Sstt! Coba kamu ceritakan sama Papa. Papa akan mengabulkan semua permintaanmu tanpa terkecuali.”

Babu1   : “Kayak jin-nya Aladin aja, Tuan.” (nyeletuk)

Ayah melirik tajam ke Babu1 tanpa bersuara, si Babu1 mangut dan mengerjakan pekerjaan rumah kembali.

Wanita : “Ayah, aku sedang jatuh cinta Ayah. Tetapi sayangnya pria itu sudah punya wanita lain. Ayah pernah merasakan jatuh cinta?” (tanya dengan lugu)

Babu1   : “YA IYALAH, ISTRINYA BUANYAK. Setiap waktu, pasti jatuh cinta. Ups.” (Langsung diam, dan dengan tampang tak berdosa kembali ke aktifitasnya)

Ayahnya langsung melihat tajam ke arah Babu1, setelahnya mau bicara dengan si wanita tetapi disela oleh wanita.

Wanita : “Oh iya-ya.”

Ayah     : “Kamu sedang jatuh cinta dengan putra dari keluarga terpandang yang mana, anakku? Papah pasti mengizinkanmu.

Wanita : “Bukan, bukan Ayah. Aku sedang jatuh cinta dengan pemuda desa. Ia pemuda yang baik hati, teguh, kuat, dan mempunyai mimpi yang hebat.”

Ayah diam tanpa ekspresi, kemudian Babu2 (perempuan) datang membawakan cangkir berisi air untuk Ayah dan wanita tersebut. Kemudian pergi. Si Ayah yang tanpa ekspresi, minum air tersebut.

Ayah     : “APAAA?!!!!!!” (memuncratkan air di dalam mulutnya, seketika wanita kabur dari kursinya dan si Babu1 kaget langsung menghentikan aktifitasnya)

Wanita : (sambil berdiri, shock lihat ayahnya kaget) “Kenapa papah?”

Ayah     : “Kamu bisa jatuh cinta dengan pemuda desa yang tidak berpendidikan? Apa kata pejabat?” (logat Apa Kata dunia)

Wanita : “Iya Ayah, aku sudah mantap, jika harus menikahinya walau umur kita masih remaja.”

Babu1 yang berada dekat dengan wanita maju mendekatinya.

Babu1   : “Saya siap nyonya.” (tawar dengan pesona)

Wanita jijik dengan babu1. Ayah mendekati wanita dan mendorong jauh si babu1 ke belakang.

Ayah     : “Anakku, kita dari keluarga yang terpandang. Bisakah kamu mencari jodoh dari keluarga yang terpandang juga? Yang selevel gitu?”

Wanita : “Dia istimewa, dia mempesona, semuanya jadi indah, Bila didekatnya.” (pakai nada diiringi piano)

Ayah     : “Baiklah, jika itu maumu. Coba kamu bawakan pemuda itu ke hadapan papah.”

(suara petir dan musik tegangpun berbunyi. Wanita tersebut pergi mencari pemuda, panggung remang  terlihat hanya aktifitas si ayah yang tidak tenang menunggu kehadiran putrinya dan pemuda yang akan dibawanya. Di dalam panggung hanya ada Ayah yang galau dikursinya, dan Babu1 yang masih merapikan ruangan.)

Si wanita datang membawa pemuda, lampu kembali terang. Si Ayah beranjak berdiri dari kursi pejabatnya lalu menghampiri wanita dan pemuda di tengah panggung.

Wanita : “Papah, inilah pemuda yang kumaksud.”

Ayah     : “Sepatu robek, celana kumuh, baju serampangan, rambut sedikit botak, ini levelmu wahai anakku? Oh Em Ji.

Wanita : “Papah, jangan melihat dari penampilan luarnya. Lihatlah dari dalamnya!” (merengek)

Babu1   : “IH WAW!!!”

Ayah     : “Apa kamu bilang? Kamu suruh papa menilai dalamnya?” (kaget dan mengernyitkan muka)

Babu1   : “hem, tuan. Mungkin maksudnya kepribadian pemuda itu.”

Ayah     : (kembali menjaga wibawa) “ Oh, itu.”

Wanita : “Iya Papah. Tolong beri ia harapan.”

Si Pemuda masih terdiam bingung melihat apa yang ada di hadapannya.

Ayah     : “Baiklah, kalian duduk dulu.”

Si wanita mengajak pemuda duduk di ruang tamu. Sedangkan Ayah bingung mondar-mandir di depan kursi.

Ayah     : “Inem! Tolong bawakan minum buat tamu ini.” (meneriaki samping panggung)

Ayah beranjak duduk di bangku ruang tamu.

Ayah     : “Jadi wahai pemuda, apa motivasimu menyukai anakku?” (tanya serius oleh Ayah)

P             : “Heh? (salah tingkah, menjaga sikap) Maaf, Pak. Sepertinya Bapak salah paham, coba tolong kamu jelaskan kepada bapakmu.” (meminta si wanita)

W           : “Iya Papah, kami saling menyukai tolong restui kami.” (pegang tangan si pemuda)

P             : “Wus ngawur kamu. Bukannya kamu ngajak saya, karena kamu menawarkan pendidikan gratis untuk saya lulus SMA? Kok jadi gini?”

W           : “Jika kamu menerima aku, kamu akan sekolah gratis hingga kamu jadi orang. Papah sanggup biayai kamu.”

Ayah kaget, mau bicara tapi disela sama pembicaraan selanjutnya.

P             : (berdiri) “Hei, ingat yah. Saya tidak akan menggapai mimpi dengan menghalalkan berbagai cara. Ngapain saya harus berbuat yang tak wajar untuk menggapai tujuan saya.”

W           : (berdiri) ”Yang kamu butuhkan sekarang hanya uang untuk biaya sekolah kan? Masa Cuma gini saja, gak mau! Sok suci kamu!”

P             : “Ungkapanmu itu sama saja, menghalalkan mencuri untuk kekayaanmu. Atau sama saja, membodohi semua orang untuk mendapatkan sanapati cendikia! Huh.

Ayah     : “Cukup, kenapa kalian jadi bertengkar!”

W & P   : “Berisik!”

Ayah kaget dengan berekspresi ketakutan tetapi terlihat lucu. Babu2 masuk ke dalam panggung memecah kesunyian dengan membawakan rantang berisi teko air, dan gelas. Si Pemuda terdiam melihat Babu2, Babu2 tidak menyadari pemuda memandanginya. Yang Babu2 perbuat hanya menunduk dan membawakan rantang itu serta membereskannya di atas meja ruang tamu. Si Wanita melihat pemuda yang sedang menatap babu2, si wanita itu ikut-ikutan melihat babu2. Dan si Ayah heran melihat pemuda dan wanita yang saling bertatapan melihat si Babu2.

P             : “Inem?”

Inem melihat pemuda dan kaget.

Ayah     : “Pemuda, kamu kenal wanita bisu itu?”

W           : “Jangan-jangan….”

P             : (menarik tangan Inem ke ujung panggung) “Inem, abang dan keluarga abang semua mencarimu, ternyata kamu ada di rumah ini. Kenapa kamu tidak pamit dulu sama kami. Sekarang kamu ikut abang pulang, yah.” (menarik keluar panggung)

Ayah     : “Hei, jangan sembarangan kamu! Si Inem sudah saya kontrak sebagai pembantu saya selama satu tahun. Kalau kamu ajak dia pergi otomatis gaji selama ia bekerja tidak akan kubayar.”

W           : “Kamu lebih memilih dia daripada aku?” (ekspresi lebay)

Babu1   : “Tenang neng, masih ada abang disini.” (nyeleneh)

W           : “DIAM KAMU!”

Babu1 kaget langsung manut beres-beres lagi.

P             : “Kamu mau ikut abang pulang?”

W           : “Percuma nanya sama orang bisu.”

P             : “Kalau iya, kamu anggukan kepala.” (bicara dengan Inem)

Si Inem menggelengkan kepala.

P             : “Inem, percaya sama abang. Abang akan berusaha keras untuk Inem dan keluarga abang. Untuk cari uang, buat abang sekolah sampai lulus, tembus kuliah di STSN, dan punya penghasilan lebih buat Inem dan keluarga. Abang yakin. Jika sekarang pilihan Inem untuk bekerja, abang harap Inem jangan memaksakan diri.

Satu persatu lampu gelap, diiringi musik syahdu setelah dialog akhir pemuda. Panggung di setting polos dengan ditutupi selimut hitam. Lilin yang mengitari panggung dinyalakan dan hanya lampu kuning yang menyala.

Slide Show di proyektor.

Inem adalah seorang gadis bisu yatim piatu yang diasuh oleh keluarga sang pemuda desa. Seiring dengan berjalannya waktu, Inem merasa menjadi beban keluarga sang pemuda, hingga membuat pemuda tersebut  putus sekolah. Ia merasa bersalah dan akhirnya memilih bekerja sebagai pembantu di rumah sang pemimpin desa tanpa izin dari pemuda dan keluarganya.

Setelah bertemunya dua insan tersebut, sang pemuda perlahan-lahan meraih impiannnya yang ia ukir di selembar kertas.

Yaitu…

Bekerja untuk biaya sekolah

Ia akhirnya bekerja sebagai penjaga toko baju di pasar, serta diluar itu ia menawarkan jasa angkutan barang di pasar. Penghasilannyapun terbilang cukup, ia tabung untuk biaya sekolah selama satu semester kedepan. Dan akhirnya semester selanjutnya ia berhasil masuk sekolah dan menyelesaikan pendidikan SMA nya. Dapat diambil satu hikmah, mimpi itu butuh perjuangan.

 Masuk Sekolah Tinggi Sandi Negara

Banyak orang yang membicarakan Sekolah Tinggi Sandi Negara adalah sekolah gratis dalam biaya hidup dan kuliah. Bahkan lulusannya terbilang memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Itu menjadi semangat juang bagi sang pemuda untuk melanjutkan pendidikannya, dengan biaya gratis.

Lihatlah pendidikan di luar sana, biaya masuk hingga puluhan juta, Biaya per semester, Biaya Makan, Biaya tempat tinggal, Biaya ini dan itu. Masih kurang bersyukurkah orang yang menempuh kuliah di STSN?

Ya, inilah motivasi sang pemuda untuk masuk ke sekolah tersebut.

Mempelajari dan mendalami ilmu kriptografi, mengabdi kepada nusa dan bangsa, bla.. bla.. bla..

Bukan itu tujuan utama, melainkan…

Meringankan beban keluarga.

Munafikkah? Tidak! Ingat tujuan sesungguhnya sekolah di STSN.

Lihatlah takdir yang berjalan, semua akan indah pada waktunya. Jika kalian punya tujuan yang suci.

(Setting baru dengan panggung kosong dan slide pemandangan pedesaan. Di tengah panggung sudah berdiri sang pemuda dengan seragam STSN. Intro lagu Bintang yang bersinar-Debo mulai. Suasana desa kembali tergambarkan)

P             : “Aku pernah bermimpi, menjadi bintang yang paling bersinar, ku tak menyangka ini tejadi

                  Kegagalan yang pernah ku alami, menjadikanku semakin kuat, aku bersyukur jadi seperti ini

                  Kebahagiaan ini janganlah cepat berlalu, karna tak mudah untuk menggapainya, ku berjanji akan menjaga semua

                  Terimakasih Tuhan, atas sgala anugrah yang Kau beri kepadaku. Semoga ‘kan tetap abadi”

Monolog oleh sang pemuda, diiringi musik Tanah air dengan tempo yang diperlambat.

P             : “Hidup tanpa impian serta tujuan, bagai mayat yang berjalan tanpa ada maksud. Dengan mimpi, dapat mengubah kemiskinan menjadi kekayaan. Berawal dari mimpi, mengubahku dari pemuda desa, menjadi seorang gagah yang mengabdi pada negara. (menunjukan baju STSN yang dikenakan) Dari sebuah mimpi, dapat mengubah kesulitan menjadi kemudahan.

Mahatma Gandhi said

Your Beliefs Become Your Thouhts

                   Your Thoughts Become Your Words

                   Your Words Become Your Actions

                   Your Actions Become Your Values

                   Your Values Become Your Destiny (tampilkan di slide)

                   Keyakinanmu akan menjadi pikiranmu..

                   Pikiranmu akan menjadi  perkataanmu…

                   Perkataanmu akan menjadi tindakanmu…

                   Tindakanmu akan menjadi nilai dirimu…

                   Nilaimu akan menjadi takdirmu…

Ya, dari sebuah kepercayaan akan menggapai kita ke dalam sebuah tujuan melalui rangkaian perjalanan hidup.”

Musik Indonesia Jaya mulai, penyanyi si pemuda dan semua yang ada di panggung. Saling berpegang tangan dengan penyanyi tunggal putra dan putri.

~~~Selesai~~~

Naskah Teater Musikal : Bawang Putih in The Dongeng (2012)

DRAMA MUSIKALISASI

 

Judul  : Bawang Putih in the dongeng

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

 

Prolog

Setting di wilayah pedesaan, audio suara kicauan burung dan desiran air terjun, slide yang ditampilkan di layar berupa gambar sungai yang indah. Di dalam panggung terdapat beberapa aktor, yaitu Bawang Putih dan tiga teman wanita sebayanya, yang sedang memperagakan nyuci baju layaknya iklan sabun colek.

Narator

Di suatu desa nan jauh di mata, hiduplah seorang gadis manis bernama Bawang Putih. Ia hidup bersama saudaranya yang bernama Bawang Merah dan Ibu Tirinya yang bernama Bawang Bombay. Sepeninggalan ayah kandungnya, ia hidup dalam tekanan bersama kedua Bawang jahat tersebut. Kebahagiaan hiduppun selalu ia cari, dengan cara berkumpul bersama teman-temannya, menjadi anak nongkrong, bahkan dengan menyuci bajupun ia akan sangat bahagia.

Inilah kisah hidup sang Bawang Putih yang terangkai dalam sebuah kisah dongeng.

Lagu Ello-Buka Semangat Baru dibawakan oleh Bawang Putih dan grup Paduan Suara.

Hello teman semua, ayo kita sambut hari baru tlah tiba.

Apa yang kurasakan kuingin engkau tau dan berbagi bersama.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan semangat langkah kedepan.

Jadi pribadi baru.

Buka kita buka jalan yang baru, tebarkan senyum wajah gembira.

Dalam suasana baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu,

esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan.

Kita jumpa di sana, berbagi bersama,

dan kita tau, pelangi yang satukan kita.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan semangat langkah kedepan.

Jadi pribadi baru.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan senyum tampil ke depan.

Jadi pribadi baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

(end)

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah semangat baru.

Musik selesai.Di dalam panggung terdapat Bawang Putih dengan tiga orang gadis. Mereka berempat menyanyikanlagu Lir Ilir.

Gadis 1              : Hari ini cerah beud ya. Banyak suara kicauan burung yang merdu menemani kita mencuci di sungai. Ihhh, bikin laper deh. Ada makanan ga?

Gadis 3              : Loh nuansa indah kok malah lapar?

Gadis 1              : Kan lapar, jeng.

Gadis 2              : (suara gadis 2 dengan logat khas) Ya udah, tuh… ada yang kuning-kuning di kali. Mungkin bisa dimakan.

Gadis 1              : Ih, itu mah tokai atuh. Kejam deh.

Gadis 2              : Setidaknya mirip pisang goreng. Hehehe.  (cengengesan)

Bawang Putih   : Sudah-sudah jangan gaduh. (suaranya di lembutin dan ada audio yang menandakan pesona diri) Hari ini memang indah, dan seperti biasa banyak cowok tampan yang memperhatikan kita saat sedang menyuci. (melirik penonton dan tersipu ‘malu-maluin’.).

Gadis 1              : Bawang Putih, aku tau kamu memang primadona diantara kita, banyak banyak orang yang mencarimu, banyak orang yang memberimu money alias uang, bahkan hari ini banyak sekali pakaian yang kau terima. Tapi plis deh, Bawang Putih beritau kami, apa resepmu itu.

(Gadis 1,2,3 berbaris dan memasang tampang memelas)

Gadis 1,2,3        : He,em.

Bawang Putih   : (menghembuskan nafas panjang) Baiklah, jika kalian memaksa. Aku akan kasih tau alasannya. Tapi kalian jangan beritau hal ini pada ibu tiriku si Bawang Bombay dan saudara tiriku si Bawang Merah.Bagaimana deal or no deal?

Gadis 1,2,3        : Deal.

Bawang Putih   : Wani piro? (Gadis 1,2,3 mau marah tapi Bawang Putih segera memotong) ya, ya, ya. Bercanda kok… Baiklah sebenarnya aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh)

Bawang Putih   : Aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh lagi)

Bawang Putih   : Aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh dengan ekspresi lebay)

Bawang Putih   : Aku buka jasa laundry. Lumayan dapet penghasilan, lalu banyak yang kenal, banyak ini, banyak itu, bla, bla, dan bla.(dengan tampang polos tanpa dosa)

(Gadis 1,2,3 jatuh bersamaan, karena rahasia yang disimpan Bawang Putih tidak sepenting yang mereka harapkan. Gadis 1, 2, 3 bersiap mau pergi dengan merapikan pakaian yang dicucinya.)

Bawang Putih : Loh sudah selesai nyuci ya?

Gadis 1, 2, 3    : Iya. (kompak dengan menjawab ketus lalu mereka keluar panggung).

Bawang Putih : Ya udah, titi dj ya.

Gadis 1, 2, 3   : TITI DJ????? (melihat sekitar seperti mereka mencari-cari artis idolanya itu dengan nafas tersengal-sengal)

Bawang Putih : Ckckck, maksudku hati-hati di jalan disingkat jadi Titi DJ.

(Gadis 1, 2, 3 memasang ekspresi beranekaragam dengan pasrah mengiringi mereka keluar panggung. Setelah itu fokus ke Bawang Putih yang merapikan cuciannya dan disebunyikan cuciannya di balik benda di panggung)

(Lampu kelap-kelip, audio petir, serta nuansa tegang timbul mengiringi Bawang Bombay memasuki panggung.Ibu Tiri itu memandang si Bawang Putih dari sudut panggung.Musik mulai, Petualangan Sherina-Kertarajasa.

Bawang Bombay   : Namaku Si Bawang Bombay

Aku bagai seorang ratu

Apa yang aku inginkan

Pasti dapat terlaksana

Aku sungguh luar biasa

Oh tiada tandingannya

Aku yang paling berkuasa

Semua orang takluk padaku

Bawang Bombay  : Bawang Putih (audio petir), jadi selama ini kau diam-diam mencari uang tanpa sepengetahuanku, hah?

(Bawang Putih berdiam diri sambil ketakutan)

Bawang Bombay  : Bawang Putih !! (audio petir) jawab pertanyaan saya. (silet mode on)

(Bawang Putih berdiam diri sambil ketakutan yang berlebihan)

Bawang Bombay  : BAWANG PUTIH !!!! (audio petir yang menjadi-jadi)

Bawang Putih       : Hiks-hiks.. (menangis gaya anak kecil)

Bawang Bombay  : Eh, dia malah nangis. (nunjuk Bawang Putih kepada penonton). Permasalahan disini, saya tidak melarangmu untuk bekerja, yang jadi permasalahannya adalah kamu tidak memberi penghasilanmu pada saya.Mengerti? (suara audio petir agak lama dan menjadi-jadi). Ih petirnya berisik banget deh. Sstt…. (kepada audio petir).

Bawang Bombay  : Ini lagi, nangis mulu dari tadi.

Bawang Putih       : Aku takut. (merengut)

Bawang Bombay  : Memang dalam cerita ini kamu harus takut sama saya!

Bawang Putih       : Aku takut petir. (merengut ala Sule)

Bawang Bombay  : As-ta-ga-na-ga-bo-nar-ja-di-dua. Gua kira ente wedi karo abdi. Ahh sudah, sekarang saya tidak mau tau! Serahkan uang hasil kerjamu sekarang juga! Mana?!

Bawang Putih       : Hm, gimana kalo kita diskusi sebentar. (gaya so demokratis)

Bawang Bombay  : Tidak ada posisi nawar, dek!

(Audio warkop mulai.Bawang Putih cemberut maksa, dengan ekspresi humor.Lalu balik badan untuk mengambil uang di selipan bajunya dan memberikan uang selembar demi selembar pada Bawang Bombay.Bawang Bombay dengan segera merampas uang di tangan Bawang Putih).

Bawang Bombay  : Baiklah segini cukup untuk menutupi kemarahanku hari ini. Kalo kamu ada uang jangan lupa beritau saya ya. Hohoho. (keluar panggung sambil tertawa, di tengah tawanya sempat tersendak hingga terbatuk. Tetapi setelah itu, tawanya kembali menyaring hingga ia keluar panggung).

(Lagu Mocca-Hanya Satu mulai. Bawang Putih dan Paduan Suara )

Bawang Putih       :  Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Dalam dekap seorang ibu

Hanya satu pintaku

Tuk bercanda dan tertawa

Di pangkuan seorang ayah

Apa bila ini

hanya sebuah mimpi

(Datang Pemuda menghampiri Bawang Putih, dan melihatnya yang bernyanyi di tengah panggung.)

ku selalu berharap

dan tak pernah terbangun

Hanya satu pintaku

Tuk memandang langit biru

Di pangkuan ayah dan ibu

Pemuda                 : Bawang Putih.

Bawang Putih       : Pemuda. (tersipu malu dan senang)

Pemuda                 : Kamu kemana saja?

Bawang Putih       : Aku… (ragu-ragu) Kamu gak perlu tau. (sedih)

Pemuda                 : Bawang kamu tau? berabad-abad aku menunggu, hingga menembus ruang dan waktu. Aku rela menunggumu di tengah badai yang menghempaskan badanku hingga ke ujung dunia yang fana nan jauh di mata. Walau tsunami menerjang sampai badai matahari 2012 menerpa. Aku tetap menunggumu. Itu semua hanya untuk mendengar kabarmu, bawang?

Bawang Putih       : Aku gak ada pulsa buat ngabarin kamu….

Pemuda                 : Tapi tanpa kabarmu, aku galau….

Bawang Putih       : Baiklah maafkanlah aku, pemuda.

Pemuda                 : Maafkan aku juga, Bawang. Sejujurnya aku disini menemuimu ingin memberimu sesuatu. (mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya). Maukah kau… (audio suara detak jantung)

Bawang Putih       : Iya? (bertanya dengan tersipu malu)

Pemuda                 : Maukah….

Bawang Putih       : Iya? (dengan logat yang berbeda)

Pemuda                 : Maukah kau… (terpotong)

(Tiba-tiba Bawang Merah memasuki panggung, audio musik tegang mulai.)

Bawang Merah     : Tunggu. (berjalan bulak-balik dihadapan Bawang Putih dan Pemuda sambil cemberut sekalian pose) Pemuda, kamu tega banget sama aku! kamu selingkuh dari aku, kamu jahat! Jahat! Jahat! (menangis anak kecil)

Bawang Putih       : Kamu selingkuh? (marah pada pemuda)

(Pemuda bingung, saat mau menjawab tiba-tiba disela)

Bawang Merah     : Dan teganya, kamu selingkuh dengan saudara tiriku, si Bawang Putih! Bawang Putih, kamu kok kejam sekali sama aku. Dalam cerita sebenarnya, kan harusnya aku yang kejam bukan kamu. (melanjuti nangisnya)

(Pemuda bingung, saat mau menjawab tiba-tiba si Bawang Putih mengeluarkan kertas di balik bajunya.)

Bawang Putih       : Apa kita salah skrip naskah ya? (memperhatikan kertas naskah dan si Bawang Merah ikut nimbrung membaca naskah yang dipegang Bawang Putih)

Bawang Merah     : Bener kok. (tampang meyakinkan)

Pemuda                 : Sebentar (terpotong)

Bawang Putih       : Cukup! (melihat Pemuda dan menahan nangis. Lalu pergi dengan berlari yang terlihat dibuat-buat)

Pemuda                 : Bawang, tunggu! (belari mengejar Bawang Putih. Di sudut panggung berhenti dan menoleh Bawang Merah sembari marah) Hei, Bawang Merah!!!

Bawang Merah     : APAA, HAH???????!!!!!! (teriak cempreng, dan memasang muka garang)

Pemuda                 : (memasang muka takut) Hem, nggak. Nggak pa-pa.Lari terbirit-birit.

(Dalam panggung hanya ada Bawang Merah)

Bawang Merah     : Yang penting, aku berhasil merusak kebahagian si Bawang Putih. (audio kuntilanak)

(Perlahan satu persatu lampu mati, hanya ada satu lampu kecil yang menyala mengiringi narator. Audio musik piano yang sendu mulai. Layar di slide pemandangan hutan)

Narator

Ucapan yang diterlontarkan oleh Bawang Merah, membuat Bawang Putih menangis dan memilih untuk pergi dari lingkungannya. Ia sungguh kecewa dengan Pemuda yang telah mempermainkan dirinya, hingga ia pergi menjauhinya dan mencari kebahagiaan yang baru. Ia pergi ke kota seberang hingga rela dengan menyusuri hutan seorang diri.

(Setting panggung dengan sebuah lampu ajaib di tengah panggung. Musik Agnes Monica-Karena Ku Sanggup mulai)

Bawang Putih       : Biarlah ku sentuhmu

B’rikanku rasa itu

Pelukmu yang dulu

Pernah buatku

Ku tak bisa paksamu

‘tuk tinggal di sisiku

Walau kau yang selalu sakiti

Aku dengan perbuatanmu

Namun sudah kau pergilah

Jangan kau sesali

Karena ku sanggup walau ku tak mau

Berdiri sendiri tanpamu

Ku mau kau tak usah ragu

Tinggalkan aku

Huuu..kalau memang harus begitu

(Bawang Putih melihat lampu ajaib, di tengah panggung lalu mengambilnya.Terlihat mimik heran di wajahnya.)

Bawang Putih       : Teko air? Jangan-jangan ini lampu ajaib, dan kalo aku gosok-gosok akan keluar jin yang akan mengabulkan semua permintaanku. (bawang Putih mengusap lampu ajaib itu, lalu audio kemunculan peri terdengar)

(Muncul peri dari balik tangga panggung yang sebelumnya tidak terlihat oleh penonton)

Bawang Putih       : Loh kok keluarnya peri jadi-jadian sih?

Peri                        : Hehehe, jin penghuni lampu ini lagi izin pesiar, sebagai gantinya akulah yang keluar dari lampu ini karena kamu telah menggosok-gosok lampu ini.

Bawang Putih       : Oh aku tau, sekarang peri sedang piket jaga ya, makanya ga bisa izin pesiar?

Peri                        : Hehehe, kurang lebih begitchu. Baiklah, ada yang bisa saya bantu nyonya….? (menanyakan nama)

Bawang Putih       : Bawang Putih.

Peri                        :  Ya, nyonya Bawang. (melirik penonton) nama yang aneh. (mengucapkan pada penonton)

Bawang Putih       : Begini peri, ……………………………………….. (dialog kosong diisi hanya dengan gerakan dan audio pengiring) begitu, bagaimana kumaha pripun? Apakah peri bisa bantu?

Peri                        : (Nangis terharu dengan gaya humor) Malang benar nasibmu.

Bawang Putih       : Ih kok peri jadi nangis. Ni aku ada permen buat peri jadi jangan nangis ya.

(Peri melihat permen dan terlihat dengan ekspresi kecewa, lalu nangis lagi)

Bawang Putih       : (manyun) nih ada uang. (menunjukan uang seribu)

Peri                        : (lihat seribu dan menunjukan pada penonton, ekspresi nolak lalu memberi lagi pada Bawang Putih, nangis lagi deh)

Bawang Putih       : (manyun, balik badan ngambil 100rb di selipan sarungyang dipakainya, balik bdan lagi) nih!! (terpaksa)

Peri                        : (menunjukan uang 100rb pada penonton, ekspresi nangis berubah jadi gembira) Horee… Baiklah, peri bisa kabulkan keinginan Bawang Putih. Dengan cara, kamu pergi ke tengah hutan untuk mencari sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang kurcaci. Disitu kamu akan menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu cari, tapi ingat pepatah berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian.

Bawang Putih       : Ih aneh, udah bikin rakit kok malah renang. Tulalit deh.

Peri                        : Heh! Itu artinya bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Jadi dalam perjalanan, kamu akan menemukan rintangan yang akan kamu hadapi, jika kamu berhasil melewati rintangan itu, maka kamu pasti akan menemukan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang sangat bahagia dengan membawa kebahagiaan yang bahagia nan senantiasa bahagia. (saat penjelasan dialog ini si Bawang Putih mengangguk-anggukan kepala) Paham kan?

Bawang Putih       : Kagak. (tampang muka bloon)

Peri                        : Heh! Ya sudah, ini ada garam, trasi, dan timun. Saya yakin di dalam perjalanan kamu akan membutuhkan benda-benda ini.

Bawang Putih       : Buat apa peri?

Peri                        : Buat makan sama nasi uduk! (kesel) ya bukanlah, nanti di tengah perjalanan kamu akan menemui berbagai rintangan termasuk bersiaplah bertemu dengan seekor monster hijau, rayulah monster itu agar bisa memakan makanan ini, jika tidak kamu akan di sandera oleh dia dan malah di bawa ke KUA. Hati-hati.

Bawang Putih       : Oh.

Peri                        : Baiklah waktu peri tidak banyak, peri patuhi jam malam dulu ya alias mau tidur.

Bawang Putih       : Ya udah, makasih ya Peri. Nanti bangun jangan lupa pencet alarm pagi. Kan piket jaga.

Peri                        : Iya-iya…. (audio peri menghilang)

(Bawang Putih sendiri di panggung, Cuma beberapa langkah kedepan, datang Buto Ijo dengan pakaian hijau, celana hijau, dan kulit serba hijau. Menghampiri Bawang Putih dengan audio suara laki-laki ketawa dan audio musik tegang)

(Bawang Putih bengong terpana dan terpatung, si Buto Ijo mencoba menakut-nakuti dengan suara ketawanya yang seram kepada bawang Putih, tetapi ekspresi bawang Putih tetap terpana dan terpaku di tempat. Kejadian berulang-ulang hingga Buto Ijo kesal)

Buto Ijo                 : Yah, kagak takut. (logat betawi)

(Bawang Putih membalas dengan suara audio kuntilanak, sehingga Buto Ijo ketakutan)

Bawang Putih       : Yah cemen, hei Buto Ijo! Tadi aku ketemu peri, menyuruhmu untuk memakan ini. (menunjukan garam, trasi dan timun)

Buto Ijo                 : Buat apa?

Bawang Putih       : Aku juga kurang tau, (tampang bingung yang so manis) Mungkin dia tau kau lapar, makanya diberi ini. Makan yah?

(Audio musik iseng mulai)

Buto Ijo                 : Kagak.

Bawang Putih       : Ayo makan. (kayak nyuruh anak kecil makan)

Buto Ijo                 : Kagak. (intonasi yang berbeda)

Bawang Putih       : Makan-makan-makan.

Buto Ijo                 : Kagak-kagak-kagak.

Bawang Putih       : Nang-ning-ning-nang-ning-kreng, ayo-ayo-ayo makan?

Buto Ijo                 : Kagak-kagak-kagak.

Bawang Putih       : Makan!

Buto Ijo                 : Ihh, kagak!

Bawang Putih       : Huft, dasar anak kecil. Makan aja susah. Lihatlah penderitaan diluar sana, ada rakyat yang cari makan saja susah, dan ini udah dikasih makan gratis malah nolak. Syukuri apa yang diterima, Jo. (tampang demokratis)

Buto Ijo                 : (tampang nangis terpaksa) Iya-iya aku makan. Hiks.

(Buto Ijo mendekat dan duduk di tengah sambil memakan makanan yang diberikan Bawang Putih)

Bawang Putih       : Nah, gitu donk. Anak pintar. (mengelus kepala Buto Ijo)

(Audio kentut, pret. Bawang Putih mengernyitkan dahinya, mendengar audio kentut berulang-ulang)

Bawang Putih       : Ih!!! Jorok.. (menutupi hidungnya)

Buto Ijo                 : Aduh, gawat mau pup dulu. Kamu jangan kemana-mana, tunggu disini! (audio kentut yang keras) Aduhhhhh!!!! Idah di ujung! (audio kentut) Ah!!! (lari terbirit-birit ke belakang panggung).

Bawang Putih       : Malang sekali. Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan.

Narator                  : Bawang Putih dengan mantap memulai perjalanannya. Dengan berani dan tanpa rasa takut, ia menyusuri hutan terlarang seorang diri, Tanpa ia sadari tiba-tiba seorang nenek lusuh datang mendekati Bawang Putih.

(audio tegang mulai)

Nenek sihir            : Hehehehe. (tepat dibelakang Bawang Putih)

(Bawang Putih merespon melihat sekitar, tanpa melihat dibelakangnya)

Nenenk sihir          : Hehehehe. (lagi)

(Bawang Putih melihat kebelakang,tapi merspon lambat. Diam dahulu melihat nenek sihir, lalu teriak. Nenek sihir memasang ekspresi terkejut sembari menutupi telinganya)

Nenek sihir            : Hey anak muda, sedang apa kau disini?

Bawang Putih       : Hey anak tua, kenapa kau tanya-tanya?

Nenek sihir            : Hehehe, berani sekali kau bertanya seperti itu padaku. Hehehe, kau tidak tau siapa aku?

Bawang Putih       : Memangnya kau siapa?

Nenek sihir            : Aku adalah penguasa hutan terlarang ini, wahai anak muda.

Bawang Putih       : Penguasa? Tunggu kalau begitu nenek tau seluk beluk hutan ini. Nenek yang cantik, bisakah aku meminta pertolongan?

Nenek sihir            : Hehehe, (mengeluarkan kaca dari bajunya, lalu mengaca dirinya) Ternyata benar kata suamiku si Kakek Sihir, aku masih terlihat cantik.

Bawang Putih       : (Hem,,, batuk yang menjadi-jadi)

Nenek sihir            : Hehehe, saya lupa. Pertolongan apa yang kau pinta dariku wahai anak orang.

Bawang Putih       : Tadi aku bertemu dengan peri, dan ia memberitahuku dengan menyusuri hutan terlarang ini, aku akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari. Bisakah kau menuntunku menyusuri hutan ini?

Nenek sihir            : Hohoho, baiklah sekarang kamu ikut denganku. Akan kutunjukan jalan menuju kebahagiaan itu.

(Audio petir menyaring bunyi disertai musik tegang, Bawang Putih memasang muka takut. Lighting dimainkan, masuk 4 orang pria ke dalam panggung dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Mengelilingi si Bawang Putih yang berada di tengah panggung. Persiapan lagu Lengser Wengi disertai paduan suara)

Nenek sihir             : Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet

(audio kuntilanak. Bawang Putih yang sedari tadi menggelar sajadah dan bersimpuh menghadap penonton dengan sikap memohon doa)

Bawang Putih       : (Sikap doa berlebihan)

(nenek sihir yang dari tadi cekikikan,  jadi memfales suara ketawanya)

Nenek sihir            : Ndak mempan.

(audio tegang menjadi-jadi, ternyata muncul pocong putih dan kuntilanak dari sisi panggung. Audio suara pocong dan kuntilanak terdengar. Nenek sihir ketakutan dan lari terbirit-birit di tengah panggung, stelah itu keluar. Dan 4 orang pria hitam, yang dari tadi ga tahan untuk menjaga image cool akhirnya ngacir juga.)

(Bawang putih yang dari tadi berdoa ala Fitri Tropika, akhirnya membuka mata dan melihat sekitar. Perlahan dengan wajah gembira, ia melirik sekitar tak ada siapapun)

Bawang Putih       : Wah, sesuatu. aku kira, bakal diculik, disandera, dibekap, lalu dijual, lalu dibawa ke luar negeri, jadi pembantu, pembantu Justin Bieber, pdkt, pacaran, nikah, punya anak, dan akan hidup berbahagia. Huhuhu. Cukup, mungkin bukan takdirku seperti itu, aku harus menyusuri hutan ini untuk menemui kebahagiaan kata si Peri jadi-jadian itu.

  Narator

Pada akhirnya Bawang Putih terus berjalan menyusuri hutan belukar dan semak-semak belukar, hingga ia sampai ke sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang kurcaci. Dan detik-detik menuju kebahagiaanpun akan ia dapat.

(setting panggung dengan sebuah kursi di tengah panggung, pot bunga yang bertebaran, dan slide yang ditampilkan adalah sebuah rumah yang indah. Di dalam panggung sudah ada sosok pangeran yang terbaring di atas kursi dan 5 orang kurcaci yang sedang melakukan pekerjaan serta 2 orang kurcaci sedang merawat pangeran yang tertidur di bangku. Bawang Putih masuk dari samping panggung.)

Kurcaci 1               : Kurcaci 3 (sebut nama), musrikkkkkkkkk……

(lagu Iwa peye-trio macan  mulai. Dance menyesuaikan)

Bawang Putih       : Hem, permisi. (ragu-ragu dengan suara pelan)

(Tidak ada respon dari 7 kurcaci)

Bawang Putih       : Permisi. (ucapan yakin)

(Semua kurcaci berhenti aktivitas dan semua menoleh pada Bawang Putih. Ekspresi kurcaci seperti senang dengan kehadiran bawang Putih, merekapun satu sama lain saling berbisik dan akhirnya mereka berkumpul membelakangi Pangeran.)

Bawang Putih        : Mohon izin sebelumnya, kedatanganku ke sini atas instruksi yang diberikan oleh peri.

All Kurcaci            : Peri?? (kaget dengan ekspresi beraneka ragam)

Bawang Putih        : Iya, memang kenapa ya?

(Semua Kurcaci berembug menghadap penonton dan membelakangi Bawang Putih)

Kurcaci 1               : Akhirnya waktu yang kita tunggu-tunggu datang juga.

Kurcaci 2               : Akhirnya sang Putri yang membangunkan Pangeran datang juga.

Kurcaci 3               : Akhirnya pangeran bisa terbangun dari tidur lelapnya.

Kurcaci 4               : Akhirnya kutukan itu akan berakhir.

Kurcaci 5               : Akhirnya kita dapat hidup dengan bahagia.

Kurcaci 6               : Akhirnya kita dapat hidup dengan bahagia.

Kurcaci 1,2,3,4,5   : (menggeplak kepala Kurcaci 6) Udah, ndul.

Kurcaci 7               : Akhirnya (ucap dengan yakin, ucapannya tertahan selama tiga detik dan terdengar suara audio kentut, prêt) Aku kebelakang dulu, mau pup. (sambil memegang pantatnya dan lari terbirit-birit)

(Kurcaci 1,2,3,4,5,6 selesai berembug, lalu menghadap Bawang Putih yang dari tadi melong melihat kurcaci rapat.)

Kurcaci 1               : Kurcaci 2 (sebut nama), tolong ambilkan buku mantra itu.

(Kurcaci 2 langsung lari mengambil Buku Mantra yang sudah tersimpan di sudut panggung lalu memberikannya pada Kurcaci 3)

Kurcaci 1               : Wahai Putri Salju, kamu datang ke tempat yang tepat.

Bawang Putih        : Sebentar. Aku ini bukan putri salju.

Kurcaci 5               : Setidaknya kau disuruh peri untuk ke tempat ini bukan?

Bawang Putih        : Iya (tampang bingung)

Kurcaci 4               : Jadi selamat, sekarang kau berubah nama jadi Putri Salju.

Bawang Putih        : Oh gitu yah? (ketawa maksa)

Kurcaci 1               : Begini Putri, lihatlah Pangeran yang tertidur di atas bangku itu. Dia tertidur sudah cukup lama. Ia di mantera oleh Cinderella, karena ia tidak mau menikah dengan Cinderella.

Kurcaci 3               : Iya, bayangkan saja. Cinderella dengan belek di mata dan bulu ketek kemana-mana.Siapa yang mau?

Kurcaci 1               : Untuk itu, kami meminta peri agar membawakan seorang wanita yang baik hatinya untuk membangunkan sang Pangeran.

Kurcaci 6               : Iya, dan kau lah yang datang.

Bawang Putih        : Terus apa yang harus aku lakukan?

(Kurcaci 1 menyuruh Kurcaci 3 memberikan buku mantra dan membukakan halaman tengah untuk dibaca oleh Bawang Putih.

Kurcaci 1               : Nyanyikanlah lagu itu untuk Pangeran, niscaya pangeran akan bangun.

(Lagu belum terpikirkan, ada ide?)

(Pangeran terbangun dari tidurnya, semua kurcaci senang berlebihan.)

Pangeran                : Kau kah yang membangunkan aku?

Bawang Putih        : Iya, Pangeran.

Pangeran                : Putri Salju, maukah kau mendengar perkataanku?

Bawang Putih        : Pangeran tapi aku bukanlah Putri Salju, aku adalah Bawang Putih.

Pangeran                : Bawang? Bagaimana dengan harga Bawang di pasaran?

Bawang Putih        : Melonjak naik, Pangeran. Padahal harga BBM tidak jadi naik.

Pangeran                : Kau tidak usah memikirkan itu, Putri. Yang pasti kau akan hidup bahagia denganku.

(Sebelumnya audio romantis berubah menjadi audio petir mengiringi Pemuda datang bersama Bawang Bombay dan Bawang Merah.)

Pemuda                  : Bawang Putih, jadi kamu udah berpaling dariku? (terharu)

Bawang Putih        : Tidak, kamu salah paham. (memelas) Tunggu! (menyadari sesuatu) bukankah kamu yang diluan selingkuh dariku?

Pemuda                  : Kamu salah, Bawang. Aku selalu tetap micentaimu (terpotong)

Bawang Putih        : Micen tai??

Pemuda                  : Maksudku mencintaimu.

(Pangeran bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Bawang Putih yang sedang berbicara dengan Pemuda.Pemuda dan Bawang Merah kaget.)

Pemuda & BM       : Paijo?!

(Semua yang ada di panggung terpaku selama tiga detik)

Bawang Bombay   : Bawang Merah, kamu kenal dia?

Bawang Merah      : Iya mamah, dia itu Paijo. Kekasihku yang pernah ceritain ke mamah.

Bawang Putih        : Dia bukan Paijo, dia adalah pangeran. (menunjuk Pangeran)

Pangeran                : Baiklah, aku akan ceritakan hal yang sebenarnya. Begini, sebenarnya aku… (terpotong)

Semua yang ada di panggung kecuali Bawang Merah dan Pangeran            : HUAAPAAAAHHHH??!!!!!! (terkejut)

Pangeran                : Belum diceritain.

(Semua langsung bersikap normal dan memasang telinga untuk mendengarkan Pangeran)

Pangeran                : Sebenarnya saya bukanlah Pangeran.

All, kec Pe & BM  : HUAAPAAAAHHHH??!!!!!! (terkejut)

Pangeran                : Boleh saya lanjutkan? (merasa terganggu)

(Semua langsung hening, walau dengan raut muka terkejut mereka langsung mendengarkan ucapan yang akan disampaikan Pangeran)

Pangeran                : Dialah pangerannya. (menunjuk pemuda)

All, kec Pe & BM  : HUAAPA (langsung menutupi mulut masing-masing)

Kurcaci 1               : Pangeran apa maksud semua ini?

Pangeran                : Sang pangeran yang sesungguhnya ingin menemui gadis yang dicintainya di sebuah desa, tetapi dia sengaja melepas atribut dia sebagai pangeran. Karena dia tidak ingin masyarakat desa heboh mendengar pangeran melamar gadis desa. Dan akhirnya kita bertukar posisi untuk sementara.

(Kurcaci 7 masuk)

Pemuda                  : Benar, ini semua hanya untukmu bawang Putih.

(Bawang Putih tersipu malu dan Kurcaci 7 jadi sasaran pemukulan Bawang Putih.Tiba-tiba terdengar audio kentut dan kurcaci 7 kembali keluar panggung. Pangeran dan Pemuda menunduk dihadapan Bawang Merah dan Bawang Putih )

Pangeran dan Pemuda  : Bawang, menikahlah denganku.

(Musik Endless Love  mulai. Bawang Putih dan Bawang Merah tersipu malu)

Bawang Merah dan Bawang Putih : Iya pangeranku.

(Suasana ceria di panggung tergambarkan, di slide yang ditampilkan terdapat kembang api. Di atas kursi penonton berhamburan kertas warna-warni dan balon yang berhamburan ke kursi penonton. Audio petasan dan kembang api mewarnai panggung, dan lirik lagu Glen mengakhiri drama musikalisasi)

Narator

Dan pada akhirnya Bawang Putih dan Bawang Merah menemukan kebahagiaan dengan menemukan pasangannya.Inilah kisah hidup yang romantic dari 4 sejoli yang mencari cinta.

~~~~THE END~~~~

Naskah Film : Friend Forever

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

Pemeran film sekolah berjudul, “Friend Forever”

Arkan : karakternya netral, peran utama yang menguasai cerita

Faiz : keliatan modis dengan pakaian yang ia pakai,

Rahmat : agak cupu, berkacamata, pakaiannya selalu rapih

Wahyu : peran lawak, tampangnya juga bikin orang ketawa,

Egi : agak berantakan dari cara ia memakai baju dan rambutnya, terlihat kaya anak nakal

Adesty : terlihat anggun, harus pintar nangis kalo bisa, pakaiannya modis yang menandakan ia terlihat seperti orang pintar

Echa : membawa keceriaan, gerakannya gak kaku saat berbicara sama teman-temannya.

Kelompok pintar : Yudha, Yudi, Sarah, Annannda, Rizki Aulia, Anggit. : be your self

Genk Tercentil : Maya, Mona, Mentari.: centilnya terlihat, gerakan centilnya juga harus bisa

Guru : Bu Ani, Bu Mukti, dan guru yang mngajar di SMA 1 : cara beliau ngajar

Anak kecil : laki-laki dan perempuan. Anak kecil yang beneran. : anak kecil beneran, dan cara pembawannya juga kekanak-kanakan.

Adegan 1

Setting : trotoar

(Musik 1 mulai. Shoot Arkan dari kaki sampai wajahnya, dia menggunakan baju seragam SMA. Dia merapihkan rambutnya, sembari menunggu angkot jurusan sekolah. Terlihat mobil lalu lalang dengan dipercepat. Arkan melihat jam tangannya, lalu menurunkan tangannya kembali tanda bahwa ia takut telat masuk sekolah. Dan akhirnya dengan wajah gembira, angkot yang menjadi penantiannya datang. Arkan melambaikan tangan dan angkot pun menghampirinya, ketika akan naik dan masuk angkot, tanpa sengaja kepalanya terbentur pintu masuk)

Arkan : “Auuwwwww…!!”

(Semua penumpang diangkot pun menahan tawanya)

Sopir : “Alon-alon bae mas.”

(Arkan masuk dan duduk sembari mengusap kepalanya)

Adegan 2

Setting : Lingkungan sekolah

(Musik 1 masih. Shoot kondisi sekolah. 3 kali pengambilan gambar. Arkan turun dari angkot, kembali lagi melihat jam tangan. Shoot jam tangannya yang menunjukan pukul 06.55)

Arkan : “Ahh… belum telat”

(Mulai dari sini, kamera tanpa “cut”. Arkan berjalan masuk dari gerbang sekolah masuk dengan percaya dirinya. Sesekali ia menyapa teman di parkiran motor sekolah. Faiz berlari dari belakang menuju Arkan. Faiz menepuk bahu Arkan tanda menyapa. Arkan membalasnya. Ketika masuk pintu masuk sekolah, Arkan, faiz dan siswa-siswa yang baru datang menyalami guru yang stand by. Setelah masuk lalu absent jempol. Faiz menyapa Genk Nero, genk tercentil di SMA 1 yang terdiri dari 3 orang antara lain, Mentari, Maya, dan Mona. Mereka berjalan menuju ruang BOP, kamera shoot mereka berjalan dari belakang, ketika belok shoot tetap lurus, ada Wahyu dan Egi yang disorot kamera. Wahyu memberi tau Egi dengan menunjuk Arkan dan Faiz.)

Egi : “Wei…!” (sapa Egi menghampiri, kamera mengikuti gerakan Wahyu dan Egi)

(Mereka bertemu dan salam ala Geng mereka. Dilanjutkan dengan gerakan Faiz sendiri yang penuh gaya menghampiri rahmat yang sedang membaca di tempat duduk dekat kolam ikan. Faiz duduk dan merangkul Rahmat, masuk Arkan, Egi dan Wahyu. Setelah mereka berlima dalam satu shoot. Mereka pun beranjak masuk kelas, dengan gaya mereka masing-masing. Di langkah mereka, mereka menyapa teman-temannya yang di lewati. Hingga sampai dibelokan dekat wc, depan 12 sos 2, Rahmat yang masih saja konsentrasi dengan buku sejarah yang ia pegang, tersandung dan jatuh mendorong Arkan di depan. Otomatis yang dibelakang Arkan ikut rejatuh, dan terjatulah mereka berlima, tepat di persimpangan depan 12 sos 2. Faiz terakhir jatuhnya. Semua orang yang melihat mereka terdiam sejenak, tak ada suara, musik 1 pun berhenti sejenak)

(Arkan, Egi, Wahyu, dan Faiz langsung menatap Rahmat.)

Rahmat : “Heheh… peace… maap” (mengacungkan 2 jarinya)

(shoot dari tangga wc ce sesaat, terlihat semua orang terdiam. Shoot wajah mereka berlima yang melihat ke depan dengan rasa malunya. Shoot lagi dari tangga wc ce yang melihatkan semua orang bertepuk tangan dan tertawa melihat kejadian jatuhnya 5 orang tersebut. Nakal ya? Musik pun kembali bunyi)

(Bel masuk pun bunyi, shoot anak-anak lain yang pada masuk kelas sambil ledek 5 orang yang jatuh itu. Terdengar suara, “bukannya bantuin malah diketawaain, tapi gapapa ding. Lucu sih… wkwkwkw”)

Adegan 3

Setting : Kelas

(Seorang guru. Dialah bu Mukti. Shoot dari kaki hingga wajah beliau. Musik 1 pun berhenti)

Bu Mukti : (menjelaskan UAS sebentar lagi, sedangkan materi sejarah belum selesai dibahas. Dan beliau bilang hari ini selesai atau tidak selesai dibahas semua, ulangan harus siap)

(Mulai penjelasan Bu Mukti seperti biasa, beliau menjelaskan tentang Perang Dingin. Ruangan interaktif, tetapi Arkan malah asyik dan sms Adesty, pacar Arkan kelas 11. Hp’y disembunyikan dibalik tas yang diletakkan di atas meja. Shoot hp’y. “yank, nnti istirahat ktemu ya, bls. Luph U” lalu di send, dan kembali ke wallpapernya yaitu gambar Arkan dan Adesty. Arkan pun tersenyum. Tiba-tiba Bu Mukti beri pertanyaan)

Bu Mukti : “Arkan, siapa yang menandatangani surat perdamaian dari pihak Rusia terhadap Amerika?”

(Rahmat, teman sebangkunya paham jika Arkan tidak tau jawabannya. Dengan lekas, Arkan menulis jawabannya di selembar kertas di hadapannya. Arkan melihat tulisan Rahmat dan segera menjawab)
Arkan : “……., Bu”

Bu Mukti : “Ya, benar. Jadi….. (menjelaskan kembali tentang perdamaian perang dingin)”

(Arkan menghembus nafas panjang, tanda leganya bisa menjawab. Ia pun mengacungkan jempol kepada Rahmat tanda ucapan terimakasih)

Adegan 4

Setting :Koridor kelas 11

(Shoot Adesty dan Arkan yang berjalan di koridor kelas 11)

Adesty : “Mas, ke kantin yuh.”

Arkan : “ok, kamu yang traktir aku, ya?” (candanya)

Adesty : “Yehh.. seharusnya Mas yang traktir aku.. uhh…” (pukul manja pada bahu Arkan)

(datang Desi, teman Adesti menghampiri mereka berdua. Desi menyapa Arkan sopan)

Desi : “Ades, ayo cepet, ini kan rapat padusmu.” (ajak desi)

Adesty : “oh iya, maaf hampir saja lupa. Mas, aku ikut rapat dulu ya. Maaf banget mas, aku tinggal gapapa?”

Arkan : “ya sudah, aku mau ke perpus dulu aja.” (tersenyum)

(adesti dan Desi pamit)

Adegan 5

Setting : Dareah ruang BK, dan perpustakaan

(shoot Bu Ani selaku , guru BK dan Egi. Bu Ani sedang menasihati Egi)

Bu Ani : (Penjelasan Bu Ani jika ada anak yang nakal dan nilai dari kelas 1 sampai sekarang menurun)

(Egi hanya diam dan terkadang hanya menganguk. Di setting lain, Arkan masuk pintu wilayah perpus. Mau masuk ke perpus, perhatiannya terhenti karena melihat sahabatnya, Egi yang sedang bersama Bu Ani. Tanpa ragu, Arkan pun menguping dibalik sela jendela tanpa diketahui Bu Ani. Shoot lagi Bu Ani yang menasehati Egi melanjutkan dialog awal. Di setting lain, Rahmat melihat Arkan di depan ruang BK, Rahmat berada di dalam perpus bersama Kelompok orang pintar, diantaranya Yudha, Sarah, Ananda, Yudi, Rizki Aulia dan Anggit. Shoot dahulu situasi di perpus, kelompok orang pintar itu mendebatkan tentang soal Biologi UM UGM. Konsentrasi rahmat terpecah antara debat dengan melihat gerak-gerik Arkan. Setting lain, shoot Arkan lagi mendengar perkatan Bu Ani kepada Egi. Tiba-tiba, faiz dan Wahyu sudah berada di samping Arkan tanpa diketahuinya.)

Arkan : “Busyet! (suara keras) Hus, Keget, gila.. (bisiknya)!”

(Faiz dan Wahyu tertawa nyengeh, khususnya wahyu dengan tertawa ala Sponge bob. Shoot Bu Ani melirik ke jendela yang menyadari Arkan telah mendengarkan ucapannya pada egi)

Bu Ani : “Temanmu (melirik dengan matanya) Ya sudah lebih baik, kamu harus lebih semangat lagi dalam belajar. (penjelasan motivasi)”

(Shoot Rahmat tersenyum dan pamit keluar pada kelompok orang pintar yang daritadi debat dengan mempertahankan argumennya. Yah.. dasarnya orang pinter c… Shoot Rahmat bergabung dengan Arkan, Faiz, dan Wahyu)

Rahmat : “Ada apa c heboh amat?”

Arkan : “Sssttt…. (sembari menyuruh yang lain mendekat) Si Egi, masuk ruang BK lagi.”

Faiz : “hahh?kok bisa?insyaf dia?”

Wahyu : “kayonge, ketangkep maning keh..”

Rahmat : “Ketangkep satpol PP?” (polos)

Arkan : “Bukan, bro. Dia kayanya… (terpotong)”

(Arkan melihat Egi yang sudah berdiri di belakang meraka disusul dengan Rahmat, Wahyu dan Faiz melihatnya secara satu per satu)

Arkan : “(melanjutkan kalimat terpotong) pintar dan baik hati.”

(Semuanya tertawa dengan terlihat maksa, dan lagi-lagi Wahyu tertawa dengan ala sponge bob)

Faiz : (merangkul Egi keluar diikuti yang lain) “Ayo cuy, ceritakan.”
Wahyu : “Yaul, ana apa maning keh”

(Di koridor depan lab komputer atas, levelitas diatur)

Egi : “Nilaiku turun dari tiap semester, makanya aku ditangkep Bu Ani.”

Wahyu : “Tangkep?” (berbungah)

Egi : “Maksudnya dipanggil, bro.. Kalian tau ndiri lah kondisi orangtuaku”

Rahmat : “Menurutku sendiri, itu bukan alasan, gi. Tunjukan bahwa kamu bisa hidup mandiri dan bisa sukses. Aku yakin, lama-lama ortumu pada sadar bahwa anaknya itu membanggakan mereka”

Arkan : “masalah pelajaran makanya kalo diajak belajar bareng ma kita, jangan bawaannya males mulu. Lumayan tuh, les gratisan dari Rahmat.”

Faiz : “Kita ini sobat, kita hidup ga sendiri.”

Wahyu : (Wahyu nangis lawak)

(suasana jadi mencair, suasana keharmonisan terlihat)

Egi : “Thanks ya, bro.”

Adegan 6

Setting : Koridor kelas 12, pulang sekolah

(Di ruang kelas. Arkan, Wahyu, dan Faiz sudah menggunakan tas, sedangkan Rahmat belum bergegas)

Arkan : “Yuh balik.”

Rahmat : “Diluan aja, aku diajak belajar bareng buat persiapan UM UGM sama anak-anak OSN”

Arkan : “Ya wis, diluan yak. (diikuti Wahyu dan Faiz pamit pada Rahmat)”

(Rahmat sudah bergegas, bawa tas dan hendak keluar kelas. Saat keluar Musik mulai, shoot Genk tercentil sekolah. Maya, Mona dan Mentari. Mereka tampil mengesankan. Rahmat gugup, dan masuk kelas lagi dengan nafas ngos-ngosan. Suasana kelas sudah sepi. Ngintip lagi dari balik pintu, tanpa sengaja tatapan Mona berpapasan dengan mata Rahmat. Rahmat kembali sembunyi. Setelah mencoba untuk menenangkan diri, Rahmat memberanikan keluar kelas dan langkahnya gugup melewati genk tersebut. Setelah lewat 3 langkah dari hadapan mereka, Rahmat langsung ngacir dan bersembunyi di daerah ruang ganti baju di bawah wc. Dia ngos-ngos-an sambil ngaca.)

Mona : “Rahmat.” (sapa halus Mentari)

(rahmat terkejut dan gugup tanpa berkata-kata)

Maya : “Kok gugup, suka ya sama kita-kita?”

(rahmat tetap gugup)

Mentari : “Rahmat, kamu kan baik hati, ganteng pula… (padahal tampangnya cupu). Mau gak, bantu kita ngerjain soal UAS?jawabannya di sms ya..?”

Mona : “Ya?” (rayu)

Maya : “Ya?” (rayu)

(Tanpa sepatahkata, Rahmat langsung jalan percepat dengan tatapan terus ke depan. Tanpa disadari tembok dihantamnya. Duukkk!!)

Rahmat : “Awww!”

Adegan 7

Setting : Aula sekolah

(Arkan, Wahyu dan Faiz dengan membawa tas pulang bersama karena mereka 1 kos. Pas di aula, mereka bertemu salah seorang anggota padus.)

Lia : “Hai mas.. Mas, mau anter ades ke jakarta?”

Arkan : “Jakarta?”

Lia : “He em.. Aku sedih deh, ades ternyata jadi pindah.”

Faiz : “Pindah?”

Arkan : “Maksude? Aku gak paham.”

Lia : “Lohh.. Adesty kan mau pindah sekolah, soale bapaknya pindah dinas. Masa mas belum diceritain sih?

Wahyu : “Pindah sekolah?”

Lia : “Belum ya?” (merasa bersalah plus heran)

(shoot Arkan, Faiz, dan Wahyu yang heran)

Adegan 8

Setting : Tempat duduk dekat kolam ikan

(Di tempat itu hanya ada Arkan, dia duduk termenung untuk menunggu Adesty. Tak lama kemudian, Adesty berjalan dari belakang Arkan mendekatnya dan duduk di sampingnya)

Adesty : “Mas” (tersenyum) Sudah lama ya, Mas?”

Arkan : “Nggak.” (jawabnya dingin)

(Suasana hening sejenak, shoot kamera jauh, lalu dekat lagi.)

Adesty : “Mas, ada suatu hal yang harus aku omongin ke Mas.”

Arkan : “Aku juga.”

Adesty : “Mas dulu., saja.”

Arkan : “kamu dulu.”

Adesty : “Gapapa, mas dulu saja.”

Arkan : “Kamu dulu.”

Adesty : “Mas… (mau membalas lagi, tapi terhenti) Ya sudah, aku dulu.”

(Arkan mengangguk dengan dinginnya tanpa melihat Adesty)

Adesty : “Mas, jam 4 sore hari ini, aku harus pergi.”

Arkan : “Ke Jakarta.”

(Adesty sedikit terkejut, lalu dengan beraninya untuk berbicara lagi ia terus menahan tangis)

Adesty : “Maafkan aku, Mas. Aku… (terpotong)

Arkan : “Kenapa kamu sembunyikan hal ini?”

Adesty : “Aku… (menahan tangis)”

Arkan : “Kenapa!?! (membentak dan berdiri)

(suasana hening, Adesty menangis)

Adesty : “Aku gak tega bicara hal ini, Mas.”

Arkan : “Kamu tega.”

Adesty : “Mas, tolong ngertiin perasaan aku… Aku.. (terpotong)”

Arkan : “Cukup. Aku gak peduli lagi, tolong pergi dari sini. Kita putus”

(Adesty langsung menampar Arkan, menangis perlahan mundur dan pergi dengan menangis. Shoot, Arkan duduk terlemas menyesali perbuatannya tadi)

Adegan 9

Setting : Kos

(Shoot, Faiz dan Wahyu duduk di ruang tamu Kos. Arkan masuk rumah tanpa melihat ada faiz dan Wahyu, tatapannya terus ke depan. Terlihat pasrah,. Melihat itu, Faiz dan Wahyu mendekat)

Wahyu : “Gimana, Kan?”

(Arkan tidak menghiraukan dan masuk kamar. Diikuti Faiz masuk kamar, wahyu mau masuk tapi segera dicegah)

Faiz : “Dia lagi sedih, ngelawaknya nanti saja.” (langsung masuk)

(Faiz masuk kamar dan segera duduk di hadapan Arkan)

Faiz : “Dari raut mukamu, aku dah bisa nebak.”

Arkan : “Aku dah mutusin dia, iz.”

Faiz : “Loh kok bisa?” (heran)

Arkan : “Aku dah gak peduli lagi”

(faiz terdiam dan berusaha untuk menguasai suasana hati Arkan)

Arkan : “Jam 4 ini, dia akan pergi ke Jakarta.

(Arkan melihat jam dinding pukul 14.05 dengan gelisah)

Faiz : “Yakin, kamu dah gak peduli lagi?”

Arkan : “Ya.” (ragu)

Faiz : “Bohong! Udahlah gak usah cemen, kejar dia sebelum dia pergi. Itu saranku.”

Arkan : “Apa urusanmu?” (dingin)

Faiz : “Aku ini sobat mu, Kan!”

Arkan : “Tinggalkan aku sendiri.”

(Faiz terlihat kecewa dan keluar kamar. Dalam kesendirian, Arkan terlihat gelisah dan selalu meliat jam dinding di kamanya. Waktu terus berlalu, hingga tepat pukul 15.45 akhirnya ia punya tekad tuk keluar dan ingin menemui Adesty)

Arkan : “Fren, aku keluar dulu.”

Faiz : “Mau kemana?” (menahan bahu Arkan dengan curiga)

Arkan : “Adesty.”

Faiz : “Naik angkot? Kamu gak ngerti apa, angkot nge-time mulu. (liat ke Wahyu) Yu, pinjemin vespamu.”

Wahtu : “Vespa? (kaget lebay) Ok..ok..”

(wahyu melempar kunci Vespa pada Arkan)

Arkan : “thank, bro.”

Faiz : “yayaya… Dah sana..”(faiz mendorong Arkan tanda untuk bergegas)

(Arkan menyalakan wespa, shoot Arkan di jalan naik motor. Tiba-tiba hampir sampai rumah Adesty, terlihat alat pengukur bensin di motor habis. Motorpun berhenti. Arkan kesal, dan langsung berlari menuju rumah Adesty. Helm masih dipakai, lalu dilepas dan dibanting saat berlari. Hingga dibelokan menuju rumah Adesty, terlihat Adesty sedang naik ke mobil. jalan Arkan jadi perlambat sambil menghela nafas. Saat mobil melaju, Arkan langsung berlari kembali)

Arkan : “Ades!!!!!” (teriaknya sambil berlari)

(shoot Adesty dari dalam mobil dan melihat kebelakang dari jendela mobil terlihat Arkan yang berlari mengejar mobil. Adesty hanya pasrah dan langsung menangis dengan menutupi mulutnya. Shoot Arkan pun berlari dan berhenti karena mobil tak terkejar, iapun terjatuh di sampingnya ada 2 orang anak kecil laki-laki dan perempuan. Arkan hanya menunduk.)

AP : “mirip film korea, sedih huhuhu.” (nangis dipundak bocah laki-laki)

AL : “cup.cupcup. Sabar ya..”

Adegan 10

Setting : Dimana-mana Arkan berjalan

(Mulai dari shoot jam dinding dan Arkan, Arkan duduk di tempat duduk dekat kolam ikan, lalu di di kantin. Dan yang terakhir masuk adegan 11)

Adegan 11

Setting : Sekolah

(Di tempat yang sepi dari keramaian siswa, ia duduk sendiri dengan memegang buku dan pensil. Arkan melukiskan wajah Adesty di secarik kertasnya. Echa melintas, dan melihat Arkan sendirian. Echa segera mendekat diam-diam,, mengintip apa yang dilakukan Arkan dengan secarik kertasnya itu)

Echa : “Wah cantik sekali lukisannya.”

Arkan : “Oh, kamu Cha.”

Echa : “Siapa tuh? Wah imajinasimu hebat juga yah.. (tertawa)”

Arkan : “Kamu gak kenal?”

Echa : “Loh, emang salah satu teman kita ya?”

Arkan : “Adesty kelas 11.”

Echa : “Kelas 11 aku ndak terlalu kenal. Kenalin donk pacarmu,” (ledeknya)

Arkan : “Dia dah pindah ke Jakarta. Sampai saat ini sama sekali gak ada kabar dari dia.”

Echa : (Raut mukanya turut prihatin) “maaf ya, aku ngomong macem-macem.”

(Rahmat, Faiz, Wahyu dan Egi mendekati Arkan.)

Faiz : “Arkan, mau sampai kapan kamu kaya gini terus?”

Rahmat : “Bentar lagi UAS, aku harap nanti kamu mau ikut belajar bareng ma kita.”

Egi : “Kamu ingat kan dulu pernah nasehati buat belajar bareng, Sekarang giliranku, ayo persiapkan buat UAS.”

Wahyu : “Eeh.. (mau ngomong tapi ga jadi) Iyah..”

Arkan : “Jujur, aku gak semangat.”

(Shoot Echa narik lengan Wahyu)

Echa : “kenapa sih?”

Wahyu : “Begitu ceritanya.”

Echa : “Yeyy..”

(shoot Arkan)

Arkan : “Makasih ya, kalian dah peduli.”

Rahmat : “Arkan, kamu ingat gak? Kita berlima sahabat, jika satu diantara kita dalam kesusahan, kita janji akan saling bantu cari jalan keluar. Kita ini sobat, dan aku harap perlahan, kamu bisa keluar dari permasalahan ini. Kamu pasti bisa.”

Faiz : “Benar, Kan. Gak baik, larut terus dalam kesedihan. Oke?”

(Arkan terlihat tersenyum)

Egi : (merangkul lalu 5 sahabat itu mengumpulkan tangan kanannya menjadi satu) “Friend Forever….!” (teriak mimpin)

(semua kompak menjawab, “yaul!!!”, setelah itu shoot Echa tersenyum melihat 5 orang itu)

Adegan 12

Setting : Cuplikan ringkas di segala tempat

(Musik mulai, dialog redam tapi tetap menunjukan yang di shoot percakapan. Shoot pertama : Arkan, rahmat, Faiz, Egi, Wahyu, dan Echa di perpustakaan. Tampak yang mimpin belajar Rahmat yang menjelaskan materi pelajaran pada teman-temannya. Lingkungan belajar harmonis, Arkan sudah mulai tersenyum walau masih terlihat guratan sedih di wajahnya. Shoot kedua : Echa lagi nerangin materi pada Arkan berdua, sedangkan yang lain misah. Yang lain usil, ledekin Arkan dan Echa yang lagi berdua. Tapi dilempar stip oleh Arkan balas candaan juga yang mengenai Wahyu. Wahyu nangis lawak. Shoot ketiga : Ruang BOP, bu kris kasih kartu UAS pada Arkan, faiz, Egi, Wahyu, dan Rahmat diakhiri “terimakasih Bu.” Tapi dialog tetap diredam karena musik tetap main. Shoot ke empat : UAS dimulai, kalo bisa ambil gambar yang saat kelas 11 ini lagi UTS agar terlihat alami sampai bel masuk. Shoot ke lima : Ruang kelas lagi UAS, tapi isi ruangan gak nyata, terdiri dari para pemain di 1 ruangan minimal 17 orang. Ada Arkan, Egi, Faiz di dalam ruang itu, shoot guru yang membagikan kertas terlihat kertas yang dibagikan kewarganegaraan. Shoot ke 6 : kalender yang dirobek atau dicoret. Shoot ke 7 : lembaran kertas hari ke-2. Shoot ke 8 : coretan kalender atau kalender yang dirobek. Berulang samapai hari terakhir yaitu bahasa jepang. Shoot terakhir : di aula Arkan, faiz, rahmat, Egi dan Wahyu, kembali menyatukan tangan kanan mereka dan berkata “sukses!!”. Dan musik pun berakhir)

Adegan 13

Setting : Koridor kelas 12

(Pengumuman UAN-Live. Di layar ada tulisan “26 April 2010”. Shoot ekspresi siswa yang harap-harap cemas, atau ekpresi yang pantas di ambil. Tidak mesti pemeran yang diambil tapi natural. Shoot rasa bahagia siswa yang lulus, usahakan cari siswa yang nangis.)

Adegan 14 (Ada prolog)

Setting : Koridor kelas 12

(Musik sedih. Dari keramaian berganti sepi. Di pohon cinta, terlihat Arkan yang melihat sekitarnya. Tempat kelas 12 yang penuh kenangan. Flashback masa lalu, mulai dari rekaman bersama Adesty, Perpisahan Adesty, sahabat yang memberi semangat, kejadian lucu, ruangan kelas, guru satu persatu di shoot yang mengajar anak kelas 12.)

(Setelah flashback, Egi, Wahyu, faiz, Rahmat dan Echa. Satu persatu menghampiri Arkan yang duduk di pohon cinta.)

Arkan : “Setelah kita keluar dari SMA 1 ini, kita akan berpisah. Kamu (shoot Rahmat) akan ke UGM, kamu (faiz) ke Jakarta, kamu (Wahyu) akan ke semarang, kau (Egi) ke purwokerto dan kamu Echa akan ke Bandung. Tak ada yang abadi di dunia ini, pasti kebersaman ini akan berakhir pada perpisahan. Aku pasti merindukan kalian, teman. Friend forever. Tapi ku harap, kita masih tetap berhubungan walau dalam jarak jauh.”

(Arkan, Faiz, Egi, Wahyu, dan Rahmat saling merangkul membentuk lingkaran dan Echa duduk memandanginya dengan menahan tangis. Lagu yang menandakan kenangan pun diputar, kalo saran lebih baik ambil lagu Peterpan yang aku dan kenangan, kalo bukan itu Elemen yang Waktu terus berlalu)

The End