Menggenggam Dunia – (19) GENIUS

Keunggulan poin untuk Arif pada sesi pertama dengan poin lima ratus, disusul oleh Rahmat dan Aldita dengan empat ratus poin. Hanya selisih seratus poin dari Arif, dilanjutkan dengan sesi kedua yang kemungkinan besar akan terjadi perbedaan poin yang sangat besar. Karena selanjutnya adalah sesi pertanyaan rebutan.

Terlihat Pak Rudi beserta teman-teman Rahmat, merasakan perasaan harap-harap cemas selama berlangsungnya perlombaan cerdas cermat ini. Tak dipungkiri dengan para penonton yang lain, mungkin merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan terhadap jagoan mereka.

“Mas Arkan, kita berdoa saja semoga Rahmat berpeluang mendapatkan poin lebih dari yang lain.” Ujar Pak Rudi terhadapku.

“Iya, Pak. Saya harap juga seperti itu.” Jawabku. “Tapi, dari cara menjawab pada sesi pertama, Arif memang sangat berpotensi untuk lolos ke babak final. Kemampuan menjawab dia, tanpa memerlukan waktu yang lama. Saya salut dengan dia, Pak.”

“Waduh, yang penting kita doakan untuk Rahmat, Mas Akan.” Seloroh Pak Rudi dengan tampang cermasnya.

“Hehe, iya Pak.” Jawabku dengan guyon berharap menenangkan hati Pak Rudi.

“Ya, sesi pertanyaan rebutan ini terdiri dari sepuluh pertanyaan. Jika pertanyaan dijawab benar, akan mendapatkan poin seratus, sedangkan jika pertanyaan dijawab salah maka akan terjadi pengurangan poin seratus.” Ungkap juri perlombaan.

“Baik, pertanyaan masih di dalam amplop yang tersegel.” Ucap sang juri sembari membuka segel yang membuat nuansa hening, karena ketegangan yang berada di ruangan.

“Siap? Soal pertama. Indiche Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Didirikan oleh tiga serangkai. Siapa saja anggota tiga serangkai?”

TETT. Bunyi bel dari meja Arif.

“Arif, silahkan jawab.” Ucap dewan juri.

“Douwes Deker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat.” Jawab Arif.

“Betul! Seratus poin untuk Arif.” Sahut dewan juri diikuti tepuk tangan yang meriah dari penonton terutama pendukung dari sekolahnya.

Jawaban yang dikeluarkannya cukup meyakinkan. Aku melihat Rahmat sedikit agak tertekan diatas panggung. Terlihat tangannya sedikit gemetar, tanda ia memang tidak tenang.

Aku berusaha melambaikan tangan, ia melihat sekilas dengan wajah tanpa senyum. Aku hanya bisa membalas dengan kepalan tangan dan tesenyum untuk menyemangati dia. Dengan harap membuat dia sedikit tenang, diapun membalasnya dengan tersenyum.

“Pertanyaan kedua. Apakah ibu kota dari Negara Turki?”

TETT. Tiga meja bunyi hampir terlihat secara bersamaan, tetapi juri memutuskan bunyi bel pertama kali berasal dari meja Aldita.

“Aldita, silahkan jawab.”

“Istanbul.” Jawab ragu oleh Aldita

“Salah, pertanyaan dilempar.”

TETT. Kali ini bel dari meja Rahmat.

“Ankara.” Jawab Rahmat.

“Tepat! Ibu kota negara Turki adalah Ankara, sedangkan Istanbul merupakan kota terbesarnya. Seratus poin untuk Rahmat, dan kurangi seratus poin untuk Aldita.” Ucap dari dewan juri.

“Ayo, Met! Kamu pasti bisa juara Met!” sahut dari Ipul disertai tepuk tangan rekan-rekannya beserta Pak Rudi.

Jawaban benar dari Rahmat disertai semangat dari Saiful dan rekan-rekannya, membuatnya terlihat sedikit tenang dibandingkan sebelumnya. Memang terlihat sekali, ia berusaha untuk masuk ke dalam suasana lomba yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Aku yakin dia dengan mudah cepat untuk beradaptasi.

“Baik, pertanyaan ketiga. Tari Kipas, Tari Bosara, dan Tari Pakarena, berasal dari provinsi manakah tarian tersebut?”

TETT. Bunyi bel hanya berasal dari meja Arif dan Aldita.

“Iya, Arif terlebih dahulu.”

“Provinsi Sulawesi Selatan.”

“Seratus, untuk Arif.”

Tepuk tangan kembali terdengar dari pihak pendukung Arif. Rekannya dari SD Gentra, nampak tidak setegang dengan apa yang kami rasakan untuk mendukung Rahmat. Mereka terlihat sangat yakin, bahwa Arif akan lolos ke tahap berikutnya. Dan perwakilan gurunya, hanya terduduk manis tanpa rasa excited melihat perlombaan berlangsung.

“Pertanyaan keempat. Bagian pada mata yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk adalah?”

TETT. Bel berbunyi secara serempak oleh tiga peserta.

“Ya, Rahmat. Silahkan jawab.”

“Pupil.” Rahmat menjawab yakin.

“Jawabannya, tepat! Seratus untuk Rahmat.”

Suara tepuk tangan kembali terdengar keras dari kami yang mendukung Rahmat. Perlahan tapi pasti, Rahmat tidak tertinggal jauh dari poin Arif yang hanya selisih seratus poin. Suasana lombapun semakin diliputi ketegangan, terutama dari pihak SD Gentra yang terlihat sudah mewaspadai Rahmat sebagai pesaing terberat perwakilan mereka. Akupun melihat guru yang cuek tadi, sudah menaruh perhatian dengan mengubah posisi duduknya yang terlihat tegang.

“Baik, pertanyaan kelima. Apakah yang dimaksud dengan majas ironi?”

TETT. Hanya Arif dan Aldita yang menekan bel.

“Ya, Aldita yang menekan terlebih dahulu. Silahkan menjawab.”

“Sindiran.” Singkat Aldita.

“Bisa lebih diperjelas lagi?” Pinta dewan juri.

“Oh ya, gaya bahasa yang bersifat menyindir tetapi dengan halus.” Ungkap Aldita.

“Tepat, poin seratus untuk Aldita.” Sahut dewan juri diiringi tepuk tangan dari pendukung Aldita.

“Ya, lima dari sepuluh pertanyaan telah terjawab. Kami akan menyampaikan poin sementara yang diraih dari masing-masing peserta. Saat ini, Arif dari SD Gentra masih unggul dengan tujuh ratus poin, disusul tipis oleh Rahmat dari SD Harapan dengan enam ratus poin, dan Aldita dari SD Dewi Sartika dengan empat ratus poin. Ya, beri tepuk tangan yang meriah untuk peserta kita!” ucap dewan juri.

Dilihat dari jalannya pertandingan, masing-masing peserta masih mempunyai peluang untuk menang dalam babak ini. Dari secara mental mereka semua sudah masuk dalam ritme pertandingan ini, yang dibutuhkan kali ini memang dari segi wawasan dan kecepatan dalam hal menjawab.

“Pertanyaan selanjutnya, yang keenam. Harap simak dengan baik. Mr. Michael goes to the bla bla bla. He wants to swimming with his friend. Lengkapi kalimat tersebut.”

TETT. Rahmat tak berkutik untuk menekan bel, hanya Aldita dan Arif yang menekan bel.

“Terlihat Aldita terlebih dahulu menekan, silahkan menjawab.”

Swimming pool.” Jawab Aldita.

“Silahkan untuk dieja kata tersebut.” Pinta dewan juri.

“Es-doubel you-ai-em-em-ai-en-ji. Pi-o-o-el.”

“Tepat, poin seratus untuk Aldita.” Ucap dewan juri diiringi tepuk tangan penonton yang mendukung masing-masing jagoannya.

“Baik, tersisa empat pertanyaan lagi. Ingat, masing-masing peserta masih memiliki kesempatan yang sama untuk lolos ke babak berikutnya. Diharapkan jangan sampai lengah. Selanjutnya, pertanyaan ke tujuh soal matematika, sediakan selembar kertas.”

Suasana ruangan kembali senyap diikuti ketegangan serta kecemasan yang tersirat pada wajah masing-masing pendukung. Tak kalah tegangnya dengan muka para peserta terlihat gregetan, sembari tangan kanan yang memegang alat tulis serta tangan kiri sudah siap diatas papan bel.

“Tiga jam ditambah dua ratus empat puluh detik sama dengan, berapa menitkah?”

TETT. Hanya Rahmat yang menekan bel dengan sangat cepat setelah juri selesai membacakan soal.

“Luar biasa, silahkan Rahmat.”

“Hem, tunggu.” Ucap Rahmat.

Ternyata yang dipikirkan Rahmat adalah dengan menekan bel terlebih dahulu baru menjawabnya. Ide bagus, tapi cukup rawan bila salah menjawab.

“Baik, kami hitung mundur. Lima… Empat… Tiga..,”

“Seratus delapan puluh empat menit.” Jawab Rahmat sedikit tergesa-gesa.

“Dan jawabannya, BENAR! Tambahan seratus poin untuk Rahmat.”

Yes! Sontak, suara tepuk tangan terdengar dari seluruh penonton, tak terkecuali Pak Rudi serta rekan-rekan yang terlihat berdecak kagum melihat aksi Rahmat.

“Baik, poin sementara Arif perwakilan dari SD Gentra dan Rahmat perwakilan dari SD Harapan memiliki poin yang sama yaitu tujuh ratus poin, lalu Aldita perwakilan dari SD Dewi Sartika dengan poin lima ratus.” Ucap dewan juri yang membuat suasana lomba semakin ramai dengan dukungan kepada masing-masing peserta.

“Tersisa tiga pertanyaan, penonton diharap tenang. Pertanyaan kedelapan, apakah organisasi di Indonesia yang didirikan pada 20 Mei 1908?”

TETT. Hanya Arif yang menekan bel, dengan kencang dan berulang-ulang. Mungkin dia takut didahului oleh peserta lain, walau kenyataannya hanya ia yang menekan bel.

“Budi Utomo.” Jawab Arif.

“Tepat! Organisasi Budi Utomo merupakan organisasi yang pertama di Indonesia yang dibentuk pada 20 Mei 1908. Seratus poin untuk Arif.”

Lagi-lagi, selisih seratus poin berhasil Arif raih untuk memimpin keunggulan poin sementara. Terlihat pendukung dari SD Gentra sedikit bernafas lega karena keunggulan itu, tetapi berbeda dengan yang terjadi pada kami untuk mendukung Rahmat.

Tersisa dua pertanyaan lagi. Secara persaingan untuk menuju babak final, hanya Arif dan Rahmat yang berpeluang lolos. Aldita sudah dipastikan gagal melaju di babak ini.

“Pertanyaan sembilan. Cystic fibrosis adalah sejenis penyakit karena kekurangan vitamin apa?”

TETT. Bel berbunyi dari meja Arif dan Rahmat. Jika kesempatan diberikan pada Rahmat, aku yakin dia bisa menjawabnya karena ia telah cukup belajar banyak dari buku kedokteran punyaku.

“Terlihat hampir secara bersamaan. Tapi juri memutuskan, Rahmat! Silahkan menjawabnya.”

“Vitamin E.” Jawab Rahmat.

“Tepat! Poin seratus untuk Rahmat. Sehingga perolehan poin untuk sementara Rahmat dan Arif dengan poin delapan ratus, dan Aldita dengan poin lima ratus.”

Tepuk tangan membahana dari seisi penonton yang melihat pertandingan ini. Nampak, jumlah kehadiran penonton semakin bertambah. Mungkin karena tiga pertadingan lain telah selesai, hingga mereka berkunjung ke tempat pertandingan yang masih berlangsung. Terlihat Fauzi, rekan Arif dari SD Gentra telah hadir bergabung untuk mendukung Arif.

“Baik, Aldita telah dipastikan tidak lolos untuk babak final dan untuk pertanyaan terakhir hanya ditujukan kepada Rahmat perwakilan dari SD Harapan dan Arif perwakilan dari SD Gentra untuk menjawab soal pamungkas. Soal matematika, diharap untuk mempersiapkannya. Penonton diharap tenang.” Ucap dewan juri yang memberikan nuansa tegang kepada para penonton.

“Soal terakhir, Budi pergi ke Lumajang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam. Jarak Lumajang ke rumah Budi empat puluh kilometer. Jika Budi berangkat pukul delapan lebih sepuluh menit, maka pukul berapa Budi sampai di Lumajang?”

Arif dan Rahmat berkutik dengan lembar kertas dihadapannya, terlihat Rahmat mengerjakan soal lebih tenang dibandingkan Arif. Mungkin, aku merasa Arif akan lebih terbeban karena ia membawa nama baik sekolahnya yang terbilang kualitasnya lebih baik dari sekolah Rahmat.

TETT. Arif menekan bel terlebih dahulu. Sekejap, hal itu membuatku dan Pak Rudi terkulai lemas serta ekspresi pasrah yang beraneka ragam dari rekan-rekan Rahmat.

“Ya, Arif. Silahkan menjawabnya.”

“Pukul sepuluh tepat.”

“Baik, jawaban telah diterima. Dan, jawabannya adalah…” potong juri yang seakan membuat penonton ikut berdebar-debar. Rahmat telah selesai menghitung, terihat ia ragu dengan jawaban yang ada pada kertasnya.

“SALAH! Otomatis, Rahmat perwakilan dari SD Harapan yang melaju ke babak final. Selamat!!”

Pak Rudi yang semula lemas menjadi semangat dan gembira, seakan tak percaya dengan kelolosan bocah wakil dari SD Harapan tembus ke babak final yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rekan-rekan Rahmat bersorak gembira, melihat keberhasilan Rahmat dan aku hanya tersenyum salut padanya.

“Baik, untuk Rahmat. Anda sudah dipastikan lolos ke babak final. Tetapi apakah Rahmat mempunyai koreksi atas jawaban dari Arif?” tanya dewan juri.

“Ya, hasilnya pukul sepuluh lebih sepuluh menit.” Jawab Rahmat dengan polosnya.

“Ya, jawabanmu tepat.” Balas dewan juri yang tak kalah bangga dengan Rahmat.

Memang luar biasa, bocah bernama Rahmat ini. Genius.

Iklan

Menggenggam Dunia – (18) Tak Ada Kata Mustahil

Pengumuman tinggal beberapa saat lagi, beberapa pesertapun mulai merasa ketegangan atas hasil yang mereka capai. Semua peserta, para pendamping dan penonton dikumpulkan dalam satu ruangan luas tempat gedung olahraga, sehingga menimbulkan suara sangat bergemuruh saking banyaknya para penonton yang hadir diluar pendamping dan peserta. Aku duduk bersama teman-teman Rahmat, sedangkan Rahmat bersama Pak Romli yang berdampingan dengan para peserta lain.

“Selamat Siang, semuanya.” Ucap salah seorang dari panitia di atas pangung yang terdengar dari speaker. “Baik, kami ucapakan terimakasih atas kehadiran Bapak dan Ibu serta anak-anak yang akan menjadi penerus Bangsa. Di sini kami akan membacakan peserta yang lolos ke babak selanjutnya, setelah mengikuti ujian tertulis yang diikuti oleh dua puluh delapan peserta dari perwakilan daerah. Peserta yang lolos ke babak selanjutnya sebanyak dua belas orang, dimana peserta selanjutnya akan mengikuti babak cerdas cermat meliputi semua mata pelajaran.”

Terdengar gemuruh suara tepuk tangan dari hadirin yang berada dalam ruangan itu.

“Baik, langsung saja kami umumkan satu persatu peserta yang lolos ke babak selanjutnya sesuai peringkat atas ujian tertulis. Peringkat pertama, kami ucapkan selamat kepada Fauzi Nurwenda dari SD Gentra.” Ucap panitia disertai suara tepuk tangan dari para penonton yang hadir. “Kepada Fauzi silahkan naik ke atas panggung. Selanjutnya, wakil dari SD Negeri Pajajaran yaitu Taufik Hidayat.”

Suara gemuruh kembali terdengar dari penonton yang hadir, untuk peringkat pertama dan kedua memang tidak mengejutkanku karena mendengar dari cerita Pak Romli, mereka berdua layak dijagokan untuk mewakili Tingkat Kota ke Tingkat Provinsi.

“Baik, selanjutnya peringkat ke tiga dalam ujian tertulis, jatuh kepada wakil dari SD Gentra yaitu Arif Saputra silahkan untuk naik ke panggung.” Kembali suara gemuruh penonton bertepuk tangan mengikuti langkah Arif menuju panggung.

“Kami ucapkan selamat kepada tiga besar peserta yang berhasil dalam ujian tertulis. Sebagai penghargaan, kepada tiga besar peserta akan mendapatkan sebuah bingkisan dari sponsor pada akhir acara. Kami lanjutkan kembali, untuk peringkat keempat dan kelima jatuh kepada Dewangga Aditya dari SD Negeri Pajajaran dan Kiki Haqiqi dari SD Babakan Sirna. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Suara tepuk tangan kembali membahana untuk mereka yang dipanggil oleh panitia. Sudah lima peringkat yang dipanggil, dan masih ada harapan untuk Rahmat melengkapi dua belas peserta.

“Selanjutnya peringkat enam dan ketujuh, jatuh kepada perwakilan dari SD Baros Kencana yaitu Devi Sohifah dan Aldita Kumara dari SD Dewi Sartika. Kami persilahkan untuk naik ke panggung.”

Tinggal lima peserta lagi yang belum dipanggil, perasaanku diliputi harap-harap cemas dan berharap Rahmat dapat masuk dalam lima peserta yang belum dipanggil.

“Selanjutnya peringkat delapan dan kesembilan jatuh kepada perwakilan dari SD Pakujajar yaitu Adesti Pratiwi dan Hani Fauziah dari SD Brawijaya. Kami persilahkan untuk maju ke panggung.”

Tiga peserta lagi untuk melengkapi dua belas besar, peluang Rahmat semakin kecil karena dari sembilan belas peserta yang belum terpanggil hanya terpilih tiga orang peserta untuk melengkapi dua belas besar. Semoga tiga nama yang akan disebut, salah satunya adalah Rahmat.

“Dan tiga peserta terakhir adalah, Rahmat Dipraja dari SD Harapan, Geri Tria Irawan dari SD Kopeng, dan Romlan Satria dari SD Nusa Bangsa. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Rahmat disebut oleh panitia dan berada di posisi sepuluh besar, tak ayal pengumuman terakhir itu membuat rasa harap-harap cemas berubah menjadi bahagia yang tiada kira. Aku bersama dengan teman-teman Rahmat bersorak gembira mendengar nama Rahmat masuk dalam babak selanjutnya. Aku yakin Pak Romli pasti bangga pula atas prestasi Rahmat yang sempat diragukan oleh rekan-rekan guru, karena hal itu merupakan untuk pertama kalinya untuk wakil dari sekolah tembus babak dua belas besar yang tak pernah dicapai semenjak diadakan lomba murid Teladan Tingkat Kota.

“Sekian pengumuman dari kami, terima kasih.” Ucap panitia mengakhirinya.

 

***

Aku bersama teman-teman Rahmat mengahampiri Pak Romli yang sedang berbincang dengan seorang pendamping peserta.

“Eh, Mas Arkan.” Sambut hangat Pak Romli yang terpancar kebahagian dari raut mukanya.

“Saya ingin bertemu dengan Rahmat, bisa Pak?” harapku.

“Wah, sepertinya sulit Pak. Tadi saya dapat pengumuman dari panitia, bahwa yang berhasil masuk dua belas besar akan langsung diamankan dalam arti jangan sampai pihak luar berusaha berkomunikasi dengan peserta sampai waktu yang telah ditentukan.” Ujar Pak Romli.

“Loh, kenapa Pak?”

“Karena itu mekanisme dalam peraturannya, Mas. Peserta yang lolos tidak bisa diberi kesempatan lagi untuk belajar dan langsung menuju pertandingan di cerdas cermat di babak kedua. Lalu saya dapat kabar juga, nanti babak selanjutnya dari dua belas peserta itu akan dibagi menjadi empat kelompok, jadi setiap kelompok ada tiga orang dan tiap kelompok itu hanya satu yang dapat tembus babak final. Saat ini, undian peserta lagi ditentukan dimana ditiap kelompok itu akan diwakili oleh empat besar dari peringkat ujian tertulis.”

“Sudah ditentukan, Pak?”

“Akan ditentukan sesaat lagi, Mas Arkan silahkan tunggu diruang penonton bersama Saiful dan yang lain untuk menyemangati Rahmat dari bangku penonton.”

Terlihat pihak panitia menghampiri para pendamping memberikan selembar kertas.

“Nah ini dia, masing-masing kelompok yang akan bertanding di babak kedua. Rahmat sekelompok dengan Arif yang berada di peringkat tiga dan Aldita peringkat tujuh.” Ucap Pak Romli dengan mimik yang sedikit pesimis.

“Boleh saya lihat kertasnya, Pak?” ucapku.

“Silahkan.”

Pak Romli memberikan lembaran kertas itu padaku. Selain Rahmat yang menjadi pusat perhatianku, aku mencari nama Fauzi yang telah memenangi peringkat pertama dalam ujian tertulis. Fauzi sekelompok dengan peringkat enam dan sebelas. Tak ada yang meragukan lagi, aku yakin Fauzi akan lolos ke tahap berikutnya. Sedangkan kelompok lain mempertemukan Taufik bersama peringkat sembilan dan dua belas, serta kelompok terakhir mempertemukan Dewangga, Kiki dan Adesti.

Dari hasil undian itu memang cukup sulit untuk tembus ke babak final. Menang ataupun kalah hal itu cukup menjadikan pengalaman yang berhaga untuk Rahmat, walau kesempatan ke final hanya satu berbading tiga tapi aku meyakini tak ada kata mustahil untuk menciptakan sebuah keajaiban.

 

***

 

Lomba Cerdas Cermat diadakan serempak untuk setiap kelompok diruangan yang berbeda. Aku bersama dengan Saiful dan kawan-kawan tak ada hentinya menyemangati Rahmat walau hanya berupa bahasa isyarat, karena penonton tidak diperkenankan untuk mengganggu peserta.

Aku melihat Rahmat terlihat agak sedikit gugup untuk memulai perlombaan ini dibanding dengan Arif yang sudah terbiasa mengikuti lomba. Disisi lain Aldita, seorang gadis cilik berambut panjang itu tampak pasrah dan terlihat selalu menunduk ke bawah, entah karena malu, grogi, ataupun tanda siap untuk mengibarkan bendera putih pada lawan-lawannya.

“Selamat Siang.” Ucap juri membuka perlombaan. “Selamat kepada para peserta yang berhasil lolos ke babak kedua. Di babak kedua ini, akan dilangsungkan Lomba Cerdas Cermat meliputi pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Seni, dan Pendidikan Jasmani. Lomba akan berlangsung dalam dua sesi, sesi pertama para peserta dipersilahkan untuk memilih salah satu amplop yang berada di juri, dan amplop itu berisi lima pertanyaan yang akan ditanyakan langsung kepada peserta yang mengambil amplop tersebut. Satu pertanyaan benar mendapatkan poin seratus dan jika salah menjawab, pertanyaan akan dilempar kepada peserta lain. Untuk peserta pertama silahkan kepada Rahmat untuk mengambil amplop yang telah disediakan.”

Rahmat segera mengambil amplop lalu memberikannya pada juri.

“Baik, amplop masih dalam keadaan disegel.” Ucap juri sembari membuka amplop dengan menggunting ujungnya dan mengeluarkan kertas didalamnya. “Pertanyaan pertama mengenai Matematika. Apakah yang dimaksud dengan bilangan genap?”

“Bilangan yang bisa dibagi dua atau bilangan dengan kelipatan dua.” Jawab Rahmat dengan yakinnya.

“Poin seratus untuk Rahmat. Pertanyaan kedua, mengenai Ilmu Pengetahuan Alam. Sebutkan tiga macam makanan yang termasuk ke dalam protein nabati.”

“Tahu, tempe, dan …” Jawab Rahmat sembari mengira-ngira jawaban selanjutnya.

Juri melihat arloji menunggu Rahmat untuk melengkapi jawabannya. “Lima detik lagi, jika tidak menjawab dilanjutkan pada pertanyaan berikutnya.” Ucap Juri.

“Kacang. Kacang-kacangan.” Ucap Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat.”

Sontak suara tepuk tangan dari teman-teman Rahmat dan Pak Romli yang sebelumnya tegang karena Rahmat terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan.

“Baik, penonton diharap tenang. Pertanyaan selanjutnya, mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial. Siapakah presiden pertama Republik Indonesia?”

“Bapak Insinyur Soekarno.” Jawab Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat, pertanyaan berikutnya mengenai kesenian. Termasuk dari daerah manakah alat musik angklung?”

“Jawa Barat.”

“Poin seratus untuk Rahmat, dan pertanyaan terakhir untuk sesi pertama mengenai pendidikan jasmani. Sepak bola berasal dari negara?”

“Brasil.” Jawab Rahmat dengan yakin.

“Salah, yang benar adalah dari Negara Inggris.”

Terlihat Pak Romli seperti menyayangkan karena Rahmat gagal menjawab pertanyaan kelima. Rekan-rekan Rahmat pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang, tanda gregetan mereka karena melihat Rahmat menjawab salah.

Poin untuk sesi pertama yang dikumpulkan oleh Rahmat adalah dengan poin empat ratus.”

Menggenggam Dunia – (17) Pertempuran Dimulai

“Kepada seluruh peserta Lomba Murid Teladan Sekolah Dasar Tingkat Kota diharapkan berkumpul di ruang perlombaan, dan kepada para pendamping dimohon untuk keluar ruangan karena perlombaan akan segera dimulai. Terimakasih.” ucap operator dengan speakernya.

Rahmat tidak banyak berbicara dan hanya tersenyum, terlihat mukanya sangat gugup karena perlombaan pertamanya akan dimulai. Ia segera pamit kepadaku, Pak Romli sebagai pendamping serta teman-temannya. Motivasi dari teman-temannya membuat Rahmat sedikit lebih tenang.

Sebanyak dua puluh delapan peserta yang mengikuti perlombaan, dan hanya dua belas peserta yang masuk dalam babak kedua. Semoga minimal Rahmat masuk ke babak kedua sesuai harapan pak Romli dan guru lain.

Aku melihat profil data peserta yang diberikan Pak Romli. Dua puluh empat peserta siswa kelas lima dan empat peserta siswa kelas empat termasuk Rahmat. Terbesit pertanyaan ketika aku melihat terdapat dua sekolah dengan dua perwakilan.

“Pak, bukankah tiap daerah mewakili satu orang?” tanyaku pada Pak Romli.

“Benar, terkecuali dengan perwakilan sekolah yang berhasil masuk dua besar murid teladan tahun lalu. Di daftar tersebut, ada dua sekolah yang wakilnya dua peserta, pihak juri menilai demikian karena menganggap masih terdapat siswa yang layak bersaing  pada perlombaan ini dari setiap sekolah yang berhasil masuk dua besar.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan dari Pak Romli, karena memang masuk akal untuk memberi kesempatan pada saingan sang juara di tiap sekolah untuk mengikutinya.

“Dua peserta dari SD Gentra itu yang harus diwaspadai.” Ungkap Pak Romli.

“Kenapa, Pak?”

“Semenjak diadakannya perlombaan siswa teladan sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang, SD Gentra selalu masuk ke babak selanjutnya. Bahkan tiga tahun berturut-turut menjuarai perlombaan ini, tetapi sayangnya dipatahkan rekornya oleh SDN Pajajaran yang menjuarainya  tahun lalu dan SD Gentra diposisi kedua. Tentunya kedua SD itu berhak melaju ke tingkat provinsi karena masing-masing kota mewakili dua peserta.”

Aku melihat nama dari data peserta yang mewakili SD Gentra yaitu Fauzi dan Arif sedangkan yang mewakili SDN Pajajaran adalah Taufik dan Dewangga.

“Melihat dari segi prestasi, ke empat orang tersebut pantas masuk babak final.” Ucap Pak Romli.

“Prestasinya apa saja, Pak?”

“Fauzi pernah menang menjuarai lomba cerdas cermat saat ia duduk di bangku kelas empat, dia sangat pintar dalam berkomunikasi dan pandai menganalisis masalah. Arif tak kalah hebatnya, walau ia hanya sesekali berprestasi tetapi ia termasuk anak yang cerdas. Untuk Taufik dan Dewangga, saya kurang terlalu paham dengan kelebihan mereka, setau saya Taufik adalah anak yang pintar dari SDN Pajajaran, dan Dewangga cakap dalam bahasa Inggris.” jelas Pak Romli.

Mendengar semua cerita dari Pak Romli tentang profil peserta, membuatku sedikit pesimis dengan kemampuan Rahmat. Aku meyakini Rahmat tidak kalah bersaing dengan ke empat peserta itu dari kelebihannya yang ia punya, tetapi bagaimanapun pengalamanlah yang berbicara di setiap perlombaan. Walau Rahmat tidak juara, setidaknya ia mempunyai pengalaman dari perlombaan ini.

Aku sesekali mengintip Rahmat lewat jendela. Terlihat ia sangat tenang dibandingkan dengan peserta lain dalam mengerjakan soal-soal ujian.

Semoga perlombaan ini menjadi batu loncatan Rahmat untuk terus berprestasi.

***

 

Bel tanda ujian selesai telah bunyi, satu per satu kertas ujian para peserta diambil oleh panitia lomba. Terlihat dari wajah para peserta keluar dengan mimik muka yang beraneka ragam, ada peserta yang kesal dan ada pula yang bangga. Aku melihat Rahmat dengan bangga keluar dari ruangan. Teman-teman Rahmat dengan lekas mendekatinya bak menyambut superhero.

“Gimana Met? Bisa gak?” tanya Ento, teman Rahmat.

“Ya gitu deh.” Canda Rahmat.

“Wah Mamet calon pengganti Isak sama Albet nih.” Timpal Saiful.

Rahmat dan teman-temannya terlihat sangat harmonis. Melihat mereka mengingatkanku dengan masa kecil. Masa disaat kebahagiaan nyaris sempurna dalam hidupku.

“Bagaimana soal ujiannya, Mat?” tanya Pak Romli.

“Jujur Pak, cukup susah. Terutama soal bahasa Inggris, ada kata-kata yang sulit.” Ucap Rahmat.

Aku tersenyum dengan ucapan polosnya, walau Rahmat berkata susah tetapi mimik wajahnya yang bahagia terlihat bahwa ia sukses mengerjakan soal. Aku mengusap rambut Rahmat.

“Ya sudah, Bapak dengar pengumuman satu jam lagi. Lebih baik kita istirahat dulu dan semoga saja Rahmat bisa masuk ke babak kedua.” Harap Pak Romli.

“Memang ada berapa babak , Pak?” tanya Rahmat.

“Ada tiga babak, Mat. Berdoa saja, dan yakin kamu harus bisa masuk babak final ya. Yakin dengan kemampuanmu, dan kamu jangan sedih jika belum bisa masuk babak berikutnya. Anggap perlombaan ini sebagai rintangan pertama dalam menghadapi tantangan berikutnya agar lebih siaga. Siap?”

“Iya Pak, terima kasih sudah semangati Rahmat.” balas Rahmat.

“Met, kita keliling tempat ini dulu yuk! Gila, bagus banget ni gedung, beda sama sekolahan kita.” Ajak Saiful dengan bercanda.

“Kak Arkan, Pak Romli, Rahmat keliling dulu sebentar ya. Nanti Rahmat ke tempat ini lagi.” Pinta Rahmat.

“Kamu kan harus istirahat, Mat.” Jawabku.

“Tidak apa-apa, Mas Arkan. Biar mereka bermain dulu.” Ramah Pak Romli.

Rahmat menatapku kembali dengan penuh harap, ia tak akan pergi tanpa seizinku

“Ya sudah, jangan jauh-jauh ya.”

Rahmat dan teman-temannya senang dan segera beranjak untuk mengelilingi gedung. Suasana di gedung ini memang cukup menentramkan hati, pemandangan sekitar dikelilingi taman yang dipenuhi dengan hiasan bunga beraneka warna. Terdapat beberapa burung dalam sangkar dan kelici yang dibiarkan bebas di taman. Indah dan unik, udara tak seburuk yang aku bayangkan jika berada di kota. Udara sekitar sungguh segar mungkin karena banyaknya tanaman yang bermekaran mengelilingi gedung.

“Saya yakin, Mas Arkan pasti sedang menikmati pemandangan di sekitar gedung ini.” Ucap Pak Romli, mengejutkan lamunanku.

“Wah, iya Pak. Bapak tau saja, pemandangannya seperti bukan di kota ya, Pak. Pertama masuk ke tempat ini, saya sempat terkejut dan terpana dengan tempat ini. Pemandangan indah yang baru kali ini saya rasakan di tengah-tengah kota.”

Menggenggam Dunia – (16) Harapan

Waktu terus berjalan bagaikan air yang mengalir. Banyak liku dan banyak tebing yang harus dilalui. Kenangan pahit bersama Ratih, perlahan telah terhapus dari rasa sakit hatiku. Setelah kejadian itu, Ratih tidak pernah berbicara denganku bahkan jarang untuk menemuiku atau sekedar memberi makanan. Tali silaturahmi padanya seakan putus dalam sekejap, padahal sebelumnya Ratih dan aku sangat akrab untuk berbicara.

Rahmat turut bersedih dan menyesal dengan ucapannya karena ia terlalu yakin bahwa Ratih juga memiliki perasaan yang sama denganku. Yang sangat menyakitiku, Ratih tidak pernah cerita tentang tunangannya bahkan sikapnya padaku seakan memberi harapan. Harapan hampa dan kesempatan yang membuatku melambung dengan kesenangan dibalas dengan menjatuhkan hatiku ke palung yang paling terdalam.

Sangat wajib untuk melupakan kenangan itu.

***

Rahmat terus berjuang dengan giat setelah ia sembuh dari demamnya. Semua buku pelajaran bahkan buku kedokteranku tak luput ia baca, tentunya hanya teori kedokteran yang sederhana semacam penyebab penyakit dan cara kesembuhannya.

Waktu untuk bermain dengan teman sebayapun semakin dikurangi, tetapi bukan berarti tidak pernah bermain. Terkadang teman-teman Rahmat mampir ke rumah dan temannya minta diajarkan pelajaran sekolah pada Rahmat. Memang unik, sebenarnya siapa yang sekolah terlebih dahulu? Tapi secara tingkatan kelas itu sangat wajar, Rahmat adalah siswa kelas empat, sedangkan teman-temannya kelas tiga dan kelas dua.

Sepulang sekolah, Rahmat tidak pernah absen untuk hadir dalam pelajaran tambahan oleh guru pembimbingnya. Bahkan Pak Romli terlalu sering mengantarkannya pulang dan berbicara kepadaku tentang perkembangan Rahmat. Pak Romli menceritakan tentang kekagumannya pada Rahmat, tak tangung-tanggung ia mengkategorikan Rahmat sebagai anak yang sangat jenius. Aku merinding mendengarnya dari Pak Romli.

“Lomba akan diadakan dua hari lagi, Mas. Saya harap Mas Arkan bisa membimbing Rahmat di rumah, dan sebaiknya untuk besok Rahmat istirahat di rumah agar lebih siap untuk menghadapi ujian.” Ungkap Pak Romli.

“Pasti, Pak. Ini kesempatan Rahmat untuk berprestasi. Saya pribadi dan tentunya almarhum kedua orangtuanya akan sangat bangga pada Rahmat. Jika boleh tau, bagaimana sikap Rahmat di sekolah?”

“Dia memiliki pengetahuan yang luas. Ketika saya ajukan sesi tanya jawab tentang solusi suatu permasalahan, betapa hebatnya ia mengeluarkan ide-ide cemerlang yang dibungkus dengan kata-kata yang rapi. Seakan-akan dia sudah ahli dalam solusi yang ia berikan itu. Makan apa sih Rahmat itu?” candanya.

“Hahaha, seperti biasa Pak, makan seadanya. Memang di rumah ia selalu  membaca buku mengenai hal-hal yang baru, ia langsung bertanya jika ada hal yang ingin diketahui. Selama ini yang saya ketahui bahwa Rahmat tidak terlalu menyukai dengan pelajaran kesenian. Semoga saja, kelemahan itu tidak ditunjukan saat Rahmat mengikuti lomba tersebut.”

Pak Romli terdiam sesaat, terlihat sepertinya memikirkan sesuatu.

“Kenapa Pak Romli?” tanyaku memecah lamunannya.

“Begini Mas Arkan, dari awal saya ingin berkata hal ini pada Mas Arkan. Sebenarnya dari awal para guru kurang setuju bahwa Rahmat mengikuti lomba tersebut, karena hal tersebut membawa nama daerah ini untuk berprestasi di tingkat kota. Murid teladan sebelumnya dari perwakilan daerah ini tidak pernah berprestasi menjuarai Murid Teladan SD tingkat Kota bahkan masuk babak dua belas besarpun tidak pernah. Maka dari itu banyak guru yang merasa pesimis bahwa anak yang baru masuk sekolah adalah yang terpilih. Tetapi melihat perkembangan Rahmat akhir-akhir ini, entah kenapa saya sangat yakin minimal Rahmat bisa masuk dalam dua belas besar siswa teladan di Kota ini. Dan semoga Rahmat bisa menjawab keraguan dari para guru.”

“Amin. Semoga saja Pak.” harapku.

Menggenggam Dunia – (15) Cinta yang tak terbalas

Pikiranku menjadi penuh tebakan, ia akan menerimaku atau menolakku. Ratih menangis di hadapanku. Aku tak tahan melihatnya menangis, seakan hatiku terasa teriris-iris melihat tetesan demi tetesan air matanya.

“Ratih, kenapa?” tanyaku memecah kesunyian melihat tangisannya.

“Mas Arkan.” Tangisnya mengucap namaku.

“Maaf, aku telah lancang mengucapkan isi hatiku.”

Bu Tia, ibu kandung dari Ratih keluar dari rumah dan menghampiriku bersama Ratih, “Arkan? Kok berdiri di depan, ayo mampir ke rumah. Ratih, kok tidak diajak..”

Ucapan Ibu Tia terhenti, tampaknya ia baru menyadari bahwa anaknya menangis di hadapanku. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya.

Ibu Tia khawatir, “Ratih? Kenapa kamu menangis? Arkan, kenapa Ratih..?”

“Maafkan saya, Bu. Saya telah membuat Ratih menangis. Saya bersalah.” Ungkap sesalku.

“Hah? Apa yang telah kamu perbuat dengan anak saya?” tanya Ibu Tia dengan khawatir.

Aku tersentak oleh pertanyaan Ibu Tia, aku tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti ini, “Saya..”

“Tidak, Mah. Ratih menangis bukan karena Mas Arkan. Mas Arkan tidak salah, dia hanya..” belum selesai bicara, ia lari menangis memasuki rumahnya.

Sesaat Ratih memasuki rumah, keluar pria berumur sebaya denganku dengan wajah heran. Ratih tidak memiliki Kakak ataupun adik, dia anak tunggal di keluarganya.

Apa mungkin saudara Ratih?

“Ada apa dengan Ratih, Bu?” Tanya pria yang berpakaian rapi itu.

Bu?

“Oh ya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Bu Tia, terlihat sekali raut mukanya yang menyembunyikan hal ini.

Pria itu mengangguk, dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.

“Arkan, Ibu mau bicara.” Ucap Bu Tia sembari mengajakku duduk di kursi teras rumah.

Aku diliputi rasa sedih dan penasaran, kenapa tingkah Ratih seperti itu? Dan siapa pria yang tadi itu?

“Yang tadi itu calon suami Ratih.” Ungkap Bu Tia mengejutkanku.

Calon suami?

Tak terbayangkan, hatiku dalam sekejap runtuh, bagai halilintar yang menyambarku tiba-tiba dan menghancurkan batin ini. Tangan dan mulutku bergetar, saking tidak percaya dengan yang diungkapkan ibu kandung Ratih, ibu yang kuharapkan sebagai mertuaku nanti. Air mata ini meleleh tak kuasa menahan rasa sakit hati yang baru kurasakan dalam hidup ini. Cintaku tidak terbalaskan, anganku hilang dalam sekejap. Aku merasa benci pada diriku sendiri. Aku yang sangat bodoh, tidak mengerti kondisi Ratih yang telah dipinang orang lain.

“Arkan, kamu kenapa?” Tanya Bu Tia menyadarkanku.

“Tidak apa-apa.”

“Tolong jawab yang jujur, kenapa Ratih menangis? Kalian bertengkar?”

“Tidak, Bu.”

“Lantas?”

“Aku mengucapkan hal yang tidak sepantasnya aku ucapkan.”

“Maksudmu?”
“Maaf, Bu. Lebih jelasnya tanyakan pada Ratih, saya pamit pulang.” Ucapku dengan tak hentinya meneteskan air mata.

Dengan segera aku beranjak pergi dari Bu Tia. Aku yakin Bu Tia sangat kecewa denganku. Bu Tia terus memanggil sampai aku menghilang di hadapannya, tetapi tak kuhiraukan.

           Aku memang manusia bodoh.

Menggenggam Dunia – (14) Maukah menikah denganku?

Hari demi hari kondisi Rahmat membaik dan suhu tubuhnya menurun. Kondisi Rahmat yang demikian berpeluang untuk mengikuti lomba siswa teladan tingkat Kota.

Dengan kondisi Rahmat yang sedang sakit, hubunganku dengan Ratih semakin dekat. Ratih setiap waktu selalu mengunjungi rumahku, selain menjenguk Rahmat, aku dan Ratih banyak berbincang-bincang.

Sempat iseng kubertanya pada Ratih mengenai tipe pria pendamping hidupnya. Ternyata sebagian besar aku telah memenuhi kriteria yang Ratih inginkan, kecuali satu hal yang tidak sesuai dengan diriku. Dia menginginkan orang yang sederhana dan membenci orang yang bermewah-mewahan.

Terkadang saat bekerja sebagai dokter di kota, aku masih mempunyai sifat bermewah-mewahan. Hidup di desa dengan kesederhanaan hanya sebagai selingan hidup, karena bosan dengan kemewahan. Tetapi hidup di desa ini sesungguhnya mahal, karena banyak sekali pelajaran yang kupetik dari kehidupan yang sederhana ini.

“Kak, besok Mamet sekolah ya?” pinta Rahmat

“Ya Mat, lagipula kondisimu sudah membaik. Di sekolah jangan terlalu memaksakan berpikir dan banyak istirahat ya.”

Terlihat secercah kebahagiaan pada wajah Rahmat. Aku senang melihat ia senang, berkumpul bersama teman sebaya memang membahagiakannya.

Aku teringat Ratih, perilakunya seakan memberi harapan bahwa ia akan menerimaku.

Aku sangat yakin sekali, bahwa bersamanya akan terasa bahagia. Wajahnya menentramkan hati, perilakunya meluluhkan jantungku.

“Kak Arkan?” sapa Rahmat mengagetkanku.

“Ada apa, Kak? Kok melamun?”

“Hem, tidak ada.” Singkatku.

Akhir-akhir ini aku merasa aneh, mungkin tanpa kusadari aku sering melamun. Ratih, dialah yang aku bayangkan.

Bagaimana pendapat Mamet mengenai Ratih? Lebih baik aku tanyakan, mungkin aku semakin yakin setelah mendengar ucapannya.

“Met, menurutmu Ratih bagaimana?” tanyaku.

“Bagaimana apanya?”

“Ya, apa-apanya.”

“Sifatnya?”

“Ya.”

“Baik.”

“Lalu?”

“Ramah sekali.”

“Lalu?”

“Pengertian.”

“Lalu?”

“Sopan.”

“Lalu?”

“Lintas.”

“Lintas?”

“Kak kak. Kak Arkan suka sekali sama Mba Ratih ya?”

Aku merasa malu untuk menjawab pertanyaan Rahmat, lebih baik sembunyikan saja.

“Biasa saja.”

“Jujur ya, Kak? Kak Arkan sama Mba Ratih cocok. Mamet setuju kalau..”

“Kalau?”

“Kalau Kak Arkan mau jujur sama Mba Ratih. Hehehe” ledek Rahmat dengan tawanya.

Rahmat sepertinya paham dengan perasaanku pada Ratih. Aku tidak bisa berbohong lagi.

“Kalau Mamet dukung Kakak, oke deh. Apa boleh buat. Sebenarnya Kakak juga suka dari pertamakali bertemu Ratih, tapi apa perasaan dia juga sama seperti Kakak?” ucapku agak malu.

“Nah gitu donk, jujur sama Mamet. Kecil-kecil, Mamet ngerti perasaan orang dewasa. Hahahah. Menurut Mamet, Mba Ratih suka sama Kak Arkan.”

Aku mengelus keras rambut Rahmat, “Wuah, bocah. Pokoknya doakan Kakakmu ini ya? Kakak nanti usahakan jujur sama Ratih.”

“Yo’i, Kak.” Ucap Rahmat dengan mengacungkan jempol untukku.

 

***

 

Tekadku sudah bulat, tekad ini harus kuutarakan pada Ratih. Dialah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta.

Aku mempersiapkan semua, mulai dari baju yang kupakai, parfum, rambut yang rapih, dengan harapan bahwa orangtua Ratih mungkin merasa senang dengan penampilanku.

Baju yang kupakai yaitu kemeja coklat bergaris hingga pergelangan tangan dengan celana panjang berwarna hitam. Saat aku berkaca pada cermin di rumah, tak kusangka alangkah tampannya bayangan di balik cermin itu. Aku semakin pede untuk melamar Ratih dengan kondisiku ini.

“Kakak ganteng deh, semoga sukses ya Kak.” Ucap Rahmat tepat di belakangku.

“Makasih ya adik imut.”

Semua sudah selesai, tinggal keluar dan menuju rumah Ratih. Perasaanku semakin tercampur baur antara bahagia, cemas, dan rasa penasaran akan diterima atau tidaknya.

Aku berjalan menuju depan pintu rumah sendiri, rasanya begitu lama. Perasaan harap-harap cemas terus menjalar pada tubuhku ini.

Langkah demi langkah kuberjalan, tak seperti biasanya suara langkah ini terdengar olehku.

Akhirnya aku sampai depan pintu rumah. Perlahan kubuka pintu tersebut, seakan membuka pintu kebahagiaan atau bisa pula membuka pintu kesedihan. Rasa optimis langsung menyeruak dalam batinku, ketika angin tenang yang lembut menyibak tubuhku.

Semangat Arkan, ini hari bersejarah untukmu.

Rumah Ratih tidak jauh dari tempat aku tinggal, kira-kira sepuluh meter disamping rumahku. Tak peduli dengan suara sekitar bahkan kondisi jalan apapun, perhatian mataku tertuju pada rumah Ratih yang sudah di depan mata.

Sampai di depan rumahnya, terlihat pintu depan yang terbuka. Nyaliku seakan kropos, aku tak berani melangkah ke depan, aku tidak berani mengetuk pintu. Dengan sendiri bibirku bergetar, lidahku kaku. Pertanda apa ini, apa mungkin karena aku belum berpengalaman mengenai jatuh cinta? Apa ini karena aku masih pengecut untuk mengungkapkan cinta yang pertama kali dalam sejarah hidupku.

            Cukup! Apa yang harus kuperbuat?

            “Mas Arkan?” sapa Ratih keluar dari pintu rumah dengan sedikit terkejut.

Tak seperti biasanya ia terlihat sedih seperti menahan tangis. Mungkin hanya perasaanku saja. Ratih. Ratih. Ratih. Ya, hatiku lunak jika ada di hadapannya. Semenjak awal tekadku sudah bulat, aku harus ungkapkan itu.

“Ratih, aku, aku ingin mengatakan isi hatiku.” Ucapku gugup dihadapannya.

“Mas.” Balas ia meneteskan air mata.

“Kamu jangan menangis, aku hanya..”

“Mas, aku juga.” Ratih menangis mengucapkannya.

Apa maksudnya ‘aku juga?’ Apa dia mencintaiku juga? Baiklah ini saatnya kuungkapkan.

“Semenjak pertama kali aku bertemu denganmu, entah apa yang kurasakan. Kau adalah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta. Semenjak mengenalmu, aku semakin yakin bahwa kau pantas untuk mendampingi hidupku. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu.” Ucapku dengan suara bergetar.

“Mas.”

“Ratih, maukah menikah denganku?”

Menggenggam Dunia – (13) Jatuh Cinta

“Mamet. Mamet.” panggil teman-teman Rahmat untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama.

Kondisi Rahmat masih belum memungkinkan untuk berangkat sekolah. Suhu tubuhnya masih tinggi, padahal ia harus mengikuti tambahan pelajaran rutin setiap pulang sekolah.Aku segera beranjak ke depan rumah.

“Adik-adik, Mamet sedang sakit dari kemarin sore. Bisa tolong izinkan ke guru, kalau hari ini dia tidak berangkat?” pintaku.

“Sakit apa, Kak? Wah, padahal dia bakal ikut lomba siswa teladan.” Sesal Ento, teman Rahmat yang berbadan gemuk.

“Dia hanya kelelahan, mungkin tidak akan lama lagi ia sembuh. Doakan saja ya.” Jawabku.

“Ya sudah, Kak. Salam buat Mamet semoga lekas sembuh dan bisa main bareng lagi. Ya gak teman-teman?” timpal Saiful.

“Jiahh. Pikiranmu main terus Pul. Mamet kan harus belajar buat persiapan lomba.” Jawab tak kalah seru oleh temannya yang lain.

Terlihat teman yang lain mendukungnya, Saiful hanya cengar-cengir.

“Ya sudah, Kak. Kita berangkat sekolah dulu ya, mungkin setelah pulang sekolah kita bakal nengok Mamet.” Lanjut Ento.

“Assalamualaikum, Kak.” Serempak teman-teman Mamet.

“Iya, Waalaikumsalam.”

Kasihan Rahmat, apakah harus membawanya ke rumah sakit? Motor jarang kupakai, dan bensinnya pun habis. Bagaimana aku harus membawa Rahmat?

Aku kembali periksa kondisi Rahmat, suhu tubuhnya tetap tinggi. Aku mengerti bahwa ia hanya sakit panas sesaat. Ya, mungkin dengan obat seadanya akan cukup untuk merawat Rahmat.

Tok. Tok. Tok.

“Mas Arkan?” sapa seseorang dari depan pintu rumah. Suaranya sangat aku kenal.

“Ratih.” Sapaku.

“Mas, Rahmat sakit? Tadi Ratih tidak melihat ia berangkat sekolah bersama temannya.”

“Hem, iya. Dia terlalu kelelahan dan suhu tubuhnya pun panas. Dia perlu istirahat.”

“Boleh saya jenguk?” pintanya.

“Oh ya, dengan senang hati. Silahkan masuk.”

Ratih segera masuk dengan pandangan menunduk seperti menahan malu. Aku segera menyadari dengan apa yang telah aku ucapkan.

Dengan senang hati? Aduh!

            Ratih memegang kening dan leher Rahmat secara bergantian. Raut mukanya berubah. Aku malah berharap, bahwa yang sakit adalah diriku. Sehingga…

“Mas, panas sekali. Apa lebih baik dibawa ke rumah sakit?” tiba-tiba Ratih menanyaiku.

“Eh, hem. Iya, tidak. Ehm, nggak.” Jawabku gugup.

“Maksudnya Mas Arkan?”

Gawat. Apa yang aku pikirkan. Arkan Saputra, konsentrasi!

“Hem, dia bisa aku rawat dengan manual oleh cara alami dan obat tradisional.”

Ratih mengangguk walau terlihat rasa cemasnya. Sungguh, dia terlihat sangat menyayangi Rahmat, dia pantas sebagai kakak bahkan pantas pula sebagai ibu yang merawat anaknya.

Aku teringat ucapan Rahmat ketika Ratih membawakan rantang makanan pada hari ulangtahunnya.

Apakah aku harus memberanikan diri untuk menjalin hubungan dengan Ratih? Setiap aku bertemu Ratih, jantungku seakan berdebar sangat cepat, hatiku sangat jatuh dalam suaranya, jiwaku tentram saat melihat mukanya, bahkan aliran darahku seakan luluh dalam gerak-geriknya. Yang lebih mengherankan lagi, pikiranku dipenuhi rangkaian bait puisi untuk memujinya.

            “Mas?”

“Aaaa… E, ada apa?” aku terkejut, tiba-tiba Ratih telah berdiri tepat di hadapanku.

“Ada tamu.” Ucap Ratih.

“Tamu?”

“Ada di belakang, Mas.” Ratih menunjuk belakangku.

“Aaaa…” lagi-lagi aku terkejut. Pak Rudi telah berdiri tepat di hadapanku.

“Selamat Pagi, Mas. Kebetulan pagi ini jam pelajaran saya kosong, maka dari itu saya sempatkan diri untuk menjenguk Rahmat. Apa benar ia sakit? Saya ketahui dari teman-temannya.”

Aku merasa gugup. Dua orang dalam waktu berdekatan, tiba-tiba mengagetkanku dengan cara yang sama pula.

Tenangkan diri. Huft…

            “Terimakasih sudah menengok Rahmat, Pak Rudi. Semenjak kemarin sore, kondisi Rahmat memburuk. Tampaknya ia sangat kelelahan, mungkin keteledoran saya mengajak Rahmat jalan-jalan ke pasar.” Jawabku.

Pak Rudi mendekati Rahmat yang tertidur pulas di ranjang, cara yang ia gunakan sama seperti Ratih untuk memeriksa kondisi Rahmat.

“Panas sekali, apa tidak dibawa ke rumah sakit saja?” Tanya Pak Rudi.

Bahkan pertanyaannya pun sama dengan Ratih.

“Dia dokter, Pak.” Potong Ratih.

“Dokter? Mas Arkan seorang dokter? Saya lihat pada surat wali dari Rahmat, Mas Arkan tidak ada pekerjaan.

“Untuk kali ini saya memilih istirahat dulu.” Aku menjawab dengan sopan.

“Baiklah, jika anda dokter saya akan lebih tenang. Sebab, jika Rahmat sakit dengan sangat berat hati, runner up dari siswa teladan di desa ini yang akan maju dalam lomba tersebut. Kami pihak sekolah, tidak ingin mengambil resiko.” Ungkap Pak Rudi.

Aku terkejut mendengar ucapan Pak Rudi, bagaimanapun Rahmat anak yang berbakat, lomba itu adalah kesempatan yang baik untuknya.

“Baik, Pak. Semoga Rahmat bisa sembuh dan mengikuti perlombaan tersebut.” Jawabku.

***

Aku mengajak Ratih ke teras rumah, sebab bila mengobrol dalam rumah sama saja mengganggu istirahat Rahmat.

“Mas, jika Rahmat masih belum sembuh. Lebih baik dia tidak usah mengikuti perlombaan itu.” Ucap Ratih.

“Ya, aku pikir juga begitu. Aku memegang tanggungjawab untuk merawat Rahmat. Dengan kondisi yang sakit, dia tidak akan bisa untuk konsentrasi belajar, yang ada malah akan tambah memperburuk kondisinya.”

“Ratih awalnya terkejut, bukankah Rahmat baru masuk sekolah? Kenapa bisa langsung diajukan mengikuti perlombaan?”

“Dia membaca semua buku dalam waktu semalam, hari pertama masuk di sekolahannya ada seleksi untuk diajukan menjadi siswa teladan ke tingkat Kota. Uniknya dia adalah anak kelas satu, mengikuti seleksi itu. Akhirnya ia berhasil meraih nilai terbaik. Pak Rudi yang datang tadi mengajukan dia menjadi kelas empat. Karena persyaratannya kelas empat atau kelas lima.” Ungkapku panjang lebar.

“Ya Tuhan, dia luar biasa sekali.”

“Benar, itu ungkapan pertamaku saat bertemu dengan Rahmat ketika bermain bola.”

“Bermain bola?”

“Ya, dia sangat pintar memainkan bola. Kamu pasti akan kagum melihatnya ketika ia menari bersama bola.”

“Mas Arkan, terlihat bangga sekali dengan Rahmat.”

“Ya, dia memang anak yang luar biasa. Jarang kutemui anak seperti dia. Kita bisa lihat, baru pertama kali masuk sekolah, Rahmat sudah dipercaya mengikuti lomba itu.”

“Suatu saat dia pasti akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dari ini.” Ucap Ratih sembari senyum padaku.

Aku terdiam sejenak. Pandanganku dan pandangan Ratih bertemu. Wajahnya lembut menentramkan hatiku, matanya bagaikan sebutir berlian yang menyilaukan hati. Hatiku bergetar membawa wajahku mendekati wajahnya.

PRANKKKK….

Suara kaca pecah dari dalam rumah. Rahmat, ada apa dengan dia? Segera kuberlari masuk, khawatir akan terjadi hal yang buruk pada Rahmat.

Gelas pecah di samping ranjang tempat Rahmat tertidur. Ia menggeliat lemas dengan muka yang pucat hendak turun dari ranjang.

“Rahmat?” aku berlari menghampiri Rahmat. “Auww!” tak sengaja aku menginjak serpihan beling gelas yang pecah.

“Kak, Mamet mau sekolah. Mamet kesiangan.” Pinta Rahmat dengan tubuh yang lemas.

Ratih mendekati Rahmat dengan berjalan hati-hati, karena berserakannya serpihan beling.

“Rahmat, lihat kondisimu. Kamu harus istirahat.” Ucap Ratih menenangkan Rahmat.

“Mamet udah janji, sepulang sekolah ikut tambahan pelajaran untuk persiapan lomba.” Isak Rahmat memohon.

Sepertinya beling yang kuinjak telah menembus dalam telapak kaki. Aku merasa kesakitan.

“Mamet, tadi Kakak sudah minta izin pada gurumu. Hari ini lebih baik kamu istirahat.” Ucapku.

“Tapi, Kak..”

“Cukup! Met, kamu gak akan ikut lomba jika kondisimu masih sakit. Kalau kamu sudah sehat, Kakak izinkan.” Ucapku dengan tegas.

“Makanya, Rahmat istirahat dulu ya, biar cepat sembuh.” Lanjut Ratih sambil membelai pipi Rahmat.

Ratih, sungguh mulia hatinya. Aku merasa engkau adalah pilihan hidupku. Suatu saat aku akan melamar, karena aku jatuh cinta padamu.