Berbagi Pengalaman (7) Pantai Elyora Batam

Bagi kalian pecinta pantai dan berdomisili di Batam, pasti kenal dan setidaknya pernah mengunjungi Pantai Elyora Batam. Pantai ini terletak di Barelang Ujung setelah Jembatan 6, Galang Baru, Kota Batam. Tempat ini jadi salah satu rekomendasi tempat wisata di Batam, selain dari keindahan alamnya terdapat fasilitas penyebrangan ke pulau seberang, banana boat, gazebo, tempat kemping, dan tentunya bisa berenang karena memiliki ombak yang tenang. Di Pantai Elyora juga terdapat fasilitas MCK yang dapat digunakan serta Mushola, sehingga tidak perlu khawatir pulang dengan basah kuyup jika kalian selesai berenang. Tiket masuk ke pantai dengan harga Rp 10.000 per orang, biaya sewa Gazebo Rp. 50.000, biaya bilas/mandi Rp. 5.000 per orang dan biaya BAB/BAK Rp. 2.500.-.  

Oke pesan cukup sekian pengenalan singkat tentang Pantai Elyora, banyak blog-blog, vlog-vlog, dan artikel lain yang bahas tentang Pantai Elyora jika kalian tertarik.. hehe.. Lanjut lagi ke Berbagai Pengalaman selanjutnya.. 😀

Sabar dan Bersyukur adalah kunci menikmati kehidupan. Jalani Harimu dengan Senang Hati, dan ingatlah Bahwa ALLAH SWT sudah mentakdirkanmu untuk melihat MASA LALU sebagai pembelajaran, MASA DEPAN sebagai impian, dan HARI INI sebagai HARIMU Untuk Berjuang, Bersabar jika terjadi cobaan, dan Bersyukur jika telah diberikan nikmat dan karunia-Nya. Man Jadda wajada…!!!

Berbagi Pengalaman (6)

Melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Sandi Negara ibarat mengarungi sekolah kehidupan. Tak hanya mendapatkan ilmu akademik, namun sekolah ini melatih mahasiswa untuk mengasah kemampuan diri baik di bidang olahraga, keagamaan, organisasi, serta attitude sehingga lulusan Sekolah Tinggi Sandi Negara merupakan sosok-sosok pilihan yang siap bergabung dalam kehidupan bermasyarakat. Perjalanan berawal dari mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Sandi Negara (SPMB STSN) dan berakhir menjadi seorang wisudawan Sekolah Tinggi Sandi Negara.

SPMB STSN merupakan titik awal ujian untuk seluruh peserta lulusan SMA jurusan IPA yang berkeinginan melanjutkan pendidikan di STSN. Seleksi berawal dari pendaftaran online pada website STSN dengan tenggang waktu satu bulan untuk mengisi formulir pendaftaran, serta calon mahasiswa wajib memenuhi syarat-syarat pendaftaran yang telah ditentukan. Setelah batas waktu pendaftaran onine berakhir, calon mahasiswa diminta untuk melakukan pendaftaran ulang serta seleksi administrasi dengan melakukan verifikasi formulir secara langsung di Sekolah Tinggi Sandi Negara.

Seleksi tahap awal dimulai, para peserta SPMB STSN mengikuti tes akademik dengan materi Tes Potensi Akademik (TPA), Matematika, dan Bahasa Inggris. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal selama 180 menit. Pada tahap ini merupakan proses seleksi dengan jumlah peserta gugur terbanyak, karena dari ribuan peserta hanya 300 hingga 400 peserta yang lolos ke tahap tes Psikologi. Pada tes Psikologi, peserta SPMB STSN mengikuti rangkaian kegiatan tes yang bertujuan untuk mengukur kompetensi berdasarkan kepribadian dan intelejensi. Sehingga peserta yang lulus dari tes Psikologi merupakan para calon mahasiswa yang memenuhi profil sebagai seorang insan sandi. Selanjutnya adalah tes kesehatan dan kebugaran yang berlangsung dua hari, dengan tim pemeriksa kesehatan dari dokter serta perawat, dan tes kebugaran dengan didampingi oleh tim satuan pengasuhan mahasiswa. Hari pertama yaitu tes kesehatan, peserta SPMB STSN melalui pemeriksaan dari tes mata, gigi, urin, tinggi badan, berat badan, paru-paru, tensi darah, dan beberapa pemeriksaan penyakit dalam lainnya. Sedangkan tes kebugaran yang berlangsung pada hari kedua, peserta mengikuti rangkaian tes, yaitu lari selama dua belas menit, pull up, push up, shit up, dan shuttle run. Dari tes kesehatan dan kebugaran hanya ada 100 hingga 150 peserta yang lolos ke tahap selanjutnya, yaitu tahap Wawancara. Pada tahap Wawancara, peserta SPMB STSN mengikuti tes tertulis Mental Ideologi (MI) dan rangkaian wawancara yang terdiri dari wawancara tentang pengetahuan kewarganegaraan, wawancara akademik, dan wawancara psikologi. Peserta yang lolos dari tahap Wawancara akan mengikuti tes terakhir, yaitu tahap Pantukhir. Tes terakhir ini merupakan keputusan akhir yang menentukan calon peserta pantas atau tidak untuk menjadi mahasiswa STSN, dengan diwawancarai langsung oleh pejabat struktural Lembaga Sandi Negara dan Sekolah Tinggi Sandi Negara.

Dari rangkaian tahapan SPMB STSN yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, menghasilkan angkatan baru yang siap untuk menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Sandi Negara selama empat tahun.

Selamat datang di kehidupan Sekolah Tinggi Sandi Negara.

Menjalani kehidupan di STSN selama empat tahun, tidak hanya belajar akademik di gedung perkuliahan namun termasuk gedung asrama, perpustakaan, ruang makan, tempat ibadah, fasilitas olahraga merupakan prasarana yang disediakan untuk meningkatkan kompetensi dan kepribadian bagi setiap mahasiswa. Sehingga saat masa orientasi kampus atau yang lebih dikenal dengan Program Pembentukan Mahasiswa Baru (PPMB), mahasiswa sudah ditanamkan lima prinsip angkatan agar dapat melalui kehidupan bersama di lingkungan STSN. Lima prinsip angkatan tersebut, yaitu saling tolong menolong, saling bekerjasama, saling mengingatkan, kami bersaudara, serta masuk dan lulus bersama.

Dalam hal akademik, beban studi yang ditempuh selama empat tahun oleh mahasiswa STSN adalah 146 Satuan Kredit Semester (SKS). Pada semester kedua, mahasiswa berhak memilih antara dua program studi yaitu Program Studi Teknik Persandian dan Program Studi Manajemen Persandian. Sedangkan pada semester ketiga, mahasiswa pada Program Studi Teknik Persandian berhak memilih antara dua bidang minat yaitu Teknik Kripto dan Teknik Rancang Bangun Peralatan Sandi.

Terdapat empat angkatan dengan masing-masing tingkatan serta evolet yang berbeda. Tingkat satu merupakan mahasiswa baru yang memiliki evolet berwarna hijau, tingkat dua memiliki evolet berwarna kuning, tingkat tiga memiliki evolet berwarna merah, dan tingkat empat yang merupakan mahasiswa senior memiliki evolet berwarna biru. Masing-masing tingkatan memiliki beban akademik yang berbeda, bermula dari tingkat satu yang berkutat dengan materi nilai-nilai dasar, seiring dengan naik tingkat maka materi yang dipelajari semakin merucut ke arah ilmu persandian, khususnya untuk tingkat empat yang memiliki kewajiban untuk menuntaskan Tugas Akhir dengan tema sesuai dengan program studi yang ditempuh.

Dengan syarat menuntaskan 146 SKS beban studi dan menjadi mahasiswa yang taat peraturan tanpa terlibat pelanggaran berat terhadap Peraturan Kehidupan Mahasiswa (Perdupma), maka mahasiswa tersebut berhak dinyatakan lulus dalam menjalankan pendidikan di Sekolah Tinggi Sandi Negara. Perjalanan sebagai seorang mahasiswa berakhir dengan prosesi wisuda bagi mahasiswa yang berhasil lulus pendidikan di STSN. Pengucapan janji wisudawan diikrarkan sebagai pegangan yang harus dijalankan, sehingga dapat senantiasa menjunjung tinggi kehormatan almamater Sekolah Tinggi Sandi Negara sebagai insan persandian Indonesia untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa.IMG_20150126_114007_1422247288700

Berbagi Pengalaman (5)

Selamat Pagi, Siang, Malam para pembaca blog My Name Is Arif.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman yang ke 5 di blog ini. Kali ini saya akan ajak pengunjung blog ke kehidupan asrama.

Asrama? Ada apa? Postingan ini mungkin ada kaitannya dengan pertanyaan teman-teman pada Berbagi Pengalaman 3 tentang kehidupan di asrama. Dimulai dari kehidupan di barak (saat menjadi paling junior), hingga beranjak ke kamar (udah senior, :D).

CIMG5441

 Menjalani kehidupan berasrama dalam satu barak bersama 27 orang putra, tentunya ‘nano-nano’. Kenapa? Yak, karena mau tidak mau kalian harus bergabung dengan mereka, dari interaksi sosial, saling memahami, saling berbagi, saling membantu, dsb. Masing-masing orangpun memiliki keanekaragaman karakter, ada yang usil, rame, baik, pendiam, bawel, dll. 😀 Jadi satu sarat utama biar betah di barak asrama adalah SALING MEMAHAMI.

Sebenarnya dari awal ospek, kami sudah dibimbing oleh senior untuk menjalani kehidupan di asrama dan tentunya kehidupan kampus. Terdapat lima prinsip yang harus kami pelajari dan pahami, yaitu saling tolong menolong, saling bekerjasama, saling mengingatkan, kami bersaudara, serta masuk dan lulus bersama. Dari lima prinsip itu, dengan sendirinya membuat kami terbiasa dengan kehidupan bersama.

Misal ke contoh saling tolong menolong…. 😀

Tentunya masing-masing telah memahami kondisi yang dimiliki oleh temannya. Nah misalkan nih, saya lagi kehabisan ongkos untuk pulang, dan ada teman saya yang mempunyai rejeki berlebih. Bisa tuh untuk sementara pinjam dulu, tapi jangan lupa diganti. Pasti bakal dipinjemin deh… (tega amat kalo ga dipinjemin, :D). Atau kasus lain, misal kalian sedang kesulitan dalam belajar, kalian bisa langsung tanya tuh sama yang jago di bidangnya. Dari 27 orang yang berada di barak, tentunya ada orang yang diberi kemampuan berlebih dalam memahami pelajaran. Dengan saling tolong menolong, yakin dah! Tiap semester yang kalian jalani di kampus ini akan aman. (Ga ada yang DROP OUT)

Belajar Bareng

Kehidupan berasrama juga melatih kita untuk saling bekerjasama…

Untuk membersihkan barak dan asrama yang cukup luas, tentunya harus ada pembagian tugas untuk membersihkan tiap ruangan. Ada yang bagian barak, kamar mandi, lorong, ruang belajar, teras, bahkan hingga menyiram bunga. Haha. 😀 Dan dalam waktu yang tak lebih dari 15 menit, barak dan asrama dalam keadaan cling. Gambar di bawah ini foto ruang belajar ketika berantakan…. 😀

ruang belajar

Tentunya kita sudah tau kapan hari ulang tahun teman-teman seangkatan. Biasanya kita suka kasih kejutan baik berupa kue ulang tahun, didoakan, diselamatin, bahkan dikerjain. 😀 Nah untuk foto yang dibawah ini adalah ketika si baju warna hijau ulang tahun. Walau gak semua saat itu yang bangun, sebagian dari kami membangunkan si baju hijau tepat tengah malam dengan kue dan lilin yang menyala. Diluar ulang tahunnya, bahkan ada yang lebih sadis, yaitu dibanjur, dijeburin, dikasih kucing, atau dengan ‘penyiksaan’ lain yang masih dalam batas kewajaran untuk mewarnai hari ulangtahunnya.

CIMG1179

Dari situlah menjadikan kami memiliki rasa kebersamaan, kekompakan, dan saling bla bla bla antar satu angkatan.Kehidupan di asrama itu melatih kita untuk saling berbagi. Gak mau kan kalo kalian kenyang sendiri tetapi tetangga kalian lapar? Nah… Biasanya dari teman-teman di asrama, selalu memberi makanan yang dimiliki baik itu secara ditawarkan maupun secara diminta. Hhe.. Pernah suatu kejadian, waktu bawa moci yang lumayan banyak dari Sukabumi, gak lebih dari lima menit langsung habis dilalap manusia-manusia lapar. Begitulah huru-hara ketika disajikan makanan… (ada videonya si.. tapi saat ini berupa gambar dulu, :D)

IMG-20141213-WA0001

Beranjak ke kehidupan di kamar, ga ada bedanya sama kehidupan di barak. Ya perbedaannya, kamar itu dihuni 2 orang sedangkan barak 28 orang. Biasanya kalo bosan di kamar, kadang ada juga teman-teman yang main ke kamar lain, dari sekedar berkunjung, belajar, ngobrol, minta asupan makanan, bahkan nginep di kamar lain. Kalo nginep itu biasanya saat malam minggu, karena berhubung teman sekamar pulang ke rumah jadi bisa mampir tuh nginep ke teman yang sendirian..

CIMG5964

Ya, mungkin sekian yang bisa saya ceritakan mengenai asrama. Hampir 4 tahun telah berkecimpung di dunia asrama menjadikan banyak pembelajaran yang didapat dari teman-teman seangkatan, senior, maupun junior. Pesan bagi mahasiswa yang mau berasrama atau mau nge-kost.. Ya harus siap-siap menerima apa adanya perilaku baik maupun yang kurangberkenan di hati kalian. Pesan nih, ambil saja positifnya… Untuk negatifnya, kalo bisa ditegur ya syukur tapi kalo susah ya sudahlah.. 😀

Sekian, semoga menginspirasi… Sampai jumpa di Berbagi Pengalaman berikutnya..

Berbagi Pengalaman (4)

Pada kesempatan di artikel ini, saya akan berbagi pengalaman pada hari ini yang cukup membuat hati ini gerimis.

Jumat, 28 Juni 2013.

Saya mengawali hari ini dengan terbangun sekitar pukul empat lebih. Seperti biasanya, ketika saya terbangun selalu melihat waktu melalui hp yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Saat melihat layar handphone, terdapat 4 pesan yang belum terbaca. Dari nomor yang tidak dikenal, yang mengirimkan sms berisi nomor rekening, sms tausiyah gratis dari aagym, serta dua sms dari keluarga.

 

mama m3

28/06/2013 02:45

“Assalammualaikum…

Arif td jam 12’n uu meninggal dunia..,

doain ya..,

smoga amal ibadah beliau d trima d sisi Allah Swt,amin..”

 

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un…

Buyut, ibu dari Mbah Putri telah kembali ke Rahmattulah tengah malam tanggal 28 Juni 2013. Hal tersebut cukup membuat saya terpukul.

Teringat saat SMA, saya bersekolah di SMA Negeri 1 Tegal. Menjadi seorang anak pindahan dari Sukabumi bertanah Sunda, menuju lingkungan baru bertanah Jawa. Selama di tegal, saya tinggal bersama kedua mbah (Mbah Kakung dan Mbah Putri) dan Buyut (ibu dari Mbah Putri).

Mungkin banyak yang heran, kenapa saya bisa tinggal bersama tiga orang yang telah berumur lebih dari 60 tahun dalam satu rumah. Ya, itulah pilihan yang saya ambil dengan matang ketika berada di SMP untuk bersekolah dan tinggal di Tegal walau pada awalanya orangtua kurang setuju, tetapi pada akhirnya dengan segala rayuan yang ada, saya diberikan izin untuk sekolah di mantan sekolah ibu di Tegal dan tinggal bersama mereka.

Disana, saya banyak menerima pelajaran tentang kehidupan, khususnya dari almarhumah buyut. Beliau terkadang menceritakan masa lalunya saat masa penjajahan Jepang, yang membuat saya seakan kembali ke masa itu. Teringat beliau selalu membangunkan saya saat adzan subuh berkumandang, mengajarkan amalan serta wirid harian yang selalu ia lakukan rutin, hingga candaan serta perilaku beliau yang membuat saya merasa senang di dekatnya.

Beliau juga pernah menghibur saya dengan sebuah lagu Jepang, yang masih ia ingat saat masa penjajahan yang keras itu. Entah judulnya apa, yang jelas saya masih menyimpan rekaman itu.

Miyuta okaeno sora akete. Watashi otakaku ya karakeba. Okichi no okichi no, kasuto suto, I bau arekeu …….” (titik-titik itu lirik yang lupa) Rekaman itu masih tersimpan di komputer rumah Sukabumi, ingin sekali segera mendengarnya. Walau raganya sudah tak ada. .

Waktu terus berlalu, hingga kelulusan SMA, beliau terlihat sangat sedih saat menghitung hari saya harus pulang ke Sukabumi untuk berjuang melanjutkan kuliah. Beliau malah menyarankan agar saya melanjutkan kuliah di Tegal. Bahkan beliau menyelipi sebuah kalimat tanya yang saat itu saya hanya menjawab dengan gurauan.

“kalo kamu pergi, uyut mau cerita sama siapa?”

Itulah ucapan beliau, yang seakan-akan tersirat bahwa dia sangat kehilangan.

Selain itu, terkadang di setiap perbincanganku dengan beliau, ia mengatakan. . .

“Kalo uyut sudah gak ada, jangan lupa sama uyut. Kirim doa untuk uyut, Yasin, alfatihah..”

Dan ketika hari-H, saya meninggalkan Tegal untuk kembali merantau ke Sukabumi, jelas ucapan perpisahan dari beliau dengan tangisan serta pelukan yang erat yang hingga saat ini gambaran perpisahan itu masih teringat jelas dalam benak ini.

Dan Jumat, 28 Juni 2013 adalah lembaran akhir dari kisah yang diukir oleh buyut. Segala ilmu, pengalaman, dan kasih sayangmu akan selalu saya ingat.

Setiap yang berjiwa pasti akan meraskan kematian. Hidup dan mati ini adalah takdir Allah, manusia hanya tinggal menunggu tanggal mainnya..

Semoga hidup tenang, Buyut….

Berbagi Pengalaman (3)

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi pengalaman mengikuti ujian masuk ke Sekolah Tinggi Sandi Negara. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk adik-adik calon mahasiswa yang berminat untuk masuk ke sekolah yang menurut saya “Alhamdulillah” itu. 😀

Tahun 2010 sebenarnya saya pernah daftar ke perguruan tinggi ini, tapi saya harus berhenti berjuang hingga tes psikotes yaitu ujian tahap ke-3 (saat iu). Tahun 2011, saya mengikuti ujian SPMB STSN lagi, berawal dari kerja keras disertai ikhtiar hingga berakhir dengan manis. Ya, saya masuk ke dalam 40 orang pilihan STSN.

SPMB STSN 2011, saya sudah pantau websitenya dari 1 bulan sebelum pembukaan pendaftaran online. Saat itu, website sudah di update oleh pihak STSN, pebukaan pada awal april (kalo gak salah). Pendaftaran hari pertama pada pukul 07.00 pagi, saya membuka link pendaftaran, dan saat mendaftar saya berada di pendaftar ke-15 saat itu. Jangka waktu 1 bulan pendaftaran online, akhirnya hanya terdapat 1814 pendaftar online. Pengumuman selanjutnya adalah calon mahasiswa diminta untuk pendaftaran ulang dengan verifikasi secara langsung di Sekolah Tinggi Sandi Negara untuk selanjutnya mengikuti tes akademik di gor dekat ragunan. Saat verifikasi, gunanya untuk kepastian peserta pendaftar, dengan bukti KTP atau kartu identitas lainnya. Mungkin yang agak kaget, saya ditanya nomor telepon orang tua yang saya cantumkan di pendafataran online. Untungnya saya bisa jawab.

Tahap selanjutnya, beranjak ke tes akademik. Tahun 2010, saya melakukan tes akademik di Sekolah Tinggi Sandi Negara, tetapi untuk tahun 2011 saya melakukan tes akademik di Gor Ragunan. Dengan ragu-ragu akan tujuan, saya sendiri menuju ke daerah ragunan untuk pertama kali. Saya berangkat pukul 10 pagi dari Sukabumi, sampai sana siang menjelang sore. Sempat menjadi gelandangan disana, karena seperti orang ilang untuk mencari tempat yang dituju. Tanpa malu tanya kesana-kemari, akhirnya saya temukan juga Gor Ragunan tempat tes akademik. Jika tidak salah saya lihat dari jumlah tempat duduk, hanya 1400 yang melakukan verifikasi ulang.

Jujur, pengalaman saat di Ragunan. Saya berusaha cari tempat penginapan atau kos yang ada di daerah tersebut, tetapi apa daya usaha mencarinya pun sia-sia. Daerah kos dan penginapan sudah penuh terisi oleh para peserta SPMB. Hingga pukul 20.00, tujuan saya bukan untuk mencari tempat penginapan, melainkan tempat singgah apa saja yang bisa dijadikan untuk tempat tidur. Syukur alhamdulillah, saat itu saya masih bisa tidur di mesjid dalam kompleks Gor Ragunan, ditemani oleh para peserta pendaftar yang tidak kebagian penginapan atau mungkin mereka memang sengaja untuk mengirit uang dengan menginap di mesjid. ( tujuan sama, hha 😀 hemat Rp. 50.000). Tetapi resiko yang saya dapat, saya susah untuk tidur. Mungkin saat itu, saya baru bisa tidur jam 2 pagi, dan bangun jam 4 pagi, karena adzan subuh. Nyamuklah penyebab utamanya,, 😥

Tes masuk, dilakukan secara dua gelombang. Saya termasuk ke dalam gelombang pertama. Saat tes, saya berusaha melawan ngantuk sekaligus menghadapi soal-soal MIPA, TPA, dan Bahasa Inggris. Tetapi alhamdulillah semua berjalan lancar. Hingga pengumuman akan diumumkan satu minggu kemudian. Perjalanan pulang dari Ragunan ke rumah, saya lagi-lagi “kesasar” dengan naik busway untuk pertama kalinya… *_* Tak apa, semua bisa jadi pengalaman baru…

LOLOS!! Alhamdulillah tes akademik bagi saya, bukan sebagai penghalang masuk untuk menjadi calon mahasiswa. Saat itu, jumlah pendaftar yang diterima hanya 400 orang. Selanjutnya adalah mengikuti tes psikotes, yang akan diadakan langsung di Sekolah Tinggi Sandi Negara. Berangkat setelah subuh dari Sukabumi, saya melaju dengan angkutan umum menuju kampus idaman saya waktu itu. Seperti halnya tes psikotes pada umumnya, saya mengikuti alur tes dari a-z, yang dimulai dari jam 9 pagi hingga sore.

Menunggu dan menunggu hasil pengumuman selanjutnya, akhirnya untuk tahun 2011 saya berhasil lolos untuk ke tahap berikutnya. Sontak, itu sedikit kejutan. Karena saya mempunyai peluang untuk bisa masuk ke STSN, saat itu calon mahasiswa/i yang diterima hanya 200 orang. Jadi ada peluang sekitar 1/5 untuk masuk ke STSN.

Tahap selanjutnya adalah tahap administrasi, saat itu hanya mengumpulkan lampiran-lampiran administrasi berupa ijazah, skck, surat tanda sehat, dll… Semua, sebagai sarat masuk untuk ke tahap berikutnya yaitu tes kesehatan dan olahraga.

Masuk ke tahap ke-4 ini, terbagi menjadi dua hari. Tes kesehatan pada hari pertama dan tes olahraga pada hari kedua. Saat itu, saya tidak mungkin untuk berangkat-pulang-berangkat dari Sukabumi ke Bogor, saya pun mencari tempat penginapan rumah warga disekitar kampus. Dengan biaya Rp. 25.000 semalam, saya bisa menginap disana dengan fasilitas seadanya.

Hari pertama, saya mengikuti rangkaian tes kesehatan dari tes gigi, mata, urin, tinggi badan, berat badan, paru-paru, dll. Tensi darah tak luput di cek, saya dengar dari dokternya ternyata tensi darah saya sedikit lemah. Katanya “jarang olahraga ya, Mas.” Saya jawab “iya”. Haha 😀

Hari kedua, tes olahraga. Walau cukup melelahkan dengan mengikuti lari memutari lapangan selama 12 menit, pull up, push up, shit up, shuttle run, saya bisa dibilang rata-rata ke bawah dibandingkan dengan yang lain. Saat selesai tes, saya pulang dengan rasa pesimis. Karena dihari pertama, saya dapat teguran jarang olahraga, ditambah dengan hari kedua, hasil tes olahraga saya termasuk yang palling rendah. Saya laporan ke orangtua dan merekapun mengucapkan “Ya, serahkan saja sama Allah. Mudah-mudahan diberi hasil yang terbaik, jangan lupa berdoa”.

Dan alhamdulillah hasilnya diluar prediksi, saat hasil pengumuman di umumkan. Saya masuk ke dalam 100 orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Rasa dag-dig-dug menunggu pengumuman terbayar sudah dengan mengucap syukur bisa lolos ke tahap ke-5.

Tes selanjutnya adalah wawancara. Tes ini, mungkin salah satu tes vital untuk pantas atau tidaknya calon mahasiswa yang layak untuk masuk STSN. Saya mengikuti 3 tahap tes wawancara, yaitu wawancara akademik, wawancara psikologi, dan wawancara tentang pengetahuan kenegaraan. Tak heran, saat mengikut tes ini pasti ditanya “macem-macem” dari A-Z. Saran untuk adik-adik yang masuk ke dalam tahap ini, utamakan JUJUR dan jaga etika. 😀 okey!

Wawancara apa adanya di tes tahap ke-5, menempatkan saya ke dalam 78 peserta yang lolos ke dalam tes pantukhir. Apa itu pantukhir? tes ini merupan final, untuk menentukan siapa saja yang layak masuk ke dalam 40 orang pilihan STSN. Tak tanggung-tanggung, kami ber-78 orang itu akan diwawancara langsung oleh para petinggi Lembaga Sandi atau pihak penyelenggara STSN. Hanya ditanya sekitar dua puluh menitan, keluar ruangan. Dan pengumuman selanjutnya adalah menunggu hasil tiga hari kemudian di web STSN. Siapa saja yang akan masuk sebagai mahasiswa/i STSN angkatan 10.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, (sedikit lebay :p ) untuk menunggu hasil, AKHIRNYA!!!!!!! Saya membuka pengumuman pada pukul 11 malam…. Dengan berhadapan depan komputer rumah disertai modem yang sedikit lemot, saya masuk ke dalam 40 orang itu.

Terharu! Karena mengintip rangkaian cerita selama satu tahun ke belakang. Perjuangan itu terbayar manis, dengan hadiah dari Allah…. 😀 Akhirnya saya bisa juga masuk ke STSN yang katanya memang sekolah GRATIS dan insyaAllah tak serumit PTK atau PTN lain…. Sayapun pun melakukan registrasi ulang, untuk menjawab kepastian sebagai mahasiswa STSN angkatan 10 ke kampus STSN….

Dan kesan saya setelah masuk menjadi mahasiswa. “Kalian tidak akan pernah menyesal untuk masuk sini.”

Pesan untuk adik-adik calon mahasiswa, jangan takut mendaftar dan mencoba di STSN. Usaha disertai doa, insyaAllah kalian masuk ke sekolah impian ini. 🙂 Tetap semangat dan berjuang…. 😀

Next, Berbagi Pengalaman (4). Tentang apa ya? Tunggu aja, hahahah…. 😀

Berbagi Pengalaman (2)

Ok, akhirnya saya menyempatkan diri untuk bercuap di blog ini…  Setelah ditinggal vacum sejak 31 Maret 2012. (hampir 11 Bulan, -_-). Sesuai janji saya sebelumnya, yang akan menceritakan konflik terbesar yang bisa dijadikan pembelajaran kehidupan bagi rekan-rekan pembaca. MOHON MAAF. Kali ini saya, “mohon izin” meng-cancel, cerita itu karena ada satu dan lain hal. 🙂

Kali ini, saya sekedar share pengalaman saya selepas kerja dari  operator warnet hingga sebelum menjadi seorang mahasiswa PTK. (bisa dibilang naik level, huhuhu. Alhamdulillah…). Berawal dari bulan Februari 2011, sekitar awal bulan saya memutuskan untuk berhenti bekerja menjadi operator warnet, dan ingin berkarya diluar dunia kerja maupun dunia akademik. Lalu ngapain tuh? Yang pasti bukan pengangguran….

Semenjak keluar dari warnet, saya masih melanjutkan hobby saya sebelumnya yaitu berselancar di dunia maya. Salah satu situs yang  saya buka adalah mengenai berbagai ajang perlombaan, baik itu lomba cerpen, lomba novel, lomba foto, dll. Melihat usaha saya seperti itu, mantan rekan kerja saya di warnet menawarkan suatu ajang perlombaan catur kepada saya. Tak ragu-ragu, telusur demi telusuri sarat dan ketentuan lomba catur yang diadakan di Kota Sukabumi itu, akhirnya saya mengikuti lomba itu dengan biaya pendaftaran 15 ribu rupiah. Saat mengikuti lomba itu, kebanyakan yang daftar adalah para bapak-bapak, dan setau saya hanya ada dua orang siswa SMP dan dua orang yang sebaya dengan saya.

Sedikit bocoran, dulu saat saya kelas 2 sd, pihak sekolah dasar telah memberanikan diri mengirimkan saya untuk ikut perlombaan catur se kecamatan. Seingat saya itu sistem gugur, dan saya mengalahkan dua peserta dengan umur diatas saya…

Jadi dengan pengalaman itu, mungkin rekan-rekan blogger pasti bisa menebak seberapa besar prestasi saya diperlombaan tingkat kota yang sebagian besar dihadiri oleh bapak-bapak. Ya! saya posisi 48 dari 76 peserta. 😀 Kalah 4 kali, dan menang WO 2 kali, statistik yang mengagumkan. (menang karena WO, T_T)

Lantas, semua itu saya jalani dengan enjoy dan apa adanya. Saya rasa pengalaman merupakan harta yang berharga untuk langkah kita ke depan.

Berlanjut ke pengalaman baru yang kedua, yaitu ikut audisi Penghuni Terakhir di studio ANTV Jakarta Timur. Pengalaman ini berawal dari kata nekad. Hhe, awalnya orangtua kurang setuju saya mengikuti ajang seperti itu, tapi seiring rayuan dari hari ke hari, akhirnya beliau mensetujui.

Kata setuju dari ortu, jika tidak salah dua hari sebelum keberangkatan saya ke Jakarta (SENDIRI), tanpa mengetahui lokasi dan hanya berbekal dari google maps. Saat tiba di daerah kampus UKI Jakarta Timur, tanpa ragu saya bertanya kepada para penjual yang di sekitar kampus. Dan uniknya mereka tidak ada yang tau, bahkan malah memberikan arah yang salah. Saya ikuti arah itu, dan akhirnya setelah berjalan sejauh kurang lebih 1 km, saya masih belum menemukan studio itu. Kembali saya tanya kepada warga sekitar, orang pertama yang saya tanya “TIDAK TAU”, jalan lagi…… dan orang yang kedua yang saya tanya akhirnya memberikan pencerahan “ITU DEKAT UKI MAS”. (Background petir menyambar). Ternyata pedagang yang saya tanya di dekat UKI itu memberikan info yang menyesatkan.

Dan kembalilah saya menelusuri jalanan Ibu Kota, disertai hujan yang cukup wow. (karena saya tak membawa pelindung hujan, dan hanya sebatas jaket kain).

Saat tiba di kampus UKI, saya masih memberikan kepercayaan pada warga sana. Kali ini saya menanyakan kepada tukang ojek, karena mereka pasti tau daerah sekitar sana saking seringnya melanglangbuana dengan motor ojeknya.

“Pak, studio ANTV dimana ya Pak?”

“Oh, ayo naik.”

??? Gampang sekali,kenapa gak dari awal saya langsung tanya tukang ojek. Tukang ojek itu langsung mengantarkan saya ke tempat tujuan,yang memang tidak jauh dari kampus UKI. Mungkin bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit.

Saat turun pertama kali, jreng jreng jreng….. Unik semua mereka yang disana, ada yang menggunakan kostum, make up, asesoris lebay nan alay, kaos warna-warni. Nah,,, sedangkan saya? Dibandingkan saya? hhaha…Gapapa mungkin sang  juri mencari yang sederhana. (apa-iya?)

Audisi pertama dimulai, yaitu mendatakan diri kepada panitia dengan menyertakan formulir data diri dan fas foto. Katanya hanya dengan menyerahkan formulir itu, sang juri sekaligus menilai. (katanya….)

Disuruh tunggu, dan akhirnya tes tertulis….

Taukah apa soal tes tertulis itu? terdiri dari 10 soal essay. Dan hanya menanyakan apa itu cinta? apa itu arti persahabatan? bagaimana pengalaman anda yang menarik? dll… Pertanyaan yang mudah di jawab tapi subjektif untuk menilainya.  Saya jawab seadanya, dan selesai…. Diminta menunggu hingga pengumuman selanjutnya. Waktu menunggu memang cukuplama, hingga sore hari. Sembari menunggu, saya melihat para artis penghuni terakhir sedang berfoto ria dengan para fans nya. Lalu saya juga melihat ada seorang artis yang ternyata mengikuti audi ini.

Dan waktu terus berlalu,,, akhirnya pengumuman itu keluar…. Dengan berdesak-desakan, saya melihat form pengumuman yang terpasang di papan. Dan……..

Tidak ada nomor peserta saya,,, alias gagal…Cukup kecewa, tapi ya… berkali-kali dilihat emang gak ada…

Ya sudah, selanjutnya saya berencana langsung pulang menuju rumah dengan kabar kosong tapi secuil pengalaman baru yang cukup menyenangkan untuk mengisi waktu kosong di luar akademik dan dunia kerja.

Ok,, kedua pengalaman itu semoga bisa diambil yang positifnya. Kritik dansaran,diperkenankan untuk membalasnya via komen. ^^ Kisah akan berlanjut ke pengalaman saya menjelang detik-detik tes ujian masuk ke PTK faforit hingga saya menjadi mahasiswa disana. Next,diberbegipengalaman (3). 🙂

Berbagi pengalaman (1)

Yuhuu, selamat datang bagi para pengunjung blog, baik yang tidak sengaja masuk lewat googling maupun yang sengaja mau meluangkan waktu sejenak di blog ini. Hehehe. Pada artikel sebelumnya, saya lebih sering mengulas artikel mengenai teater, game, hiburan, dll. Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin share dan semoga bermanfaat bagi rekan-rekan.

Mungkin sebagian dari kalian pernah mengalami apa yang terjadi dalam dunia kerja, termasuk saya. Sebelum saya masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan, saya bekerja sebagai operator warnet di salah satu Kota Sukabumi. Kok kerja ? Nah gini temen-temen. Pasca lulus SMA saya berusaha dengan maksimal untuk masuk ke Perguruan Tinggi Kedinasan yang saya minati saat itu, ada total 4 sekolah Perguruan Tinggi Kedinasan yang saya coba, dan berakhir dengan kegagalan satu persatu.

Karena nihilnya hasil yang saya terima, pasca ujian masuk. Saya sempat berpikir, lanjut ke perguruan tinggi swasta, les, atau kerja. Dari tiga pilihan itu, dengan pemikiran yang cukup matang, pada akhirnya saya lebih memilih ke dunia kerja dengan resiko, kemampuan akademik kemungkinan akan turun karena jika bekerja otomatis waktu belajar kosong. Dan terbukti, lebih dari 6 bulan semenjak Agustus 2010 hingga Februari 2011, saya sama sekali tidak membuka buku SMA. (Please, dont try at home, hhe). Ya 6 bulan waktu bekerja itu bagaikan penurunan kualitas kemampuan saya dalam hal akademik.

Kerja sebagai operator warnet selama 6 bulan, tidak mudah sepandang kasat mata. Mungkin rekan-rekan melihat pekerjaan operator warnet, hanya duduk manis di depan pintu dan bertugas sebagai kasir pembayaran para user. Tidak cukup hanya itu. 😀 dari pekerjaan operator warnet, saya dituntut untuk menjaga barang-barang yang berada di warnet, menjaga ketentraman, menjaga sopan santun (tentunya), menjaga ini dan itu. Selain itu, saya sebagai operator warnet, harus sudah siap mental menerima semprotan keluh kesah dari berbagai pelanggan, tentang loading lama, headset gak nyala, web cam ga jalan, print out jelek, bla, bla, dan bla. Sabar. Ya itulah kuncinya menghadapi para pelanggan, ahha.

Pelanggan di warnet saya memang dari berbagai umur, gender, sifat, sikap yang berbeda satu sama lain. Dari itu semua, saya harus bisa menyesuaikan dengan berbagai karakter orang bahkan rasanya sedikit demi sedikit, saya dapat memahami karakter orang sesuai penampilannya. Oke saya potong, mungkin dari rekan-rekan belum pada tau tentang halk ini, saya sedikit kasih bocoran supaya rekan-rekan berhati-hati saat membrowsing di warnet. Si operator warnet dapat mengetahui apa yang dibuka oleh pelanggannya dari Billing Explorer, misal jika saya ingin mengetahui si A  sedang mengakses apa yang berada di komputer paling pojok dengan mudah saya klik “….” di Billing dan eng ing eng….. Saya tau apa yang dia buka, ahha.

Dari hal tersebut, saya mempelari karakter dari setiap muka pengunjung sebelum masuk warnet dan sesudah masuk warnet lalu saya bandingkan dengan situs yang telah si pelanggan buka. Sesuatu sekali. Ya, mungkin ada beberapa oknum, (mohon izin) yang membuka situs aneh-aneh. Tapi ironinya, saya menemukan kumpulan bocah SD dan malah terlihat seperti bocah TK sedang asik membuka situs parah untuk mereka lihat. Sumpah, saat baru pertama kali ada kejadian seperti itu saya kaget. Kok bisa rombongan bocah TK mengakses situs yang tidak seharusnya mereka akses. Dari kejadian itu, saya sebenarnya salah yang sampai saat ini saya menyesal tidak perbuat, yaitu saya tidak menegur mereka. Yang bisa saya perbuat saat itu hanyalah diam-diam mematikan komputer mereka dari PC Operator, ya walaupun sengaja saya matikan komputer mereka, parahnya mereka hidupkan dan mengaksesnya lagi. Ckckck.

Saat itu, saya hanya bisa prihatin. Sebenarnya ada niat buat sidak mereka dan melaporkan pada orang tua mereka, tetapi yah… saya hanya orang yang dikerjakan untuk menjaga ketertiban warnet, bukan menyidak oknum oknum cacat mental.

Dan merekapun terus dan terus berlanjut mengunjungi warnet tempat saya bekerja. Sampai saya keluar dari warnet itu, entah bagaimana kabar mereka. Semoga suatu saat mereka kepergok dan dapat pelajaran dari orang tuanya. Hohoho!!!

Oke ini baru cerita awal, cerita selanjutnya saya akan menceritakan kisah nyata konflik batin TERBESAR sepanjang saya hidup. Tunggu kisahnya, hihihi.

Ini foto yang diambil di mantan tempat kerja.